Cari Blog Ini

Senin, 07 Juni 2021

KATA BAKU

 

KATA BAKU


Bersyukur untuk hari ini, Allah masih karuniakan kesehatan padaku hingga ku masih bertahan mengikuti kelas cerpen di WCS, usia boleh semakin tua namun semangat belajar tidak boleh luntur.

Materi Malam ini  senin, 7 Juni 2021 kita akan membahas tentang Kata Baku

Mungkin terlihat sepele, tetapi kadang kita lupa dengan kata baku dan beriringnya zaman. Mungkin kata baku semakin berkurang.

Pengertian Kata Baku

Kata baku adalah kata yang digunakan sesuai aturan atau kaidah berbahasa Indonesia yang sudah ditentukan sebelumnya.

Pengertian kata baku juga merupakan kata yang penggunaannya sudah sesuai ejaan dan aturan pedoman bahasa Indoneisa yang baik dan benar, yang bersumber kepada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

Selain itu, penggunaan kata baku dapat dilihat dari penggunaanya yang sudah sesuai EYD (Ejaan yang Disempurnakan). Penggunaaan kata baku ini biasanya digunakan untuk pengungkapan bahasa yang bersifat resmi, dalam bentuk surat maupun naskah pidato.

Pengertian Kata Tidak Baku

Kata tidak baku merupakan kebalikan dari kata baku, yang penggunaanya tidak sesuai aturan dan kaidah berbahasa Indonesia yang sudah ditentukan sebelumnya.

Ketidakbakuan sebuah bahasa tidak hanya ditentukan dengan penulisan yang tidak sesuai pedoman, tapi juga bisa terjadi karena salah penulisan, pengucapan yang salah, dan susunan kalimat yang tidak sesuai.

Kalimat tidak baku lebih sering digunakan dalam percakapan sehari-hari karena terkesan lebih santai dan tidak kaku. Kata tidak baku juga dapat digunakan saat berdiskusi membahas suatu hal bersama teman atau keluarga.

Ciri-ciri Kata Baku

1. Tidak dipengaruhi bahasa daerah tertentu.

2. Tidak dipengaruhi bahasa asing.

3. Bukan bahasa percakapan.

4. Pemakaian imbuhan pada kata bersifat eksplisit.

5. Pemakaian kata sesuai dengan konteks kalimat.

6. Kata baku bukan kata rancu

7. Kata baku tidak mengandung hiperkorek.

Ciri-ciri Kata Tidak Baku

1. Umumnya digunakan dalam bahasa sehari-hari.

2. Dipengaruhi bahasa daerah dan bahasa asing tertentu.

3. Dipengaruhi dengan perkembangan zaman.

4. Bentuknya dapat berubah-ubah.

5. Memiliki arti yang sama, meski terlihat beda dengan bahasa baku.

SESI TANYA JAWAB

Pertanyaan, 07 Juni 2021

1.      Senjapriany

Ka kalau dalam cerita kebanyakan bahasa tidak baku itu boleh enggak?

2.      Awal cantik manis baik hati tidak sombong.

Eksplisit maksudnya gmn bun? Dan hiporkorek tuh bagaimana? Lantas bun... ada kata yang dulunya tidak baku lalu jadi baku karena perkembangan zamankah?

3.      Apa boleh mengunakan kata baku dalam percakapan cerpen? || Rimba

 

JAWAB

1.      Biasanya dalam cerita, jika dalam dialog bisa menggunakan kata tidak baku.

Namun, jika untuk menceritakan narasi lebih baik menggunakan kata baku.

2.      Eksplisit itu artinya tidak bertele-tele, tegas dan tidak tersembunyi. Dia memiliki makna yang jelas.

Lalu, hiporkorek itu bersifat menyempurnakan tetapi malah sebaliknya.

Untuk masalah adanya kata tidak baku, lalu menjadi baku. Kedia jenis itu sifatnya tidak abadi karena bahasa merupakan ilmu yang dinamis. Oleh sebab itu, semakin berkembangnya zaman maka kata-kata baru pun bermunculan.

 

3.      Boleh, kenapa tidak.

Namun, di dalam percakapan biasanya tergantung dengan peran yang dijalankan.

 

Review dari Event.

Terima kasih bagi yang mengerjakan, untuk yang belum hal ini bisa dijadikan pembelajaran.

1.      Kesalahan dalam tata bahasa

§  Kata baku seharusnya : salat, berpikir, istigfar, dll. Buka kamus lagi ya.

§  Penulisan pun, banyak yang masih dirangkai.

§  Penulisan di/ ke masih ada yang kebalik. Dipisah kalau menunjukkan tempat/ waktu, di mana, ke mana, di rumah.

§  Penulisn (Namun, …). Diawali dengan huruf kapital dan diberi koma. Namun tidak bisa diletakkan di awal paragraf, tetapi boleh di awal kalimat. 

§  Namun, aku mencintainya. Aku ingin bersamanya. (X)

§  Dia tidak mencintaiku. Namun, aku mencintainya. (Benar)  manfaat namun menghubungkan dua kalimat. Kalau tidak ada kalimat di awal, apa yang mau dihubungkan?

§  Kalau memang tidak bisa menulis miring, yang mengirim dari wa sebaiknya dihilangkan (_). Gunakan cara lain, bisa pakai kurung [ … ] atau memanfaatkan kata serapan dan makna dalam bahasa Indonesia.

2.      Dialog terlalu banyak. Untuk ini, penggunaan dialog dan narasi digunakan berdasar kebutuhan.

Dialog: memperjelas suatu adegan, memperlambat tempo, menegaskan/ menguatkan peristiwa.

Narasi: mempercepat tempo, meringkas adegan pendukung cerita.

Untuk perbandingan, idelanya suatu cerita itu narasi 60-80% vs 2-40% dialog dari cerita. Ini tidak mutlak. Bergantung kebutuhan, situasi, dan kondisi.

3.      Tanda */ --- sebagai pembeda waktu digunakan secara bijak ya. Salah satunya untuk membedakan waktu dan adegan yang membutuhkan rentang waktu lama. Atau kalau mau flashback. Juga, dalam dalam paragraf itu setidaknya ada tiga-lima kalimat. Kalau hanya berkisar hitungan hari bisa digunakan kata lain: seminggu kemudian, dua hari sebelumnya, atau yang lain. Apalagi kalau jumlah kata terbatas semisal 300-500, terlalu banyak tanda ini justru akan mengganggu.

4.      Dalam cerita itu ada sebab dan akibat, inilah nanti yang akan membuat konflik. Semisal: ada cerita fantasi seorang putrid menjadi kupu-kupu.

Sebab: Ada mitos yang menyatakan kalau merawat bunga warna-wani dihalaman lengkap tujuh warna, kupu-kupu datang.

 

Masalah: Tokoh A tidak percaya.

Akibat: Ia tiba-tiba menjadi kupu-kupu sewaktu tidur.

 

5.      Berlatih kalimat efektif. Cerpen itu dibuat ceita yang menarik dengan mengambil sesuatu peistiwa yang wah dari kehidupan kita. Salah satu tujuannya, agar kita dapat mengambil pesan di dalamnya.

Jadi, semacam tulisan Assalamualaykum,tanya kabar, atau nama, dan juga pertanyaan yang tak ada hubungannya dengan cerita dihilangkan.

6.      Kebocoran PoV

PoV satu yang paling bisa dieksplore ya dari sisi penulisnya, mulai dari pikiran, kata hati, pun dengan sebutan nama.

Aku mau betemu mamaku.

Aku merasa tak enak ia datang membawa bunga.

Berbeda dengan PoV  tiga yang tidak bisa membaca pikiran tokoh lain. Kalau jadi PoV tiga yang seba tahu, cerita justu tidak berkembang dan terkesan ya sudah, tidak ada yang membuat teka-teki, mengalir gitu aja. Jadi feelnya kurang. Jadi, hati-hati ya.

Untuk yang lain dibahas untuk tugas atau event selanjutnya ya.

Jangan lelah untuk belajar. Terimakasih.

 

#Day3KelasWCS

Gunungkidul, 8 Juni 2021

2 komentar:

Benang Rindu

Benang Rindu Merah senja membawa kisah Pada sebait kata yang menggugah Jiwa meronta karena terpisah Bukan karena tak cinta namun...