Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label cerbung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerbung. Tampilkan semua postingan

Selasa, 02 Februari 2021

Mendung Tak berarti Hujan

 

Mendung Tak Berarti Hujan



Suara adzan maghrib terdengar merdu dari mushola dekat rumahku. Segera kututup candela dan kuletakkan hand phone yang sedari tadi masih dalam genggamanku. Berharap Mas  Adit masih bisa menghubungiku setelah suara petir menyapa tanpa permisi, gemuruhnya mampu   mengagetkanku serta menghentikan pertemuanku dengan Mas Adit melalui panggilan WA. Ada rasa was-was karena selama empat hari tiada mendapat kabar darinya belum juga selesai saling bertanya kabar tiba-tiba terhenti begitu saja.

Siapa yang tidak akan merasa sedih. Ku hilangkan segala gundah gulana, segera ku ayunkan langkah untuk  ambil wudu untuk tunaikan salat mahrib. Kusebut kau dalam doa.  Merindumu hanya bisa terobati dengan doa-doa indah yang kupinta pada sang pemilik jiwa, Allah SWT. Ketenangan segera hadir, kulanjutkan untuk membaca ayat-ayat quran agar hati semakin tenang. Betul saja setelah hal itu aku lakukan hati ini merasa lebih tenang.

Segera aku kirim pesan chat untuk Mas Adit. Berharap kali ini Mas Adit bisa menerima pesanku dan membacanya.

“ Assalamu’alaikum mas ? Gimana keadaan mas ? baik-baik aja kan? “ tanyaku dengan penuh harap.

Tanda ceklis satu. Upz artinya pesanku belum sampai dan belum bisa Mas Adit baca. Kutarik nafas panjang dan ku buang pelan serta pejamkan mata. Itulah yang sering aku lakukan seperti pesan Mas Adit di kala hati tidak nyaman maka dia selalu memintaku lakukan hal itu. Kenangku pada seseorang yang telah mampu buat diriku jatuh hati.

Sudahlah semoga Mas Adit baik-baik disana. Akupun segera lakukan aktivitasku  sambil menunggu adzan isya kubuka lagi buku kumpulan  cerpen “2020 bercerita” kubaca lembar demi lembar sampai terbaca beberapa judul. Membaca adalah kesukaanku dari dulu semenjak duduk di bangku smp dan berlanjut sampai sekarang. Bagiku membaca dapat membuat hati senang bisa melupakan hal-hal buruk yang ada dalam pikiran kita. Tidak heran buku-buku memenuhi rak buku yang terpajang di dalam kamarku. Bukulah yang selalu menemaniku menghabiskan hari-hari sebelum aku menemukan Mas Adit dan kuputuskan untuk menerimanya sebagai calon suamiku.

Tak terasa adzan isya’pun berkumandang dan segera aku tunaikan. Masih tetap berharap dan menunggu akan kabar dari Mas Adit. Biasnya tiap kali waktu salat tiba dia selalu mengingatkan dan jika berkesempatan kami salat bersama walau dilakukan  di lain tempat. Namun tidak mengurangi kedamain yang dapat kami rasakan setelah melakukan salat.

“Mas ayo salat isya’ dulu”, bisiku lirih. Aku tahu kau disana  kau mengingatku dan juga berharap malam ini kita bisa salat isya bersama. Mas baik-baik disana ya !. Tak terasa air mata menetes di pipiku, hangatnya membawaku semakin merindumu.

 

Gunungkidul, 3 Februari 2021

Senin, 01 Februari 2021

Mendung Tak Berarti Hujan

Warna oranye di kala senja tak lagi aku dapati hari ini. Tiga hari terakhir  hujan mebasahi bumi. Duduk sambil melihat celah cendela kamar di temani buku cantik "2020 bercerita". Hawa dingin menyelimuti. Seoalah enggan untuk beranjak. Menikmati senja yang biasa kami lakukan walau jarak memisahkan, tak lagi dapat kami nikmati.

 Pandanganku tertuju pada mendung yang menggelantung. Hitam dan tak lagi terlihat awan cerah disana. Aku nikmati suasana sore ini dengan tetap berharap esok senja dapat kami nikmati. Titik-titik hujan mulai berjatuhan. Semakin  lama semakin deras. Begitu pula perasaan ini semakin deras hujan perasaan semakin terasa nyeri. Ku tarik nafas perlahan kubuang pelan sambil pejamkan mata dan terucap doa"
Ya rabb... Lindungi dia nan jauh disana".

Tya yang selama ini memiliki calon suami yang berada di lain kota, hanya bisa bertanya kabar melalui chat di WA, hanya bisa memandang dalam layar handpone saat vidio call , itu saja tidak tiap hari bisa Tya lakukan. Hujan selalu membawa Tya merasakan gejolak rindu yang membara. Rindu pertemuan dengan sang calon suami. Rindu saat "ahad nikah" itu terucap.  Agar segera Tya bisa selalu bersamannya dan tidak selalu di bebani perasaan was-was tentang dia yang bekerja jauh di luar kota. Tiba-tiba Tya di kejutkan dengan dering suara hand phone yang sedari tadi tergeletak di atas meja di pojok kamar Tya. Segera Tya angkat dan buka panggilan itu.

[Halo assalamu'alaikum Tya..apa kabar? Suara seseorang yang tidak asing  bagi Tya.]
[ Wa'alaikumsalam warah matullah.." jawab Tya dengan hati berbunga.]
[Maaf Tya, beberapa hari aku tidak bisa menghubungimu, sesuatu terjadi padaku. Kuharap kau memaafkan aku" pinta suara dari balik hand phone itu.]
Tiba-tiba percakapan itu terputus. Dengan datangnya suara guntur di luar sana yang begitu keras.
Tya hanya bisa memeluk hand phone mungil miliknya dan memandang hujan yang semakin deras.
Ada apa dengan dia? Apa yang terjadi? Pertanyaan-pertanyaan itu menari-nari dalam benaknya. Ya Rabb... desahnya lirih.
Cerbung
Gunungkidul,1 Februari 2021


Ramadan Sebagai Sarana Mensucikan Nafsu

Ramadan  Sebagai Sarana Mensucikan Nafsu Allahuakbar Allahuakbar gema takbir berkumandang. Sebulan telah berlalu tibalah kita di...