Cari Blog Ini

Senin, 01 Februari 2021

Mendung Tak Berarti Hujan

Warna oranye di kala senja tak lagi aku dapati hari ini. Tiga hari terakhir  hujan mebasahi bumi. Duduk sambil melihat celah cendela kamar di temani buku cantik "2020 bercerita". Hawa dingin menyelimuti. Seoalah enggan untuk beranjak. Menikmati senja yang biasa kami lakukan walau jarak memisahkan, tak lagi dapat kami nikmati.

 Pandanganku tertuju pada mendung yang menggelantung. Hitam dan tak lagi terlihat awan cerah disana. Aku nikmati suasana sore ini dengan tetap berharap esok senja dapat kami nikmati. Titik-titik hujan mulai berjatuhan. Semakin  lama semakin deras. Begitu pula perasaan ini semakin deras hujan perasaan semakin terasa nyeri. Ku tarik nafas perlahan kubuang pelan sambil pejamkan mata dan terucap doa"
Ya rabb... Lindungi dia nan jauh disana".

Tya yang selama ini memiliki calon suami yang berada di lain kota, hanya bisa bertanya kabar melalui chat di WA, hanya bisa memandang dalam layar handpone saat vidio call , itu saja tidak tiap hari bisa Tya lakukan. Hujan selalu membawa Tya merasakan gejolak rindu yang membara. Rindu pertemuan dengan sang calon suami. Rindu saat "ahad nikah" itu terucap.  Agar segera Tya bisa selalu bersamannya dan tidak selalu di bebani perasaan was-was tentang dia yang bekerja jauh di luar kota. Tiba-tiba Tya di kejutkan dengan dering suara hand phone yang sedari tadi tergeletak di atas meja di pojok kamar Tya. Segera Tya angkat dan buka panggilan itu.

[Halo assalamu'alaikum Tya..apa kabar? Suara seseorang yang tidak asing  bagi Tya.]
[ Wa'alaikumsalam warah matullah.." jawab Tya dengan hati berbunga.]
[Maaf Tya, beberapa hari aku tidak bisa menghubungimu, sesuatu terjadi padaku. Kuharap kau memaafkan aku" pinta suara dari balik hand phone itu.]
Tiba-tiba percakapan itu terputus. Dengan datangnya suara guntur di luar sana yang begitu keras.
Tya hanya bisa memeluk hand phone mungil miliknya dan memandang hujan yang semakin deras.
Ada apa dengan dia? Apa yang terjadi? Pertanyaan-pertanyaan itu menari-nari dalam benaknya. Ya Rabb... desahnya lirih.
Cerbung
Gunungkidul,1 Februari 2021


4 komentar:

Benang Rindu

Benang Rindu Merah senja membawa kisah Pada sebait kata yang menggugah Jiwa meronta karena terpisah Bukan karena tak cinta namun...