KEGIATAN KARANG PAMITRAN TINGKAT DAERAH TAHUN 2026
Sabtu, 12 September 2026, kegiatan karang pamitran tingkat daerah tahun 2026 dilaksanakan di Sanggar Bakti Pramuka Kwarcab Gunugkidul dengan tema “Karya Nyata, Progresif Berkarya, Budaya Terjaga”. Kegiatan ini di ikuti oleh 50 pembina se daerah Istimewa Yogyakarta baik Pembina Siaga, Penggalang dan penegak bersama 16 orang nara sumber. Dalam kegiatan karang pamitran ini di harapkan lahir semangat baru bagi para Pembina untuk terus berinovasi dan lebih berkualitas dalam melaksankan tugas nya. Karang Pamitran juga merupakan kesempatan untuk menambah wawasan, tempat untuk berdiskusi baerbagi oengalaman saling membantu dan mencari Solusi bersama untuk menjadikan kegiatan Pramuka lebih bermakna.
Kegiatan karang Pamitran ini di mulai dari pukul 08.00-09.00 daftar ulang peserta di lanjutkan upacara pembukaan bersama Kak Nunuk Setyiowati dan penjelasan kegiatan oleh panitia kegiatan. Materi pertama yaitu Kesehatan Mental dan pendampingan Generasi Z/Alpha dari Kak Edi. Pada materi ini kita di bekali banyak hal terkait dengan Kesehatan mental dan pendampingan Gen Z/Alpha, bagaiman kita menghadapi mereka, bagaimana Solusi yang tepat untuk mengadapi mereka yang notabennya beda dengan generasi kita sebagai pembina. Dalam hal ini kita harus memiliki trik-trik bagaimana melakukan pendekatan agar mereka bisa menerima apa yang kita samapikan. Generassi Z memang sejak lahir sudah di hadapkan dengan smartphone, media sosial, AI dan sebagainya yang berhubungan dengan internet. Mereka mudah mengakses berita denagn cepat dan tidak bisa menyaring hal negative yang mereka terima tanpa ada pendampingan maka akan sangat berdampak buruk bagi Kesehatan mental mereka. Terkadang kita menasehati sering tidak di denagar karena beberapa hal diantaranya kita sering memberi Solusi sebelum memahami maslaah yang mereka hadapi kita sering membandingkan kita dulu dengan mereka saat ini, kita juga sering mengintograsi saat mereka sedang defensive. Maka dari itu kita sebagai pembina atau pendidik atau orang tua harus bisa komuikasi yang baik dengan mereka denagn di mulai dari rasa aman bukan ceramah.
Kita harus tau Batasan kita bahwa sebagi guru atau pendidik buaknlah spikolog dan tidak harus mendiagnosis. Tigas kita adlah : mengamati, mendengar, mendampingi, menjaga keselamatan dan menghubungkan denagn bantuan yang tepat. Hindari diagnosis seperti “depresi”, AHAD atau trauma tanpa asesmen professional. Jaga kerahasiaan sesuia kebijakan sekolah, tetapi jangn menjanjikan kerahasiaan absolut ketika keselamatn peserta didik terancam.
Selanjutnya mateeri kedu tentang Safe From Harm bagi Pembina Pramuka Oleh Kak Muhammad Laiyin Nento wakil Kepala pusdiklatnas, Ketua komite perlindungan anggota Pramuka Kwarnas. Kak Laiyin menyampaikan mengapa SFH apa dasar yang digunakan serta mengapa kita sebagai pembina pramuka harus bisa memberi rasa aman. Perlindungan anak adlah segala kegiatan untuk menjamin anak dan hak-haknya agar dapat hidup, tumbuh, berkembang dan berproses secara optimal denag harkat dan martabat. Jika kita searchcing di goglle kita masih banyak berseliweran berita-berita terkait dengan hak asasi anak yang tidak aman, pelecehan seksual pembulian dan sebagainya. Maka Serangkaian upaya untuk menciptakan Lingkungan Berlatih dan Berkegiatan Kepramukaan yang Aman-Nyaman-Selamat bagi semua perlu di ciptakan di lingkungan kita berlatih kepramukaan.
Di sini di jelakan 4 area implemtasi Self From Harm. Empat area, satu sistem perlindungan untuk menciptakan lingkungɛan kepramukaan yang aman, nyaman, sehat dan selamat bagi semua.
1. Program Pembinaan Anggota Muda
"Anak dan kaum muda bukan hanya dilindungi, tetapijuga diberdayakan untuk menjaga dirinya."
2. Pengelolaan serta Pendidikan dan Pelatihan Anggota Dewasa
"Orang dewasa yang aman adalah kunci lingkungan kepramukaan yang aman."
3. Struktur Organisasi dan Tata Kelola Gerakan Pramuka
"Sistem yang baik membuat perlindungan berjalan, bukan sekadar bergantung pada individu."
4. Penyelenggaraan Kegiatan Gerakan Pramuka
"Kegiatan Pramuka yang seru, juga harus aman."
Dari materi SFH ini pembina di harapkan mampu :
1. Меманамі Safe From Harm
2. Merancang Pembinaan Yang Sesuai Usia
3. Menciptakan Ruang Yang Aman & Inklusif
4. Menyiapkan Sistem Perlindungan Di Gudeр
5. Menjadi "Кakak Pendengar"
6. Membiasakan Asesmen Risikо
7. Memastikan Keamanan Di Ruang Digital
8. Bersinergi dengan Sekolah
Kak Laiyin meminta untuk pembina bisa praktik mengisi modul e-learning. Malalui laman Ayo Pramuka Kwarnas kitab isa membuka dan mendaftar dan nantinya bisa mendapatkan sertifikat terkait kegiatan SFH ini.
Setelah materi kedua ini peserta Karang Pamitran istirahat, makan siang dan ibadah siang. Yang menarik adlah menu makan siang terdapat hidangan makan khas Gunungkidul yaitu tiwul, nasi merah ayam ikan, sayur khas Gunungkisul serta tidak lupa samabel bawang dan kulupan ( Sayur daun papaya dan nikir).
Selanjutkan Materi terakhir yaitu tentang Pramuka Istimewa dan garuda. Dalm kesematan ini Kak Cris menyampiakan materi terkait beberapa hal yaitu :
Seorang Pramuka dari Yogyakarta diharapkan tidak hanya memiliki kecakapan kepramukaan, tetapi juga menunjukkan karakter yang mencerminkan budaya Yogyakarta. Oleh karena itu, pembinaan tidak cukup hanya mengenalkan berbagai istilah dan materi budaya. Nilai-nilai tersebut perlu diterjemahkan menjadi pengalaman nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Pramuka Istimewa pada dasarnya merupakan perpaduan antara kecakapan, karakter, budaya, dan pengabdian. Anggota Pramuka tetap memenuhi ketentuan kepramukaan secara nasional, tetapi dilengkapi dengan kecakapan sesuai potensi, minat, bakat, dan lingkungan. Selain itu, mereka diharapkan memiliki karakter yang sesuai dengan nilai budaya dan keistimewaan Yogyakarta serta memiliki semangat untuk berperan dalam pembangunan.
Dasar -dasar terkait denagn pramuka Istimewa. Yaitu Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2010 tentang Gerakan Pramuka, Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2012 tentang Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta, Peraturan Daerah DIY Nomor 4 Tahun 2011 tentang Tata Nilai Budaya Yogyakarta, Peraturan Daerah DIY Nomor 5 Tahun 2011 tentang Pendidikan Berbasis Budaya, Pergub DIY Nomor 68 Tahun 2012, serta AD/ART Gerakan Pramuka.
Nilai keistimewaan Yogyakarta menjadi ruh yang menghidupkan proses pembinaan. Nilai tersebut antara lain Hamemayu Hayuning Bawana, yaitu membangun kehidupan yang selaras dan memberikan kemaslahatan; Golong Gilig, semangat kebersamaan dan persatuan; Sawiji, kemampuan memusatkan perhatian; Greget, semangat untuk bergerak dan berkarya; Sengguh, percaya diri tanpa kehilangan kerendahan hati; serta Ora Mingkuh, keteguhan dalam menjalankan tanggung jawab.
Selain materi Pramuka Istimewa Kak Cris juga menyampaikan kaitannya dengan Percepatan Pramuka garuda bagaimana harus memulai agar mencapai pramuka garuda. Ada Strategi Empat Tahun Menuju Pramuka Garuda Siaga. Regu Menjadi Laboratorium Kepemimpinan Penggalang. Bagimana Penegak: Menyiapkan Pemimpin Muda. Mengatasi Titik Kritis Penegak.
Satu Anak, Satu Rekam Jejak
Setiap peserta didik perlu memiliki dokumentasi perkembangan yang mencakup buku SKU pribadi, kartu pengembangan karakter, buku prestasi dan pengalaman, serta portofolio digital gugus depan.
Aspek karakter yang dapat direkam antara lain kehadiran, disiplin, tanggung jawab, kejujuran, kerja sama, dan kepemimpinan.
Kak Cris juga menyampaikan Lima Kunci Menuju Pramuka Istimewa dan Pramuka Garuda
1. Pembinaan harus dirancang sejak awal dan memiliki target yang jelas
2. Pembinaan tidak boleh berhenti pada kegiatan sesaat atau hanya pada satu jenjang tertentu.
3. Setiap anak perlu diperhatikan perkembangan dan kebutuhannya.
4. Setiap peserta didik perlu memiliki rekam jejak perkembangan yang terdokumentasi.
5. Pembinaan akan lebih kuat jika melibatkan gugus depan, sekolah, orang tua, masyarakat, dan kwartir..
Saatnya Bergerak
Gagasan Pramuka Istimewa membutuhkan langkah nyata. Proses tersebut dapat dimulai dengan mendata seluruh peserta didik, memetakan posisi SKU, SKK, karakter, pengalaman, serta rekam jejak masing-masing.
Selanjutnya, gugus depan dapat menyusun target pembinaan setiap golongan, membuat kalender pembinaan, menetapkan pendamping, dan membangun sistem dokumentasi sejak awal. Seluruh proses tersebut perlu dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan.
Pada akhirnya, Pramuka Garuda Istimewa tidak lahir dari satu kegiatan. Ia tumbuh dari kebiasaan baik yang dilakukan secara terus-menerus, kecakapan yang senantiasa diasah, karakter yang terus dibentuk, budaya yang terus dihidupi, serta pengabdian yang terus dilakukan.
Membina Hari Ini, Menyiapkan Generasi Unggul Esok Hari
Pramuka Istimewa adalah sebuah perjalanan. Perjalanan untuk menjadikan setiap anak tidak hanya cakap dalam kepramukaan, tetapi juga berkarakter, berbudaya, mandiri, memiliki jiwa kepemimpinan, dan siap mengabdi kepada masyarakat.
Melalui pembinaan yang terencana, berkelanjutan, terdokumentasi, dan kolaboratif, Gerakan Pramuka DIY dapat terus menumbuhkan generasi yang tidak hanya memenuhi standar Pramuka Garuda, tetapi juga memiliki jati diri sebagai Pramuka yang Istimewa.
Peserta Karang Pamitran sangat antusias dalam mengikuti dan menerima 3 Materi dari narasumber. Selanjutnya sesi diskusi kelompok materi PGPI (Pramuka Garuda Pramuka Istimewa) serta evaluasi kegiatan dan acara penutupan.
Gunungkidul, 13 September 2026

