Cari Blog Ini

Rabu, 10 Februari 2021

Rindu Tanpa Batas Waktu

 

Rindu Tanpa Batas Waktu



 

Senja telah menampakan jingganya, angin berhembus lembut menyapaku. Segera kusiapkan diri untuk menyambut putraku datang dan hadir ke rumah kecilku ini.  Tiap senja tiba hati terasa sangat pilu. Kerinduan akan sosok seorang ibu selalu hadir. Berharap setelah mentari tenggelam berganti dengan gelap malam dan kerlip bintang  di angkasa yang mampu membawa hati ini pada sosok seorang ibu. Memandang langit seoalah aku bisa melihat ibu disana. Senyum indahnya dan sentuhan lembut tangannya dapat aku rasakan.

Angin malam sampaikan salam rindu ini pada ibu yang begitu aku sayangi. Aku rindu Ibu dia sosok ibu yang selalu menemani saat aku bersedih, menghiburku dan menasehatiku hingga aku bisa berdiri dan bangkit. Belaian lembut tanganmu, peluk hangat tubuhmu mampu mengantarkanku pada sebuah ketenangan jiwa, senyum ayu menghiasi wajahmu terasa beban hilang seketika, damai kurasakan dengan semua nasehat-nasehatmu. Kau hibur aku kau bimbing aku, kau kuatkanku saat aku lemah tak berdaya. Ibu.. aku rindu semua tentangmu.

Kasih sayangmu, ketulusanmu masih kurasa sampai detik ini. Tiada yang mampu menggantikanmu. Kau antarkanku menjadi seperti sekarang ini. Sayang kau tak dapat lagi melihatku mencapai mimpi-mimpiku. Aku yaqin  kau merasakan bahagia disana. Semua ilmu dan nasehatmu yang telah kau berikan  untukku selalu aku  lakukan dan aku sangat yaqin  pahalanya mengalir untukmu.

Rindu ini semakin membuncah di kala sedih yang datang mengahampiriku tanpa permisi. Saat ini aku harus berpisah dengan anakku, aku merasa tiada seoarang pun yang mampu memahami apa yang aku rasa. Hidup jauh dari orang-orang yang kita cintai tak mudah  untuk mengungkapkan semua yang aku rasa. Ibu mertuaku yang seharusnya mampu memberikan kekuatan untukku nyatanya aku tak mendapatkannya. Selalu saja aku di nilai kurang di matanya. Aku coba berusaha memahaminya namun mengapa beliau tidak juga paham denganku. Di kala aku sedang sedih begini bukan malah membuatku bangkit namun beliau juga lemah dan semua inginnya harus selalu dituruti. Padahal hal itu belum tentu baik pula untuk anaku yang sedang di rawat jauh disana. Tolong mengertilah.

Suamiku yang usianya tidak jauh beda dariku aku anggab belum cukup dewasa dan tenang menghadapi ujian ini. Aku hanya bisa menangis dalam doa meminta kekuatan dari-Nya. Sedang anak pertamaku baru menginjak sekolah dasar kelas tiga ,aku rasa juga belum mampu untuk bisa aku ajak bicara dan menyelesaikan masalah .Namun bersyukur dikala aku sendiri ia sedikit mampu menguatkanku dengan celoteh manja dan kelucuannya.

Ibu aku butuh Ibu aku kangen, aku rindu ibu datanglah. Butiran-butiran bening pun hangat membasahi pipiku. Rasa yang menghimpit terasa menyesakkan dada. Begitu  lemah diri ini, kuat, kuatkan aku ya Rabb.

Tersungkurku dalam sujud, berharap dan memohon untuk kebaikan anakku yang di rawat jauh dariku. Aku di rumah tidak bisa berbuat apa-apa untuk anakku. Saat dia menangispun aku tak mampu memberikan ASI untuknya.  Ya rabb hanya padamu aku pasrah. Sehatkan dan lindungi anakku disana.

Dzikir dan doa selalu aku baca.sampai akupun tertidur, remang-remang aku melihat ibu berdiri di sudut ruang rumahku. Kulihat samar-samar senyum ayu yang aku rindu selama ini. Ibu kau datang bu. Ya Allah terimakasih Kau kirim ibuku pulang. Ibu tau aku sedang mengharapkan kedatangannya aku mengharapkan nasehatnya, aku mengharapkan pelukan dan usapan lembut tangannya.

“Ibu.. sini bu. peluk aku” kataku.

Tanpa suara apapun ibu hanya tersenyum padaku.

“ Kenapa dengan ibu, kemari bu, aku kangen ibu”

Sambil berlari aku menuju dimana ibu berdiri. Seketika aku terbangun dari tidurku. Ya rabb.. aku tersadar . aku hanya mimpi. Segera aku ambil wudu dan salat tak lupa aku kirim doa untuk ibu. Aku tuangkan semuanya pada Allah Swt tentang apa yang aku rasa. Hanya pada Allah semua aku kembalikan aku curahkan apa yang aku rasa aku serahkan semuanya. Allah maha mendengar dan maha tau. 

 Kabar Kepulangan anakku dari rumah sakit aku dengar  sehari setelah aku mimpi melihat ibu. Selama kurang lebih satu bulan anakku dirawat di rumah sakit, kini akan pulang dan hadir di rumah kecil ku. Dokter mengatakan anakku sudah bisa di bawa pulang. Hanya saja butuh perawatan ekstra saat nanti di rumah. Bayi premature  memang beda dengan bayi normal pada umumnya. Jika tidak berhati-hati maka si bayi masih sangat rentan dari berbagai macam gangguan penyakit.

Tidak bisa di bohongi sebagai seorang ibu  pastilah aku merasa sedikit kwatir dan sedih, namun kutepis semuanya dengan semangat dan optimis bahwa aku pastikan anakku akan baik=baik saja. Benar adanya dulu ibu pernah menceritakan padaku saat aku sakit ibu tidak enak makan istirahat tidak tenang, hati dan pikiran selalu tertuju padaku. Ibu rela menahan lapar menahan kantuk saat aku sakit dan tidak bisa tidur semalaman. Kini aku merasakannya ibu. Jika saja kau tidak bekali aku dengan nasehatmu pastilah saat ini aku sangat lemah dan tak lagi mampu berdiri. Kini aku hanya bisa mengenangmu, memelukmu dalam mimpi, merindumu tanpa batas waktu dan kusebut kau dalam doa.

Ibu ..

Langit mendung seakan turut berduka atas kepergian mu dulu

Indahnya kebersamaan denganmu telah menjadi kenangan

Perhatianmu kasih dan cintamu tetap terukir indah dalam sanubariku

Dibawah langit ini seketika meremang

 Sepinya hati ini tanpa ragamu

Namun semangat mu  tetap menyala dalam benakku

Keteladanan mengajarkanku pentingnya arti kehidupan

Keteladananmu mengajarkanku arti kedewasaan

Ibu ...

Tenang lah kau di sisi-Nya

Kubawakan untukmu sekuntum bunga

Harumnya seharum namamu yang telah banyak mengukir kebaikan untukku

Usapan batu nisan sedikit mengobati rasa rindu 

Rindu ini untuk ibu rindu tanpa batas waktu

Sampai pada waktunya kita bisa dipertemukan atas kehendak-Nya


Ibu kutahu ragamu tak lagi bersamaku, namun sejauh apapun dunia memisahkan, kasih sayangmu selalu tercurah dan mengalir untukku

Maafkan anakmu yang belum bisa buatmu bahagia. Hanya doa tulus untukmu ibu,semoga kau tenang disana di tempatkan  bersama bidadari bidadari syurga. Terimakasih untuk semua cinta dan kasih sayangmu, perjuanganmu dan semua yang telah kau kurbankan untukku.

Untuk meneruskan perjuanganmu akan aku didik anak-anakku menjadi anak-anak yang pinter,solih dan solihah serta anak-anak yang tangguh   mampu menghadapi tantangan hidup yang semakin global.


Gunungkidul, 10 Februari 2021

Projec omera " Rindu"

 

 

9 komentar:

  1. Keren,jadi baper,semoga ibu berbahagia di surga.

    BalasHapus
  2. Kasih Ibu sepanjang jalan, kepergiannya pun masih dirindukan
    Terimakasih sudah berbagi cerita

    BalasHapus
  3. Bagus banget,. aku blm nulis,. 4 Hari kelelahan.
    Rindu kepada ibu tak kan lekang terhadap waktu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semangat mbk nani..jangan lupa jaga kesehatan yaak istirahat cukup.tidur dl baru nanti bangun terus nulis.

      Hapus
  4. Anak solihah ....bener bener menginspirasi.

    BalasHapus

Benang Rindu

Benang Rindu Merah senja membawa kisah Pada sebait kata yang menggugah Jiwa meronta karena terpisah Bukan karena tak cinta namun...