Cari Blog Ini

Rabu, 10 Februari 2021

Menulis dari Kekuatan Silaturahmi

 

Menulis dari Kekutaan Silaturahmi


 

Pada malam hari ini, Selasa 8 Februari 2021dalam kegiatan public speaking for teacher akan mendapatkan ilmu dari Ibu Sri Sri Sugiastuti atau Bu Kanjeng. Bu Kanjeng mendapat kesempatan untuk berbagi kepada bapak ibu guru hebat dari Aceh hingga Papua yang sudah masuk ke dalam grup belajar berbicara bersama Om Jay dan PGRI. Alhamdulilah saat ini kita di berikan sehat sehingga  bisa mengikuti kegiatan dengan baik. Ini merupakan kesempatan yang langka karena apabila kita tidak sehat tidak mungkin kita akan bisa bergabung disini.

Pada tema yang diberikan pada malam hari ini panitia memberikan materi kepada narasumber sesuai dengan passionnya kalau bukan pada passionnyatidak mungkin di berikan. Jadi Insya Allah Bu Kanjeng akan memberikan materinya itu berkenaan dengan passion beliau yaitu sebagai bagian literasi. Ibu Kanjeng saya kenal mulai dari saya bergabung menulis di gelombang delapan dan sudah ikut bergabung dengan beliau dengan beberapa antologi.

Ibu Kanjeng sangat luar biasa mampu memberi inspirasi kepada guru-guru untuk menulis. Ibu Kanjeng memberikan tema menulis dengan kekuatan silaturahmi.Bu Kanjeng akan menyampaikan bagaimana beliau berproses atau menulis dengan kekuatan silaturahmi yang beliau miliki. karena temanya adalah Mengapa guru harus menulis?  itu Banyak sekali alasannya karena telah kita ketahui atau kita baca ada tuntutan juga di kurikulum 2013. Kemudian sejak tahun 2016 itu juga sudah mulai digerakkan adanya gerakan literasi nasional. Gerakan  nasional  tersebut merupakan rangkaian dari usaha pemerintah ketika melihat beberapa riset  atau beberapa temuan yang ada di lapangan yang sangat memprihatinkan karena Indonesia berada di peringkat nomor 4.

Alhamdulillah dengan adanya gerakan literasi nasional guru-guru itu mulai tergerak untuk bisa menulis. tahun 2007 atau 2009 masih sangat sulit untuk belajar menulis itu masih berbayar. Saat ini  pandemi banyak membawa berkah, guru  harus mengajar dari rumah atau BDR itu sehingga  guru dipaksa mereka untuk mau melek IT  dan kawan-kawan akhirnya bisa bergabung di kelompok belajar menulis bersama Om Jay.

Dari belajar menulis di beberapa gelombang semua tergantung niatnya masing-masing. Bu Kanjeng membagikan pada malam hari ini lebih kepada proses menjadi seorang penulis. Bu Kanjeng mengatakan bahwasanya beliau belajar nulis itu sudah sangat terlambat karena sudah menjelang 50 tahun tetapi menurut beliau bahwa Allah itu tidak tidur Allah itu mendengar doa-doa Umat-Nya. Sejak tahun 2007 Bu Kanjeng ambil  S2, kemudian 2019 jumpa dengan teman-teman hebat di Kompasiana kemudian mulai tertarik dengan dunia Internet dunia maya mengenal banyak Maestro mempunyai banyak teman dari situlah beliau belajar sehingga setiap ada kesempatan untuk meng-upgrade diri itu beliau lakukan, maka tidak heran bahwa ketika tahun 2013 itu Bu Kanjeng ketemu dengan Om Jay tepatnya bulan Desember dalam  kegiatan itu sudah bertemu dengan Ahmad Fuadi ada bertemu dengan Pak Dian Kelana dari beberapa tokoh penulis dan saat itu lebih cepat dikenal dengan karena kita bisa menulis blog keroyokan dan akhirnya saat ini pun kita juga mengenal banyak blog keroyokan.

Secara singkat mengapa beliau akhirnya bisa menjadi seorang penulis dan saat ini lebih banyak memberi motivasi kepada bapak ibu guru khususnya yang berada di dalam kegiatan belajar menulis bersama Om Jay. Mulai gelombang 1 hingga 16 dan Alhamdulillah banyak sekali alumni dari kelas yang dibuat itu sudah menjadi penulis penulis karena digandeng oleh penerbit Andi untuk bersama-sama menulis dan menjadi narasumber di kelas berikutnya.

 Ibu Kanjeng memberikan pengalamannya sebagai penanggung jawab dari lahirnya sebuah buku antologi. Secara kebetulan saat itu beliau memiliki banyak komunitas menulis dengan banyak harapan “Ayo menulis “Ayo kerjakan tugas dan kumpulkan nanti naskahnya akan dimasukkan ke Penerbit Mayor. kebetulan pengelola dari grup tersebut tidak bisa mengcover tulisan-tulisan yang sudah masuk . Akhirnya Bu Kanjeng Japri dengan salah satu anggota, namanya Ibu Mei dia betul-betul pejuang literasi tinggal di Garut yang bersedia untuk membantu sebagai editor.

Gayung bersambut sudah muncul suatu tantangan untuk menulis karena waktu itu di hari ibu terbuat judul buku dengan tema kasih sayang ibu judulnya “Muara Kasih  Ibu”. Ada sekitar 40 penulis tentu saja ceritanya sangat menarik karena kita tahu bahwa tokoh ibu itu tidak akan pernah habis untuk kita ceritakan untuk kita banggakan untuk kita kenal karena cintanya karena sayangnya karena perjuangan seorang ibu itu memang sangat luar biasa.

Pada akhirnya muncullah secara sederhana beliau mengajak membuat suatu panduan yang cukup panjang sudah dibuat beberapa poin termasuk bagaimana nanti profil penulisannya bagaimana temanya berapa panjang atau beberapa halaman. Tapi tetap saja ada kendala, karena kebudayaan atau budaya literasi kita itu masih sangat memprihatinkan editor itu cukup dibuat pusing tetapi itulah kenikmatan atau kepuasan dari seorang editor.

 Ketika suatu naskah yang istilahnya belum layak atau kaidah kaidah nya masih berantakan itu butuh perjuangan untuk seorang editor yang bisa dikatakan bahwa mereka itu adalah malaikat tanpa sayap yang bekerja dalam suny. apalagi ketika awal itu kita atau tidaknya itu saya dan beberapa rekan itu membuat suatu istilahnya before and after Bagaimana tulisan itu setelah itu bagaimana hasil setelah diedit atau setelah dibuka oleh beliau menjadi bacaan untuk dibaca atau dinikmati oleh para pembaca.

Berikutnya yang Bu Kanjeng anggap itu adalah sesuatu yang sangat menarik tahun cantik tahun 2020 angka kembar peminatnya itu cukup banyak kakak saya memberikan kita dengan judul go to twenty twenty yang bagaimana yang akan kita lakukan di tahun 2020. Peminatnya banyak lebih dari 75 buku dan akhirnya dibuatdua buku. Tahun 2020 merupakan refleksi bagaimana keadaan di tahun itu bagaimana penulis berproses ketika berproses itu tidak selamanya berjalan mulus pasti ada yang di lalui dengan tempat tinggal kita juga dengan  harapan semua bagaimana nanti itu tahun 2020 akan dilalui.

Tahun 2000 akhir 2019 itu Bu Kanjeng masih sempat jalan ke Padang untuk berbagi literasi dengan komunitas ke sana tempatnya itu di Dharmasraya yang lumayan jauh masih 6 jam dari bandara Padang tapi beliau nikmati perjalanan itu karena kekuatan silaturahmi yang di miliki. Om Jay harusnya dapat jatah 2 hari hanya bisa dilakukan satu  hari dan  harus kembali lagi ke Jakarta saat itu memang sedang gencar-gencarnya hampir tiap minggu Om Jay tidak ada dirumah tapi  keliling dari kota dan di luar kota itu bahkan luar pulau.

Kita semua punya rencana indah di tahun 2020 namun di negara Cina  mulai merebak adanya virus dan kita mengeira bahwa Indonesia tidak akan terkena virus tersebut karena masuk di daerah tropis   iklimnya, dari makanan dan kebiasaan yang dianggap bisa menolak virus atau mencegah datangnya virus ternyata tidak. Suka tidak suka segala kegiatan di hentikan.

Pertengahan Maret beliau dan komunitas jalan ke kupang  bersama Prof Wardiman bersama PGRI memberikan seminar dan mengikuti diklat untuk bapak ibu guru di sana. Setelah itu beliau dan Om Jay seakan kakinya terikat yang tidak lagi mengikuti kegiatan yang ada di luar kota ataupun  kegiatan secara luring. Rupanya keadaan itulah yang menggerakkan Om Jay dengan inisiatifnya dengan membuka kelas belajar menulis secara daring.

Belajar menulis  bersama Om Jay dan juga bukan kebetulan tapi merupakan kodratullah akhirnya Om Jay menggandeng Bu Kanjeng. Bu Kanjeng untuk memilih memberi motivasi karena  factor yang sudah usia 50 lebih tetapi masih bisa melakukan atau semangat untuk menulis. Seperti yang Om Jay  gembar-gemborkan untuk menulis  setiap hari maka akan mengetahui apa yang akan terjadi. Peserta alumni dari gelombang satu sampai 16 mereka yang mau belajar sungguh-sungguh tidak hanya berburu sertifikat mendapatkan banyak ilmu, mendapatkan pencerahan mereka seakan bangkit apalagi tuntutan itu akan terus-menerus.

Itulah sharing yang dibagikan Bu Kanjeng dengan rasa syukur dan juga rasa bangga dan berterima kasih sekali. Tarakhir beliau ucapkan terimakasih untuk  pikiran-pikiran yang ada dari para kurator yang andal. Diantaranya  Nur Habibah di Riau, Bu Rita dari Bali Pak Brian  yang sudah membuat judul buku, ada Bu   Ely Komang dan saat ini saya menggandeng Bu  jawahir dari kalimat. Kemudian ada juga Pak Suparno dari Makassar ada juga salah satu kegiatan literasi yang ada di Wonosobo bukan guru tapi seorang penyuluh.

 Itulah cara Bu  Kanjeng untuk mengajak dan menggandeng teman-teman untuk menulis. Rata-rata ada yang memang sudah biasa menulis ada yang belum Tapi karena memang mereka punya hobi menulis yang terpendam di dalam buku antologi sangat berwarna dan juga bisa membaca karakter tulisan dari para peserta yang mengikuti antalogi.

Mungkin ada yang bertanya terutama yang hanya berburu sertifikat. Apakah buku antalogi bisa di nilai kan ? itu berapa nilainya ? mereka tidak tahu bahwa sebetulnya menulis antalogi adalah jembatan untuk menuju ke penulisan tunggal atau juga untuk menambah wawasan sehingga kita akan mengetahui tulisan teman-teman kita tidak hanya melihat tulisan atau dari buku yang kita baca. Jadi mungkin dianggpnya antalogi itu nilainya hanya kecil  sehingga tidak mau menulis. Menulis Antologi adalah merupakan langkah awal bagi penulis pemula kmudian akan ketagihansehingga berhasil menulis buku solo.

 Alhamdulilah ilmu danpengalaman yang sangat menarik bagi kita pemula untuk bisa menulis dan menerbitkan buku sehingga dapat kita jadikan untuk sarana berbagi dan juga untuk bisa di gunakan untuk usul PAK dan akan mendapatkan nilai. Sungguh silaturahmi banyak manfaatnya kekuatan silaturahmi pun banyak mendatangkan manfaat dengan menulis dan berbagi. 

Salam sehat salam literasi.

 

Gunungkidul, 11 Februari 2021


4 komentar:

Benang Rindu

Benang Rindu Merah senja membawa kisah Pada sebait kata yang menggugah Jiwa meronta karena terpisah Bukan karena tak cinta namun...