Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label Kelas cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kelas cerpen. Tampilkan semua postingan

Selasa, 20 Juli 2021

Premis

*PREMIS*

Tahap awal dalam menyusun cerita adalah membuat premis. Namun, terkadang banyak penulis yang abai dengan tidak menulis premis, walau secara umum, mereka sudah memilik ide dasar untuk menciptakan cerita.
Premis berasal dari kata promise yang berarti sebuah janji.
Menurut KBBI Daring Edisi V, premis adalah apa yang dianggap benar sebagai landasan kesimpulan, dasar pemikiran, dan alasan. Sedangkan menurut salah satu editor storial, Wisnu S. Adji, premis merupakan langkah/teknik pertama saat akan mewujudkan ide cerita. Secara harfiah, premis dapat diartikan sebagai intisari cerita atau pembahasan dalam satu kalimat saja, sehingga dapat disimpulkan premis merupakan dasar pemikiran yang digunakan saat langkah awal untuk mewujudkan ide cerita dalam satu kalimat.
Premis memang tidak harus ditulis di buku atau kertas, tetapi bisa juga disimpan dalam memori otak. Namun, akan lebih baik, jika menulis premis di catatan mana saja bisa di atas kertas atau gawai, untuk meminimalkan perilaku manusia yang terkadang suka khilaf (lupa).
Penting gak sih dalam membuat premis?
Jawabannya sudah pasti sangat penting.

Lalu, apakah harus membuat premis? Ya, harus karena ada beberapa tujuan dalam pembuatan premis antara lain:
1. Premis sebagai elevator pitch
Elevator pitch dapat diartikan sebagai percakapan singkat untuk membuat brand atau produk penulis lebih dikenal dan dapat menarik perhatian orang yang ditargetkan, seperti klien atau investor. Maksud klien dan investor di sini adalah editor/penerbit, sedangkan brand atau produk adalah naskah si penulis.
Bayangkan, ketika sedang berada di dalam elevator, sebagai penulis, kamu bertemu editor dari penerbit ternama dan ingin menawarkan naskahmu dalam waktu yang singkat. Bagaimana caranya? Kamu hanya perlu menceritakan premis naskahmu. Ingat, cukup premis. Editor bisa langsung mengerti dan menangkap intisari naskah milikmu. Tentu saja premis tersebut harus padat dan jelas.
2. Premis mengantisipasi dari menulis yang mubazir
Dalam menulis, terkadang penulis kerap kali melebar ke mana-mana sehingga konflik yang ditulis melenceng jauh dari rencana sebelumnya. Dengan menulis premis di awal, hal tersebut dapat diantisipasi karena premis dapat berperan sebagai benang merah yang menghubungkan tulisan.
Coba bayangkan, jika kamu tidak menulis premis, kemudian alur ceritamu jadi berubah dan tidak memiliki tujuan yang jelas maka naskahmu akan menjadi berantakan, walaupun dapat disimpan kembali untuk dibentuk menjadi cerita yang baru.

3. Premis sebagai prediksi panjang-pendeknya naskah
Menulis cerita tidak dapat diprediksi akan menjadi berapa bab atau berapa ribu kata. Akan tetapi, dengan adanya premis, penulis dapat memprediksi apakah naskahnya dapat dikembangkan menjadi novel atau cerpen. Dalam hal ini, premis digunakan sebagai panduan dalam membuat outline atau kerangka naskah yang akan menuntun penulis agar menulis lebih rapi dan tersusun, sehingga tidak ada adegan yang terlalu melebar (tidak penting) dalam naskah.
Lalu, bagaimana cara membuat premis yang benar?
Menurut salah satu editor storial Wisnu S. Adji, rumus dalam membuat premis terdiri dari empat unsur, yaitu karakter, tujuan, hambatan/rintangan, dan resolusi. Dengan unsur-unsur tersebut, penulis juga bisa menentukan akhir dari cerita yang akan dibuat.
1. Karakter/Penokohan 
Manusia memiliki peran dengan karakter yang berbeda-beda di dalam kehidupannya atau kehidupan orang lain. Karakter atau penokohan di sini adalah siapakah yang berperan penting di dalam cerita yang akan dibuat oleh penulis?
2. Tujuan tokoh
Manusia hidup memiliki tujuan, begitu pun dengan para tokoh yang diciptakan oleh penulis. Secara tidak sadar, penulis pun memiliki tujuan yang ingin ia sampaikan lewat tulisannya.
3. Hambatan/Rintangan
Dalam hidup, Tuhan selalu menguji manusia dengan berbagai macam cobaan, entah yang mengalami sakit parah, kehilangan orang tua, atau bisnis yang bangkrut. Sama seperti tokoh yang penulis ciptakan, ketika para tokoh sudah memiliki tujuan tertentu, tokoh tersebut juga akan berhadapan dengan rintangan atau hambatan. Coba bayangin, deh, kalau hidup gak ada cobaan, pasti rasanya datar banget. Jangan sampai naskah kamu seperti ini, ya! Entah si tokoh yang diciptakan penulis dapat menyelesaikan rintangan tersebut atau tidak, tergantung dari si penulis itu sendiri. Tentunya ada konsekuensi yang akan dihadapi oleh si tokoh karangan, apabila tidak dapat menyelesaikan rintangan yang dibuat penulis.
4. Resolusi
Akhirnya bagaimana? Apakah berhasil sesuai dengan tujuan atau tidak? Dalam keadaan seperti apa? Bahagia atau justru menyedihkan?
Ingat. Si tokoh yang diciptakan penulis, pasti ingin kejelasan dalam kisahnya, dan penulis berhak atas akhir yang dipilih karena penulis adalah ‘tuhan’ dalam naskah yang ia buat.
Oleh karena itu, premis harus bisa dibuat menjadi satu kalimat singkat yang menggambarkan keseluruhan kejadian yang dialami tokoh, dengan rumus: nama karakter (karakterisasi dan inciting incident) ingin (tujuan tokoh) tapi (halangan tokoh) sehingga akhirnya (resolusi).
Contoh:
Anna (seorang anak kelas dua SMA dengan tiga orang adik, yang ditinggal mati oleh ayahnya karena serangan jantung) ingin (kuliah di fakultas kedokteran) tapi (tidak punya biaya karena ibunya sekarang menjadi ibu tunggal) sehingga akhirnya (menunda mendaftar di fakultas kedokteran untuk mencari uang, dan ia menyadari bahwa ia tetap bisa membantu orang dengan cara menjadi relawan di Yayasan Jantung Sehat).
Dari contoh di atas, langsung jelas, ‘kan, isi ceritanya tentang apa?

Jadi, sebelum kamu menulis, ada baiknya kamu membangun premis secara matang untuk menguji apakah cerita kamu memang punya tujuan dan tidak hanya akan tersesat ke mana-mana.
Setiap kali kamu bingung, cek kembali premis kamu, apakah tiap titik plot dan adegan yang kamu buat sudah searah dengan premisnya? Kalau tidak, bisa jadi kamu sedang berputar-putar saja.
###
Pertanyaan, 19 Juli 2021

Format
Nama | Pertanyaan

Yuk ...

1. Awaliyatun || dde masih bingung bedain premis sama outline

2. Senjapriany || Ka Apakah outline dan premis itu berbeda?

3. Suci ll Kak bedanya sinopsis sama premis itu apa kak? Soalnya masih susah untuk membedakan itu


Ini pertanyaan @⁨Senjamon⁩  Saya jawab ya. 

Premis itu landasan kesimpulan yang dijadikan alasan atau pemikiran. Premis adalah langkah awal dalam membuat kerangka. Premis sendiri adalah garis besar ide yang dijadikan pemikiran dalam membuat cerita. Formula Premis sebagai berikut 

(Nama tokoh dan karakter) + (Tujuan) + (Rintangan) + (Resolusi)

Nama tokoh dan karakter adalah sifat dari suatu tokoh yang menjadi pemeran utama dalam cerita. Selanjutnya adalah tujuan yang ingin dicapai oleh tokoh utama lalu konflik atau rintangan yang dihadapi tokoh agar membuat alur semakin menarik terakhir adalah resolusi atau penyelesaian dari suatu masalah yang dihadapi si tokoh utama.

contoh : 
Rika si anak cerewet dan pemberani ingin membasmi para koruptor di negeri ini tetapi dia tidak tahu harus berbuat apa karena usianya baru 15 tahun lalu keajaiban datang, Rika menemukan botol jin ajaib.
**
Premis itu ide cerita awal, sedangkan sinopsis adalah ringkasan isi naskah cerita yang menggambarkan isi dari suatu buku, film atau yang lain. Sinopsis ditulis dengan singkat, padat, jelas dan ringkas. Biasanya ketika kita ingin mengajukan naskah kepada penerbit maka penerbit tersebut meminta sinopsis dari naskah yang kita tulis.
Gunungkidul, 20 Juli 2021

Minggu, 18 Juli 2021

Plot Twist

Plot Twist
Minggu  ke-7 day 2 di kelas cerpen dapat materi yang sangat menarik dari Kak Ratna. Bersyukur di pertemuan kali ini aku masih bertahan untuk bisa mengikuti kegiatan dari kelas cerpen  juga kerjakan tugas-tugas di kelas cerpen. Tugas diberikan tiap minggu,  setelah menerima materi peserta di berikan tugas yang harus di selesaikan Jika tidak maka peserta akan mendapatkan surat peringatan. Setelah dapat surat peringatan namun tidak di indahkan maka admint akan mengeluarkan peserta setelah mendapatkan SP ke-3. 
Ternyata sampai dengan minggu ke-7  ini banyak peserta yang akhirnya tak dapat menyelesaikan tugas-tugasnya dan keluar dari grup. Dalam hal ini dibutuhkan niat yang tulus agar kita tetap bisa komitmen denga niat awal kita.
Berikut materi yang saya peroleh dari Kak Ratna.

 *Plot Twist*

Plot itu apa? Rangkaian alur cerita.
Kalau twist? Tak terduga. Bukan twister ya?
Walau terkesan didominasi untuk kepentingan film, video atau novel. Cerpen juga butuh kok, terutama untuk memikat pembaca.
Mengapa butuh? Rerata pembaca itu cara berpikirnya begini:
1. Tokoh protagonis (tokoh utama) adalah tokoh dengan karakter moral baik (bukan penjahatnya), mereka masih hidup (bukan hantu), sehat jasmani rohani (nggak gila atau punya teman khayalan), nggak punya kembaran, identitasnya asli sesuai yang ia katakan (nggak sedang menyamar), dan jujur dalam setiap perkataannya.

2. Dalam hal waktu, cerita dikisahkan dalam alur cerita yang linear (maju), bukan di masa lalu atau di masa depan, serta kronologis (urut).

3. Dalam hal setting, cerita bersetting dalam realitas, bukan halusinasi semata.

4. Dalam hal tokoh (bisa berlaku untuk tokoh selain protagonis): jenis kelamin mereka sesuai nama mereka, memiliki orientasi seksual yang normal, tidak berpura-pura menjadi orang lain, berkata jujur dan tidak menyimpan rahasia, tidak punya kelainan fisik (pakai kursi roda, buta, tuli) kecuali jika dijelaskan, atau sebaliknya memang memiliki kelainan fisik sesuai jalan cerita (tidak berpura-pura cacat), hanya manusia biasa (bukan vampir, alien, atau hantu), jika mereka diceritakan meninggal maka mereka benar-benar mati (nggak ternyata pura-pura mati dan ternyata masih hidup) dan lain-lain.
Nah, biar pembaca tidak bosan baca cerita kita maka dibutuhkan PLOT TWIST.

*Plot Twist Tokoh* 
Nah, dalam plot twist tokoh ini, yang dijadikan subjek plot twist adalah tokohnya. Contohnya bisa kita lihat dalam novel-novel detektif. Biasanya pelaku pembunuhan atau penjahat sesungguhnya ternyata adalah orang yang sama sekali nggak diduga.
Kalau dalam cerpen juga masih bisa digunakan, tak perlu terlalu detail. 
1. Pelaku adalah si “aku” atau tokoh utama
Plot twist ini memang tidak membosankan walaupun sering dipakai. 

2. Pelaku adalah tokoh yang penting bagi tokoh utama
Dalam plot twist ini, pelaku ternyata adalah tokoh yang penting, namun selain tokoh utama. Bisa jadi dia partner si tokoh utama, kekasih, istri, suami, pokoknya orang yang selama ini dipercaya oleh sang tokoh utama, atau malah berusaha dilindungi oleh tokoh utama. 

3. Pelaku adalah tokoh yang sekilas nggak penting (insignificant) bagi cerita
Plot twist ini adalah kebalikan dua nomor di atas. Jika di atas kita menjadikan karakter penting sebagai pembunuh, maka sebaliknya, di sini kita malah menggunakan karakter yang keliatannya sepele sehingga nggak akan diperhitungkan oleh pembaca. 

4. Pelaku adalah tokoh yang emang seharusnya ada di cerita tersebut
Polisi, detektif, dokter, sipir penjara, hakim adalah orang-orang yang memang mesti ada dalam suatu cerita detektif, maka lumrah jika kita menganggap mereka sebagai figuran yang bakal membantu kerja sang tokoh utama dalam memecahkan misteri. Namun, bagaimana jika ternyata salah satu aparat itulah pelakunya? Plot twist kayak gini pernah gue baca di salah satu novel Agatha Christie, film Detective Conan “Captured in Her Eyes”, dan film “General’s Daughter” yang dibintangi John Travolta. Plot twist jenis ini hampir selalu mengejutkan, sebab pembaca secara naluriah akan mempercayai para penegak hukum tersebut.

5. Pelaku adalah orang yang nggak mungkin melakukannya
Yup ... beberapa kondisi di bawah ini akan langsung membuat para pembaca mencoret para tokoh ini dari daftar tersangka. Sehingga, ketika terkuak bahwa dia pembunuhnya, pasti akan membuat shock para pembaca. Berikut ini beberapa alasannya.
a. Pelaku memiliki keterbatasan fisik
Dalam plot twist ini pelakunya ternyata berpura-pura memiliki keterbatasan fisik, semisal buta, duduk di kursi roda, nenek-nenek, atau bahkan hanya anak kecil. Film dengan plot twist semacam ini contohnya “Identity” dan “Orphan” serta novel misteri "Name of The Rose" karya Umberto Uco.
b. Pelaku adalah korban yang (dikira) sudah meninggal
Nggak akan ada yang mencurigai orang yang sudah mati sebagai pelaku pembunuhan bukan? Plot twist ini sering kok dipakai dalam film pembunuhan, contohnya "Scream 3" dimana si pelaku ternyata berpura-pura mati. Teknik ini juga dipakai dalam novel legendaris karya Agatha Christie “And Then There Were None”.
c. Pelaku adalah orang yang memiliki alibi sempurna
“Lho nggak mungkin dia pelakunya? Kan selama ini dia bareng tokoh utamanya terus?” mungkin kalian pernah baca cerita atau liat film yang endingnya kayak gitu. Ternyata si pelaku punya trik untuk menciptakan alibi bagi dirinya sendiri, kayak semisal pembunuhnya ternyata ada dua. Plot twist kayak gini sering dipakai di Detective Conan dan Kindaichi.

*Plot Twist Identitas*
Plot Twist ini hampir ini mirip plot twist tokoh namun lebih dalam. Bukan hanya membuka tabir “siapa si pelaku” namun juga “jati diri si pelaku ini sesungguhnya”. Lihat aja semisal film “Shutter”, “Fight Club”, “Sixth Sense”, “The Others” dan “Before I Go To Sleep”, hingga “Oldboy”  yang semuanya menjelaskan identitas si tokoh utama (atau tokoh lainnya) ternyata tak seperti yang diduga pemirsa selama ini. Si tokoh utama ternyata hantu. Si tokoh utama ternyata punya teman khayalan. Si tokoh utama ternyata penghuni rumah sakit jiwa. Kakak perempuan si tokoh utama ternyata adalah ibunya sendiri. Pacar tokoh utama ternyata selama ini adalah anak kandungnya sendiri. Itu semua adalah contoh yang gue sebut plot twist identitas.

Teknik ini berbeda dengan “unreliable narrator” sebab jika di teknik “unreliable narrator” tokoh “aku” memang sengaja membohongi pembaca. Sedangkan pada teknik ini, bisa dibilang si “aku” sama sekali tak menyadarinya dan terungkapnya identitasnya yang sebenarnya juga akan mengejutkan si tokoh “aku” ini. Plot twist ini juga bisa berupa rahasia yang selama ini disembunyikan dari si tokoh utama. Teknik ini ada bahasa kerennya, yakni “anagnorisis”.

*Plot Twist Motif*
Plot twist semacam ini diliat mulai berkembang di film horor Korea. Film-film ini mungkin nggak terlalu mengandalkan konsep whodunnit sebab identitas pelakunya sudah jelas. Namun, motif yang melatarbelakangi si pelaku-lah yang menjadi plot twist dan mengejutkan pemirsa saat diuraikan di adegan klimaks/endingnya. Salah satu film yang menggunakan plot twist ini adalah sebuah film Korea “Don’t Click” yang menceritakan video kutukan yang membunuh siapapun yang melihatnya. Di ending ternyata diceritakan bahwa si hantu ini ternyata membunuh bukan tanpa alasan, namun karena si tokoh utama cerita itu dulu kerap membully dia semasa hidup hingga ia bunuh diri.
*Plot Twist Setting*
Nah, plot twist setting tidak menggantungkan diri pada karakter, melainkan setting, bisa berupa "waktu" dan "tempat". “Plot twist lokasi” semisal bisa diliat pada “Planet of The Apes” di mana seorang astronot terdampar di sebuah planet yang dikuasai monyet. Kemudian pada endingnya ia menyadari jika sebenarnya ia selama ini terdampar di bumi masa depan.

“Plot twist waktu” menceritakan dua kejadian yang seakan-akan linear (terjadi di waktu yang sama), namun ternyata salah satunya terjadi di waktu yang lampau. Semisal “Detective 2” yang dibintangi Aaron Kwok, diceritakan ia menangani kasus pembunuhan dan ada adegan lain di mana diperlihatkan si pembunuh adalah seorang anak SMP. Otomatis para pemirsa mengira penyelidikan Aaron Kwok sia-sia sebab tak satupun tersangka yang ia selidiki adalah anak SMP. Namun, yang pemirsa tidak tahu, ternyata adegan kedua itu adalah flashback dan si pemuda SMP ini ternyata sudah tumbuh besar.

Plot twist waktu yang lebih sederhana contohnya pada film “The Village” dimana sekilas film bersetting di masa lampau. Namun, di ending film terkuak bahwa film tersebut bersetting pada masa yang sama sekali berbeda. 

Setting waktu nggak hanya bisa dimanfaatkan sebagai plot twist, tetapi juga bisa diutak-atik untuk menciptakan plot twist itu sendiri. Lihat saja “Memento” yang ternyata alur waktunya dibalik, diawali oleh ending film dan diakhiri oleh adegan yang seharusnya menjadi awal film. Dengan begini, pembaca akan bingung sebab ada banyak informasi yang dirahasiakan, untuk kemudian terkuak satu demi satu melalui flashback. Teknik semacam ini disebut “in medias res”, sebab permulaan cerita “digeser”, entah ke tengah atau malah akhir cerita.

*Plot Twist Alur*
Plot twist ini menurut ku sangat brilian, namun cuman sedikit cerita yang mengeksplorasinya. Plot twist ini mengandalkan alur dan hubungan antarkarakter, di mana subplot cerita yang berbeda ataupun tokoh-tokoh yang sekilas tidak berhubungan ternyata pada akhir cerita diceritakan memiliki takdir yang saling terkait. 

Contoh jelas dari penggunaan plot twist ini adalah ending di sebuah film Hong Kong berjudul “Beast Stalker” dimana seorang polisi berusaha menyelamatkan seorang gadis cilik yang diculik. Si polisi dan penculik yang tidak saling mengenal rupanya “terhubung” oleh sebuah kejadian di masa lalu mereka. 

Selain plot twist di atas, sebenarnya masih ada banyak sih jenis-jenis plot twist lain. Kalau mau memperbanyak perbendaharaan plot twist kalian, silakan banyak-banyakin baca novel atau liat film yang ada plot twistnya.

Setelah menentukan apa plot twist apa yang akan kalian gunakan untuk mengecoh pembaca, tugas kalian belumlah selesai. Ada dua teknik yang bisa dibilang harus kalian terapin biar plot twist kalian nggak sia-sia. Dua teknik itu adalah red herring dan foreshadowing.

 *Red Herring*
Setelah kita menentukan plot twist, langkah berikutnya adalah menebarkan “red herring” untuk mengalihkan kecurigaan para pembaca dari pelaku/twist yang sebenarnya. Apa sih red herring itu?

Red herring bahasa politiknya adalah pengalihan isu, jadi tugasnya adalah mengalihkan perhatian pembaca agar ia konsen ke petunjuk palsu dan mengabaikan petunjuk yang asli. Contoh red herring adalah dengan membuat tersangka palsu atau tokoh antagonis semu. Contohnya nih, di sebuah novel ada seorang tokoh antagonis yang nyebelin banget, pokoknya kalo liat dia kita jadi kepengen mutilasi dia terus potongan-potongan tubuhnya kita buang ke tempat sampah biar dimakan anjing jadi kebawa perasaan hehe. Otomatis kecurigaan pembaca akan tertuju pada dia. Namun, kemudian terkuak identitas asli sang tokoh antagonis sesungguhnya yang ternyata adalah tokoh yang selama ini dianggap alim dan pendiam.

*Foreshadowing*
Salah satu cara untuk membuat suatu plot twist tidak mengecewakan pembaca dan tidak membuat mereka merasa “tertipu mentah-mentah” adalah “foreshadowing”. Teknik ini benar-benar berkebalikan dengan red herring sebab di sini justru kalian memberikan clue untuk menyingkap plot twist yang akan kalian sajikan.

Dalam membuat plot twist, sebenarnya  jangan benar-benar menyembunyikan plot twist ini dari pembaca, namun  malah harus memberikan “petunjuk-petunjuk samar”. Biasanya ini bermanfaat ketika plot twist terkuak, kemudian ada adegan flashback ke petunjuk samar yang pernah diberikan itu. Maka, pembaca akan berpikir, “Ooooh iya, kok aku nggak kepikiran sampai ke situ ya, padahal udah ada petunjuknya.” Anggap aja foreshadowing ini sejenis remah-remah roti (breadcumbs) yang ditinggalkan Hansel dan Gretel sebagai jejak mereka saat menyusuri hutan biar nggak kesasar.

Foreshadowing ini akan membuat plot twist  sangat logis, sehingga pembaca akan merasa “terkecoh” dan merasa memang salahnya sendiri kurang teliti dalam memahami petunjuk. Jika tak ada “foreshadowing” ini, plot twist yang di bikin akan terkesan “dibuat-buat dan dipaksakan”. Namun petunjuk yang akan di-foreshadowing ini jangan juga terlalu kentara, nanti plot twistnya dapat dengan mudah tertebak. Well, langkah untuk menyembunyikan petunjuk penting ini bisa dengan mengaburkannya bersama red herring.

Contoh foreshadowing ini semisal di salah satu episode “Sherlock”-nya Benedict Cumberbatch yang menceritakan anjing-anjing raksasa Hound of Baskerville. Di awal diceritakan oleh salah satu figuran bahwa Baskerville pernah digunakan menjadi medan percobaan gas kimia oleh militer. Fakta tersebut kemudian dilupakan oleh pemirsanya hingga kemudian terungkap bahwa anjing-anjing raksasa yang mereka lihat sebenarnya hasil halusinasi akibat sejenis gas kimia. Maka pemirsa langsung ingat “foreshadowing” yang diberikan di depan tadi dan membenarkan plot twist tadi.

Dari semua uraian di atas, sebenarnya ada satu trik sederhana yang menurut ku ampuh dalam membuat plot twist, yakni “rahasia”. Yup, bikin saja tokoh utama atau tokoh lainnya menyimpan sebuah rahasia, yang ketika terungkap, itulah plot twist yang selama ini kalian simpan untuk mengejutkan para pembaca. Tapi tetep jangan lupa teknik “red herring” dan “foreshadowing” di atas tadi.

Dari semua uraian di atas, sebenarnya ada satu trik sederhana yang menurut ku ampuh dalam membuat plot twist, yakni “rahasia”. Yup, bikin saja tokoh utama atau tokoh lainnya menyimpan sebuah rahasia, yang ketika terungkap, itulah plot twist yang selama ini kalian simpan untuk mengejutkan para pembaca. Tapi tetep jangan lupa teknik “red herring” dan “foreshadowing” di atas tadi.

Masih bingung? Yuk, intip contoh dan tipsnya. Biar cerpen kita bervariatif.
Tips:
1. Hapus atau sederhanakan apa pun yang tidak berpengaruh ke cerita, misal: Assalamualaykum, Waalaykummussalam. Makan apa? (Dialog sederhana)
2. Plot twist bukan satu-satunya membuat cerita menarik. Ini hanya "salah satu cerita."
3. Jangan terlalu fokus ke twist malah membuat cerita aneh. Misal, timbangan bisa bicara dan lain-lain.

*Contoh Plot Twist*

*Sebuah Pertemuan*

"Menunggu seseorang?" tanya seorang wanita dengan rambut sebahu lengkap dengan jaket kerah tingginya.
Aku yang sedari tadi berteduh di depan teras toko bergeser.
"Begitulah ... anak. Aku menunggu anakku. Kalau Anda, ehm maaf siapa?"
"Mona." Wanita yang berpakaian menarik, beda denganku yang hanya mengenakan jaket cokelat dan baju lusuh itu mengulurkan tangan. 
"Dian." Tangannya terasa lembut saat kami bersentuhan. "Apakah Mbak Mona juga menunggu seseorang?" 
"Tidak. Hanya kebetulan kehujanan."
Cuaca malam minggu ini, tak bersahabat. Hujan sedari tadi mengguyur kota tiada henti. Kalau bukan karena menunggu Andi--anakku--yang diantar oleh ayahnya yang juga mantan suamiku. Aku tak akan rela berdiri dalam cuaca dingin seperti ini.
"Anaknya sekolah? Kok sampai malam. Ini sudah hampir jam sembilan."
Perkataan Mona membuyarkan lamunan. Sekali lagi kuamati, dia terlihat bersahaja dan berperilaku sopan. Bukan orang jahat tentunya. Saat senyum manisnya, menghangatkan suasana. Mulut ini tak kuasa untuk bercerita. Bagaimana cerita pernikahanku yang sudah berjalan selama lima tahun harus kandas karena orang ketiga.
"Mbak tidak tahu orangnya?"
Aku menggeleng, terlalu menyakitkan untuk mengingat kenangan yang telah lalu.
"Sebaiknya Mbak memulai hidup baru. Menunggu yang tidak pasti itu sangat menyakitkan."
Perkataan Mona menggetarkan hati. Ia seraya mengalaminya juga. Aku jadi terharu. Benarlah kalau hati wanita hanya wanita yang mampu menyelaminya.
Ah, tanpa terasa waktu mengalir seiring derasnya arus di jalan raya depan toko. Wanita itu berpamitan, tak lama berselang terdengar panggilan ibu dari taman di samping toko. Anakku berdiri digendong seorang lelaki tegap, berjas hujan warna hitam. Wajahnya tak terlalu terlihat, tetapi dari jalannya aku tahu dia bukan Mas Tito, mantan suamiku. Dia pasti Mang Tono, sopir keluarganya.
"Ke mana Bapak, Mang?" Pertanyaanku kabur terbawa angin, entah Mang Tono dengar atau tidak.
Dalam jarak sejengkal, di bawah kanopi yang mulai basah terkena air hujan yang terbawa angin Andi segera memelukku. Ia tak memberi jeda sedikit pun.
"Aku rindu Ibu," ucapnya yang disertai senyum hormat Mang Tono dari balik bahu Andi.
"Bapak sibuk jadi hanya saya yang mengantar." 
Setelahhnya, Mang Tono berbasa-basi dan berpamitan. Ia menyalamiku dengan hormat sembari menyelipkan sesuatu, sebuah kertas.

Tanpa menunggu, kuturunkan Andi. Badannya yang gempal cukup membuat tangan pegal. Setelah melenturkan tangan dan Mang Tono telah hilang dari pandangan, kubuka kertas yang notabene dari Mas Tito.
(Dian, maaf selama lima tahun bersama aku tak mampu jujur. Kali ini aku tak mau berbohong lagi. Ada orang ketiga di antara kita. Perpisahan sebulan lalu, kuambil karena dia. Bersama surat ini, sebenarnya aku datang. Namun, Mona melarangku untuk menemuimu. Dia ingin berbicara berdua denganmu. Maaf, bukan karena mencintai orang lain tetapi karena tak mampu menatapmu secara langsung.)

Salam Perdamaian Tito

Materi yang cukup menarik agar ceroen yang kita buat lebih variatif, sudah di sajikan contoh juga. Bismilah tinggal praktek untuk membuat ceroen dengan menggunakan plot twist ini. 
Demikan materi dati Kak Ratna semoga bermanfaat.
Terimakasih, salam sehat, salam literadi tetap semangat.
Gunungkidul, 19 Juli 2021


Jumat, 09 Juli 2021

Petty Sayang Nenek

 

#Tugas_Keenam

#Kelas_Cerpen

#WCS_70_Atik Suripto

Tema : Bahagia

Genre Fantasi

Jumlah Kata : 497

Petty Sayang Nenek




Petty gadis berusia  enam tahun. Ia  adalah anak yang sangat rajin.  Petty seorang yatim piatu. Ia hidup bersama neneknya.  Di sekitar gubuk mereka terdapat pohon yang rindang dan juga aliran sungai yang jernih. Untuk menyambung hidup  neneknya berjualan sayuran  di pasar setiap pagi hari.  Nenek pulang kerumah setelah hari menjelang siang. Perjalanan nenek dari rumah ke pasar membutuhkan waktu beberapa  jam. Hingga Petty berkeinginan untuk bisa buat neneknya sekejab sampai pasar tak perlu jalan berlama-lama.

Selama neneknya ke pasar Petty selalu di rumah hanya ditemani seekor kucing yang nenek dapatkan saat pulang dari pasar. Petty merasa terhibur dengan kucing itu. Si Belang, itulah nama yang diberikan Petty untuk kucingnya. Si belang memiliki bulu yang sangat lembut. Warna  hitam dan putih menambah manis kucing itu.

Petty sangat menyayangi kucingnya, setiap hari selalu diberi makan. Setelah pekerjaan rumah Petty selesai Petty bermain-main dangan “Si Belang”. Begitu asiknya bermain sampai kelelahan dan akhirnya tertidur.

“Belang kamu jemput Nenek, ya. Kasihan Nenek,”perintah Petty. Si Belang dengan sigap segera menuruti perintah majikannya. Tak ingin melihat Neneknya terlalu capek, maka dibuatnyalah Belang seperti seekor keledai agar mampu membawa Neneknya kemanapun Nenek pergi hingga nanti Nenek tak merasakan capek berjalan.

“Assalamu’alaikum Petty, Nenek datang, Nak,”sapa nenek.

“Wa’alaikumsalam Nek, Nenek sudah sampai. Tadi Si Belang jemput Nenek tepat waktu kan, Nek? Tanya Petty sambil berjalan menghampiri Nenek dan mengambil barang bawaan Neneknya.

“Iya,  Nak. Belang jemputnya tepat waktu jadi nenek sampai di rumah dengan cepat.

“Terimakasih Belang sayang, kamu selalu bantu aku dan Nenek,”kata Petty sambil mengelus-elus bulu Si Belang yang lembut.

“Mioong, mioong,” jawab Belang seperti paham dengan apa yang diucapkan Petty.

Sesampainya Nenek di rumah dan beristirahat sebentar, Petty mengajak Nenek dan Belang untuk bermain-main di kebun penuh buah dan bunga. Petty bernyanyi-nyanyi bahagia diikuti Nenek dan Belang. Bunga-bunga bermekaran membuat kupu-kupu tertarik untuk hinggap menghisap madunya. Setelah bernyanyi dan berlari-lari kecil Petty memetik buah dan makan bersama Nenek dan juga Belang.

Sore yang indah, Petty puas bermain bersama Nenek. Petty senang bisa membuat Neneknya tersenyum bahagia.

“Ayo, Nek kita makan buah ini. Enak, Nek. Segar sekali.” Petty mengajak neneknya sambil berjalan mengambil pisau untuk membuka buah semangka yang merah segar. Tiba-tiba Petty terjatuh.

“Neeeeek…. , Patty berteriak sekuat tenaga. Napasnya senin kamis Air mata Petty pun terurai. Namun ajaib ular itu berubah warna. Patty terbangun dari tidurnya, dan ia dapati Neneknya dan juga Belang di sampingnya.

“Bangun, Petty. Kamu mimpi apa Nak? Nenek mendekat dan memeluk cucunya.

“Nek, Nenek sudah pulang? Maafin Petty ya, Nek. Patty hanya mimpi ya, Nek? tanya Petty sambil keheranan dan bangkit untuk duduk.

“Kamu mimpi apa, Nak? Tidak apa-apa, Nak. Kamu pasti lelah setelah bereskan pekerjaan rumah yang belum sempat Nenek bereskan,” ucap nenek.

Setelah usai makan siang, Nenek dan Petty istrahat. Hingga menjelang sore hari mereka pergi ke kebun memetik sayuran yang akan Nenek jual ke pasar esok hari. Itulah kegiatan setiap hari yang Petty lakukan bersama nenek. Di usianya yang masih belia Petty sudah mampu melakukan pekerjaan selayaknya orang dewasa lakukan. 


Gunungkidul, 9 Juli 2021

Selasa, 06 Juli 2021

Tanda Baca

Tanda Baca

Pada minggu ke-Enam malam kedua di kelas cerpen mendapatkan materi dari Bunda Epida. pada malam kedua kita mendapatkan materi mengenai tanda baca. Berikut materi dari beliau.

*Tanda Baca*

Sebuah kalimat tidak akan lengkap jika tidak disisipkan tanda baca. Tanda baca ini ada beragam dan berupa simbol-simbol tertentu. Setiap tanda baca yang kita temui memiliki makna yang berbeda-beda, tentu saja penempatannya juga akan berbeda juga. Tanda baca ini nantinya akan memberikan penegasan, menentukan bagaimana intonasi pembacaan serta menentukan informasi yang dimilikinya.

*Tanda Koma*

Tanda koma memiliki fungsi dan disesuaikan dengan letaknya dalam sebuah kalimat, seperti:
Menjadi sebuah pemisah antara isian kalimat satu dengan kalimat lainnya. Biasanya digunakan di dalam pembilangan atau perincian tertentu. Menjadi pemisah antara induk kalimat dan anak kalimat sehingga pembaca bisa membedakannya. Digunakan setelah penggunaan kata penghubung. Bisa dilakukan di tengah, awal maupun pada bagian akhir kalimat tersebut. Menjadi pemisah kata yang akan dipisahkan akibat intonasi tersendiri.
 Penggunaannya untuk menunjukkan nama, tempat, alamat, tanggal, nama wilayah maupun nama Negara. Menjadi pembatas atas nama pengarang sebuah buku, penemu jurnal ilmiah yang biasanya digunakan dalam sebuah daftar pustaka. Menjadi bagian pemisah yang akan membedakan gelar, nama maupun marga tertentu. Digunakan untuk menambahkan beragam keterangan tertentu terkait kalimat yang ditulis oleh sang penulis.

*Contoh Pemakaian Tanda Koma*

Beberapa contoh pemakaian dari tanda koma ini adalah:
* Pada sore itu, Ayah pamit mengantar paman ke stasiun. Wabah bencana sedang banyak dialami oleh warga sekitar, oleh karena itu, kita wajib lebih waspada. Hasil dari penjumlahan matematikan ini adalah 0,95. Ibu membutuhkan tepung terigu sebanyak 0,4 Kg. Cantika akhirnya harus pergi ke sekolah, sebab dirinya harus mengikuti ujian susulan

*Tanda  Apostrof (Penyingkat)*

Tanda apostrof disebut juga dengan tanda penyingkat. Menurut Oxford English Dictionary, kata apostrof berasal dari bahasa Yunani  hē apóstrophos [prosōidía], yang artinya peniadaan bunyi dalam ucapan.

Menurut EYD (Ejaan Yang Disempurnakan), tanda apostrof merupakan tanda baca yang menggunakan alfabet latin (tertentu) dengan menunjukkan penghilangan bagian kata atau bagian angka tahun. Tanda apostrof disimbolkan dengan (‘) yaitu penutup tanda petik tunggal dan juga dengan simbol prima, meskipun memiliki fungsi yang berbeda.

Penggunaan Tanda Apostrof (Penyingkat)

Penggunaan tanda apostrof menurut EYD (Ejaan Yang Disempurnakan), diantaranya :
1. Sebagai Penghilangan bagian kata
Contoh :
Senja ‘lah datang. (‘lah = telah)
Ibu ‘kan kukabari. (‘kan = akan)
Ayah ‘lum juga kembali. (‘lum=belum)
2. Sebagai Penghilangan bagian Tahun
Contoh :
11 Juli ’66 (’66 = 1966)
September ’08 (’08 = 2008)
Pembukaan UUD ’45 (’45 = 1945)

Apostrof itu tidak ada dalam kata baku.

Dari pengertiannya yang menghilangkan kata atau angka, 

telah (baku) ==> 'tlah
akan (baku) ==> 'kan

*Bukan kan masuk baku*

Semisal:
Belum menjadi 'blum juga tak apa. 

Setelah ==> 'stlah 
Semakin ==> 'makin/ 'smakin

Itu juga masih masuk apoftrof, dan masih banyak lagi.

Apoftrof tidak bisa masuk bahasa resmi. Biasanya bahasa informal misal dialog atau bahasa seni.

Demikian materi pada malam hari ini semoga bermanfaat. Salam sehat, salam literasi tetap semangat dan terus berkarya. 

Gunungkidul, 7 Juli 2021

Jumat, 02 Juli 2021

Misteri Kamar Hotel

 

Misteri Kamar Hotel

 


Langit jingga menemani perjalananku waktu itu. Satu rombongan dengan bis pariwisata berangkat dari Jakarta menuju kota Malang untuk study banding ke Sekolah Menengah Atas Kristen di Malang, Jawa Timur. Perjalanan membutuhkan waktu 12 jam. Melalui jalur tol Trans-Jawa. Jakarta Malang melalui tol Jakarta - Cikampek hingga tol Mojokerto- Surabaya. Tujuan utamanya di kawasan Bromo, Malang dan jembatan Sura  Madu.

Rombongan sampai dan menginap di   hotel Nirwana Malang. Lelah perjalanan hilang tatkala  udara sejuk  menyambut kedatangan kami. Hotelnya  yang akan kami gunakan untuk menginap malam itu begitu besar  serta   sangat nyaman. Di sekitar hotel itu penuh ditanami dengan pohon apel.  Bagi pengunjung yang menginap di perbolehkan memetik dan langsung makan buah apel tersebut di kebun itu.

Pada malam pertama menginap di hotel tersebut, semua bisa tertidur dan melepas lelah setelah siangnya ada kegiatan kunjungan ke sekolah terdekat di Malang. Rombongan dari sekolah kami menginap di hotel Nirwana selama tiga hari. Pada saat malam terakhir kami menginap di sana, di saat kita sedang istrahat dan tidur di kamar masing-masing tiba-tiba terdengar suara ibu dari lantai satu yang teriak-teriak minta tolong dari kamar tempat menginap.

“ Tolong, tolong…!”  Suara teriakan kami dengar dengan jelas.

“ Kamu dengar suara itu Dit ? Tanyaku pada temanku yang sekamar denganku.

“Iya, dengar, ayo kita kesana !”. Sambil berlari kami datangi suara dari kamar  lantai satu. Sesampainya di kamar itu aku lihat pintu sudah terbuka dan aku jumpai seorang  ibu dengan kondisi lemas dan raut muka ketakutan yang teramat.

“ Ada apa bu?, tanyaku sambil aku bantu ibu itu untuk bangkit. Beberapa menit kemudian, saat  kondisi ibu lebih tenang ibu pun menceritakan apa yang ia alami.

“ Itu Pak, tadi aku lihat sosok manusia tanpa kepala yang berlumuran darah disaana”, jawabnya dengan muka masih di tutup kedua tangannya.

“Tenang bu, ibu tenang ya!” aku berusaha menenangkannya. Aku dan temanku perhatikan di sekiling ruangn itu. Namun kami tak melihat apapun.  

Aku ambilkan minum, alhmadulilah ibu sudah lebih tenang. Aku dan juga temanku masih tetap temani ibu itu sambil berbincang, karena terdengar gaduh ada salah seorang pegawai hotel datang dan  mengatakan berapa bulan yang lalu ternyata terjadi pembunuhan di kamar sebelah  pas yang tempat ibu  tersebut menginap. Akhirnya kami tahu hal sebenarnya peritiwa yang terjadi beberapa waktu silam.

Waktu sudah menunjukkan pukul 02.15 WIB. Saat itu juga ibu tidak berani lagi untuk istirahat di kamar tersebut akhirnya pihak hotel memberikan kamar lain untuk di tempatinya. Sepertinya ibu masih ketakutan. Kami pun membantunya untuk pindah ke kamar yang telah di sediakan pihak hotel, setelah rapi kami  kembali ke kamar.

Dari kejadian tersebut ternyata memang benar adanya kematian seseorang akibat dari kejahatan maka arwahnya tidak akan bisa tenang. Untuk menjaga hal-hal yang tidak kita inginkan kita harus selalu hati-hati agar mampu menjaga hati dan pikiran untuk selalu berpikir positif dan berusaha selalu dekat dengan Allah sang  pemilik alam semesta. Makhluk di alam ini tidak hanya di tempati manusia saja melainkan ada mahkluk goib lain. Agar bisa saling berdampingan maka tak selayaknyalah kita mengganggu keberadaanya.

Gunungkidul, 2 Juli 2021

Selasa, 25 Mei 2021

Mengenal Cerpen


*MENGENAL CERITA PENDEK (CERPEN)*
Alhamdulilah bersyukur atas segala rahmatNya, Allah telah berikan nikmat sehat dan kesempatan hingga malam ini aku masih bisa mengikuti  writer class school, walau diawal aku merasa minder karena peserta di class ini adalah peserta muda-muda yang kebanyakan masih usia SMA. Semangat belajar telah mengalahkan segala rasa minderku,  walau di usia hampir kepala empat aku tetap mengikuti class ini. Berharap di class ini aku mendapatkan ilmu yang bermanfaat untuk mencapai apa yang aku impikan.  Inilah mateti pada malam ini yaitu mengenal cerpen. 

Menulis cerpen sama halnya dengan menulis cerita pada umumnya, hanya saja ada beberapa penekanan dalam gaya tulisnya, termasuk penekanan narasinya. Pasti kalian sudah bisa menjabarkan apa itu *CERPEN*.

Cerita Pendek atau cerpen merupakan karangan pendek yang berbentuk prosa naratif fiktif yang dapat dibaca sekali duduk. Jumlah kata di dalam cerpen relatif sedikit, dengan maksimal 10.000 kata atau kurang dari 10 halaman. 
Cerpen memuat tentang kisah hidup manusia yang diceritakan secara ringkas, cenderung padat, dan langsung pada tujuannya.
Isi cerpen umumnya hanya mengisahkan satu permasalahan yang dialami oleh satu tokoh pada situasi tertentu yang penuh konflik, peristiwa, dan pengalaman.

=> *Ciri-Ciri Cerpen* :

1. Jalan ceritanya lebih pendek dari novel
2. Sebuah cerpen memiliki jumlah kata yang tidak lebih dari 10.000 (10 ribu) kata
3. Biasanya isi cerita cerpen berasal dari kehidupan sehari-hari
4. Tidak menggambarkan semua kisah para tokohnya, hal ini karena dalam cerpen yang digambarkan hanyalah inti sarinya saja.
5. Tokoh yang ada dalam cerpen digambarkan mengalami masalah atau suatu konflik hingga pada tahap penyelesainnya.
6. Memakai kata yang sederhana serta ekonomis dan mudah dikenal pembaca.
7. Kesan yang ditinggalkan dari cerpen tersebut sangat mendalam sehingga pembaca dapat ikut merasakan kisah dari cerita tersebut.
8. Biasanya hanya 1 kejadian saja yang diceritakan.
9. Memiliki alur cerita tunggal dan lurus.
10. Penokohan cerpen sangatlah sederhana, tidak mendalam serta singkat.

=> *Kerangka Struktur Cerita Pendek*

Terdapat 6 (enam) elemen yang membangun suatu cerpen, atau lebih sepesifiknya dikenal dengan struktur cerpen yakni: 
1. Abstrak
Abstrak itu sendiri ialah elemen pertama yang harus berada dalam suatu cerpen. Abstrak sendiri merupakan gambaran yang mengawali suatu cerita dan mempunyai sifat yang opsional.
2. Orientasi
Orientasi mempunyai hubungan dengan waktu, suasana, tempat yang ada pada cerita pendek tersebut. Hal ini lah yang membuat sebuah cerpen semakin menarik karna menggunakan latar belakang yang menarik.
3. Komplikasi
Komplikasi ialah sebuah gambaran bagaimana urutan suatu kejadian yang bisa dihubungkan, dengan bagaimana sebab dan akibat cerita itu dengan karakter dan tokoh yang biasanya terlihat di struktur cerita pendek yang satu ini.
4. Evaluasi
Evaluasi ialah sebuah konflik yang terjadi dan menuju pada sebuah klimaks. Disinilah mulai didapatkan bagaimana penyelesaian dari masalah yang ada pada jalannya cerita cerpen tersebut.
5. Resolusi
Pada bagian elemen ini, pengarang mulai mengemukakan bagaimana solusi dari masalah yang ada atau pada elemen evaluasi yang dilalui oleh para tokoh dalam cerpen tersebut.
6. Koda
Dalam sebuah cerpen, elemen terakhir yang harus ada didalam cerpen ialah koda. Koda disini ialah nilai atau pelajaran apa yang diperoleh dari cerita cerpen ini. Hal ini yang biasanya digunakan sebagai salah satu kesan oleh para pembaca.
Setelah materi selesai ada beberapa pertanyaan dari peserta diantaranya :

Pertanyaan 1.@⁨CaturDewi-ISOKUYOIKI⁩ dan @⁨SENJAMON ( Aku masih bingung di bagian abstrak) 

Agar lebih paham, kita bisa menyederhanakan struktur cerpen.

Namun, untuk Abstrak sendiri, merupakan ringkasan atau inti cerita. Abstrak ini selalu dipaparkan di awal cerita.

Untuk abstrak sendiri sifatnya opsional, artinya boleh ada dan boleh juga tidak.

Sebagai contoh Abstrak, dalam cerpen Ahmad Thohari yang berjudul "Senyum Karyamin"

Mereka tertawa bersama. Mereka, para pengumpul batu itu, memang pandai bergembira dengan cara menertawakan diri mereka sendiri. Dan karyamin tidak ikut tertawa, melainkan cukup tersenyum. Bagi mereka, tawa atau senyum sama-sama sah sebagai perlindungan terakhir. Tawa dan senyum bagi mereka adalah simbol kemenangan terhadap tengkulak, terhadap rendahnya harga batu, atau terhadap licinnya tanjakan. Pagi itu senyum Karyamin pun menjadi tanda kemenangan atas perutnya yang sudah mulai melilit dan matanya yang berkunang-kunang.

Pertanyaan kedua
Pertanyaan @⁨alwaties⁩ 

Cara membuat kesan yang mendalam,
Pertama, kita tentukan dulu emosi inti cerita. Artinya, kita harus paham dan tema yang kita ambil harus disertai oleh pengembangan kontekstual yang bisa diterapkan pada struktur cerpen. 

Kedua, mulai dengan kalimat awal yang menarik. 
Sebagai kalimat pembuka, kita bisa menentukan suasana cerita dari mulai memperkenalkan karakter sekaligus bisa mengambil perhatian pembaca. 

Ketiga, tulislah cerita.
Menulis cerpen itu harus memiliki suasana emosi tunggal dan setiap kalimat yang ditulis harus dibangun menuju emosi yang dimaksud. 

Keempat, cerpen yang dibuat harus memiliki akhir yang kuat. 
Maksudnya, lihatlah kembali konflik yang dituliskan dalam cerita dan bayangkan bagaimana pembaca menginginkan cerita berakhir.

Demikian materi Writer Class School day 1 malam ini,  semoga bermanfaat.
Salam sehat salam literasi tetap semangat untuk terus belajar. 
" Makkin aku banyak membaca,  makin aku banyak berpikir,  makin aku banyak belajar, makin aku aadar bahwa aku tak mengetahui apa-apa.

#Day1WriterClassSchool
Gunungkidul, 25 Mei 2021

Ramadan Sebagai Sarana Mensucikan Nafsu

Ramadan  Sebagai Sarana Mensucikan Nafsu Allahuakbar Allahuakbar gema takbir berkumandang. Sebulan telah berlalu tibalah kita di...