JIN ULAR HIJAU
Oleh : Sumarjiyati,S.Pd.I
Suara kokok ayam memecah kesunyian dini hari, Bu Darmi segera
menyibakkan selimut dan bergegas bangun untuk segera tunaikan salat dan
menyiapkan masakan untuk keluarganya. Hal yang selalu ia lakukan sebelum ia beraktivitas
ke sawah yaitu menyiapkan menu makanan di rumah. Dengan begitu ia tidak lagi
memikirkan untuk segera pulang ke rumah saat bekerja di sawah. Pikiran tenang
bekerja pun lancar. Biasanya Bu Darmi pulang saat hari hampir menjelang duhur
kemudian pergi kesawah lagi setelah jam asar .
Keluarga Bu Darmi termasuk keluarga yang sederhana suami yang
bekerja serabutan dan jika tidak ada yang memintanya bekerja ia membantu
istrinya bekerja di sawah. Bu Darmi memiliki empat orang anak dua putri dan
dua lainya putra. Untuk bisa
menyekolahkan putra dan putrinya memang Bu Darmi dan suaminya perlu kerja
keras. Bu Darmi dan suaminya hanya mengandalkan hasil panen dan hasil suaminya bekerja yang tidak menentu. Keadaan
itu kadang membuat suami Bu Darmi berpikir bagaimana agar mendapatkan uang yang
banyak, panen yang melimpah hingga apapun yang ia inginkan dengan mudah ia
dapatkan.
Sawah Bu Darmi memang tidak begitu luas di bandingkan dengan
tetangga-tetangganya namun itulah harapan satu-satunya untuk bisa mencukupi
kebutuhan keluarganya. Apapun dan seberapapun hasilnya Bu Darmi tetap sabar
menerimanya. Suatu ketika saat Bu Darmi bekerja di sawah bersama suaminya
merasa sangat lelah dan Bu Darmi berpamitan untuk pulang lebih dulu. “ Pak..aku
pulang dulu ya, badanku kok tidak seperti biasanya,aku mau istirahat sebentar di
rumah barangkali nanti membaik”. “ iya mak pulang dulu sana ! aku mau
meneyelesaikan ini dulu tanggung, sebentar juga selesai “. Jawab suaminya .
Bu Darmi pun bergegas pulang sedangkan suaminya tetap melanjutkan
bekerja mencabuti rumput-rumput yang tumbuh di antara tanaman padi miliknya.
Seketika Pak Warno suami Bu Darmi di kejutkan dengan ular hijau yang melintas
di depanya. Ya Allah..sentaknya kaget. Pak warno pun tanpa sadar meloncat untuk
menghindari ular itu. Huuuf Pak Warno
tarik nafas panjang. Beruntung Pak Warno tidak jatuh. Ia pun segera ambil minum
yang di bawakan istrinya tadi pagi, air
putih yang ia teguk bisa sedikit menenangkan dan menghilangkan rasa kaget yang
baru saja ia alami.
Pak Warno masih duduk dan belum juga melanjutkan bekerja. Pak warno
melihat lihat di sekelilingnya namun ia tidak menemukan ular tadi, tentu saja
tidak ia temukan barangkali ular tadi sudah pergi dan menyelinap di rerumputan.
Padahal rencana Pak Warno hari ini pekerjaannya harus kelar agar esok sudah
bisa malakukan pekerjaan yang lain. Pak warno terasa enggan untuk bangkit dan
melanjutkan kerjaanya ia masih teringat ular hijau tadi. Pak warno pun
memutuskan untuk segera pulang saja . Sembari membereskan alat-alat yang ia dan
istrinya bawa tadi pagi ia juga masih memperhatikan di sekelilingnya apakah
ular tadi masih bersembunyi disana. Selesai membereskan alat-alat Pak Warno pun
dengan mempercepat langkahnya agar segera sampai di rumah.
“Mak,mak…” panggil pak Warno pada istrinya. Bu Darmi pun kaget saat
mendengar suaminya berteriak. “ Iya pak aku di sini, kenapa bapak teriak-teriak
to,” ada apa? tanya Bu Darmi. “kok bapak
sudah pulang?” Pak Warno pun menceritakan apa yang ia alami. “Halah bapak ini
kayak anak kecil saja, melihat ular melintas kok takutnya begitu hebohnya”. Sudah-sudah ganti baju sana bapak ikut
istirahat sini atau bapak mau makan saja dulu”. “Mamak ga tau sih bagaimana ula itu menatapku”. Kata Pak Warno. “Walah bapak ini ada-ada saja. Sudah sana
ganti baju dulu”. Bu Darmi seperti keheran-heranan melihat tingkah suaminya.”Ya
mak.. aku ganti baju saja dulu belum lapar nanti saja bareng sama mak”.
Adzan duhur berkumandang. Bu
Darmi pun segera bangun dari tidunya, badanya sudah sedikit enak setelah satu
jam bisa merebahkan tubuhnya di dipan kecil yang berada di ruang bagian depan
rumahnya. Ia dapati suaminya juga tidur di tikar di dekat pintu di ruangan yang sama. “ pak pak
bangun sudah adzan duhur “ suara Bu Darmi membangunkan Pak Warno suaminya. “
Sebentar mak, aku masih lelah “. Sambil membalikkan badan Pak Warno tidak
segara bangun. Memang pak Warno tidak begitu rajin dalam beribadah istrinya
yang selalu mengingatkan dan mengajak pak Warno agar selalu melakukan salat namun Pak Warno kadang masih enggan
melakukannya.
Dalam tidur siangnya Pak
Warno bermimpi sepertinya ular yang di sawah tadi datang lagi dan masuk ke
dalam rumah. Dalam mimpinya ular itu mengatakan sesuatu pada pak Warno. “Hai
kamu,mau tidak jika panenmu bisa melimpah “? Tanyanya pada pak Warno. Pak warno
sontak kaget dan bangun dari tidurnya. Ia melihat sekelilingnya, tidak ada ular
disana lalu siapa yang bicara tadi. Masa ular bisa bicara pikirnya. Ia pun
bangkit menuju kamar mandi dan segera cuci muka. Yaa hawa panas yang ia rasakan
sedikit sejuk ketika ia membasuhkan air ke mukanya.
Tanpa ia sadari ia menatap pada atap kamar mandi. Begitu kagetnya,
disana ada ular hijau yang ia lihat di sawah dan juga yang mendatanginya dalam
mimpi tadi. Pak Warno pandangi ular itu, seperti tak percaya ia kucek-kucek matanya
apakah penglihatannya yang salah. Tidak ternyata tidak salah ,benar ular itu
ada di sana. Ssstttt sana pergi kamu, sambil pak warno melambai-lambai
tanganya. Ular tetap tidak bergerak. Pak warno kemudian keluar kamar mandi
bermaksud untuk mengambil kayu untuk di gunakan mengusir ular tersebut.
Kembali pak Warno masuk kamar mandi dan akan memukul ular tadi
namun apa yang ia lihat, Pak Warno tidak menjumpai ular tadi. Pak warno tak
habis pikir dengan apa yang ia lihat. Pak Warno di buatnya penasaran. Kejadian
yang baru ia alami tadi tidak di ceritakan pada istrinya. Dalam benak Pak
Warno ia harus bisa menemukan ular itu,
karena Pak Warno merasa ada yang aneh dengan ular tersebut. Untuk itu setelah
ba’do asar ia akan Kembali ke sawah. Berharap ia akan menemukan ular hijau yang
selalu mengikutinya itu.
“Mak,gimana badannya sudah terasa enakkan belum”? tanya pak Warno
pada istrinya. “ Sudah pak”. Jawab Bu Darmi.” Kalau begitu ayo kita ke sawah
lagi kerjaan kita belum kelar tadi pagi belum selesai sudah keburu pulang “.
Ajak pak Warno pada istrinya. “Bapak saja yang ke sawah aku akan menyelesaikan
pekerjaan rumah pak, ternyata cucian sudah menumpuk”. Jelas Bu Darmi. “Baiklah mak, aku
berangkat ya “!. “ya hati-hati pulangnya jangan terlalu sore ya ! “ Pesan bu
Darmi
Sesampainya di sawah Pak Warno segera melanjutkan pekerjaannya yang
tadi pagi sempat tertunda. Dalam hatinya ada perasaan was-was, perasaanya ada
yang lain dari biasanya. Sampai menjelang maghrib Pak Warno masih asik dengan
kerjanya ia seperti bekerja dengan kekuatan super ia tidak merasa capek sama
sekali. Akhirnya Pak Warno bisa menyelesaikan pekerjaannya. Sawah sudah
kelihatan bersih, tanaman padi di hadapanya sudah kelihatan menghijau lebat
tanpa ada rumput-rumput yang menggannggu pertumbuhannya. Pak Warno merasa puas,
sayup sayup terdengar suara memanggil namanya.
“Segeralah pulang nanti malam aku akan menyusulmu, berikan yang aku
mau dan kamu akan aku beri seperti yang kamu mau. Bukannya kamu ingin hasil
panenmu melimpah ? “ Pak Warno menengok ke belakang, tak di jumpai satu orang
pun disana. Pak Warno melihat ular hijau itu melintas di depanya lagi, segera Pak
Warno mengikutinya namun Pak Warno terlalu lambat untuk mengejarnya. Sampai
pada pinggir persawahan miliknya Pak Warno berhenti. Semakin ia di buat
penasaran dan ingin bisa segera menamgkap ular itu.
Pak Warno sadar hari sudah gelap ia pun ingat pesen istrinya untuk
pulang tidak terlalu sore. Ia pun segera pulang. Dalam perjalanan pulang pak
warno masih memikirkan tentang ular itu,tentang suara itu. Tertarik juga pak Warno dengan kata-kata itu.
Sudah menjadi keingannya sejak dulu untuk bisa panen melimpah, apa yang di
minta suara itu? dia minta apa ? beberapa pertanyaan menghinggapi pikiran pak
Warno. Dalam hatinya menyetujui permintaan suara itu.Sudah lama Pak Warno
menginginkan panenya melimpah.
Bu Darmi sangat kwatir
dengan suaminya. Sampai adzan maghrib berkumandang namun suaminya belum
juga kelihatan batang hidungnya. Sembari sesekali menengok keluar rumah Bu Darmi
menunggu suaminya dengan menyelesaikan
pekerjaan rumah tangga melipat baju-baju jemurannya tadi siang. Terdegar
Langkah mendekati pintu depan. “ Assalamu’alaikummak mak, buka pintunya !”
Suara pak Warno jelas terdengar. “Wa;alaikumsalam pak,iya iya sebentar “.
Sambil meletakkan baju yang ia lipat Bu Darmi segera membukakan pintu untuk
suaminya.
Beberapa pertanyaan muncul dari Bu Darmi setelah Pak Warno sudah
selesai mandi dan duduk santai di ruang tengah rumahnya. Sambil menikmati teh
panas dan singkong goreng yang di sediakan Bu Darmi. Malam ini Pak Warno terasa
sangat lelah setelah sore tadi
menyelesaikan mencabuti rumput-rumput liar di sawahnya. Berharap esok panennya
bisa melimpah. Malam semakin larut Pak Warno dan Bu Darmipun segera istirahat.
Sejak beberapa bulan terakhir Pak Warno dan Bu Darmi tidak tidur dalam satu
dipan karena tidak selalu bisa tidur bersamaan.Bu Darmi kadang masih harus
menyelesaikan pekerjaannya sedangkan Pak Warno sering tertidur lebih dulu di
ruang tengah.
Berbeda malam itu Pak Warno tidur di kamar, setelah seharian
bekerja rasanya ingin ia segera tidur dengan nyenyak. Ia pun tidak menunggu lama untuk bisa
terlelap. Dalam remang-remang ia dapati istrinya mendekati dirinya, setengah sadar
ia dapati istrinya berbaring di sebelahnya. Tidak seperti biasanya. Pak Warno
dan istrinya pun melakukan selayaknya
pasangan suami istri.
Mentari pagi bersinar ramah menyapa
hari nan indah. Bu Darmi memperhatikan Pak Warno dengan baik karena merasa
ada yang lain dengan Pak Warno. “ Bapak ada apa kok pagi ini kelihatan fress
sekali ? “. Tanya Bu Darmi pada suaminya. “Aaah mak bisa saja lhu, ga ada
apa-apa mak, Cuma bapak heran, tumben semalem mamak menyusulku “. Kata Pak
Warno. Bu Darmi kaget dengan jawaban Pak Warno. “Menyusul ? aku menyusul bapak
? kapan pak? Tidak pak aku ketiduran didepan televisi dan bangun-bangun sudah
hampir jam 4. Aku tidak menyusul bapak.
Lalu siapa yang menyusulku semalam, apakah aku hanya mimpi. Aah
sudahlah berarti aku hanya mimpi. Pikir pak Warno. Malam - malam berikutnya
seperti sama Pak Warno selalu melayani istrinya dengan baik.Pak Warno semakin
semangat dalam bekerja. Setiap malam ia selalu tidur Bersama istrinya. Ia heran
kenapa istrinya sekarang berubah. Pak Warno pun tak mau ambil pusing ia tetap
jalani kwajibanya. Suatu ketika di malam hari setelah ia melakukan kewajibanya
terhadap istrinya.Ia merasa ada yang aneh ia dapati ular yang keluar dari
kamarnya namun berkepala manusia. Pak Warno tercengang dengan hal itu. “Mak mak
kamu mau kemana “. Tanya Pak Warno pada bayangan istrinya yang
meninggalkannya.Tanpa pedulikan suara pak Warno
ia keluar dari kamar.
Pak Warno ketakutan melihat ular yang begitu besar keluar dari
kamarnya. Ia pun mencari istrinya. Ia dapati istrinya tidur di dipan ruang
depan dalam rumahnya. Pak Warno semakin merasa takut. Siapa yang tidur
bersamnaya tadi? siapa yang berlalu meninggalkannya keluar dari kamar itu?. Pak
Warno tidak tega membangunkan istrinya yang kelihatannya sangat lelah setelah
seharian bekerja untuk memanen padi di sawah. Untuk musim panen kali ini
sungguh di luar dugaan. Panen bu Darmi begitu banyak bahkan tiga kali lipat
lebih banyak.
Di pagi hari Pak Warno dengan sedikit ragu menanyakan pada istrinya kejadian yang hampir tiap malam
Pak Warno lakukan. Bu Darmi begitu kaget karena selama ini tidak merasa tidur
bersama Pak Warno apalagi sampai melakukan sesuatu. Segera Pak Warno
menceritakan hal yang di alaminya. Bu Darmi tercengang dengan hal itu. Pak ada
apa dengan bapak ada apa dengan keluarga kita. Pak Warno pun ingat akan suara
yang di dengar di sawah waktu itu bahwa “jika kamu ingin panen melimpah maka
harus menuruti keinginanku” setelah mendengar suara itu langsung ada ular yang
melintas. Pak warno ingat dengan jelas kejadian itu.
Malam nanti Pak Warno akan benar-benar memperhatikan apa yang akan
terjadi pada dirinya. Malam itu Pak Warno pura-pura tidur. Pintu kamar dengan
pelan terbuka namun tidak di dapati ada orang yang masuk. Angin berhembus
masuk kamar dan ruangan menjadi sangat
dingin. Pak warno melihat dengan tidak begitu jelas ada ular besar masuk ke
kamarnya Pak Warno merinding namun tetap ia tahan rasa takut yang menyelinap
dirinya. Ya ular itu perlahan berubah menjadi manusia dengan paras cantik dengan rambut panjang terurai.
Semakin merinding bulu kudu Pak Warno.
Perlahan rupa cantik berubah menyerupai wajah istrinya lalu
mendekati Pak Warno. Segera Pak Warno membuka mata dan bertanya pada wanita
itu. “Siapa kamu? Apa yang akan kau lakukan ? jangan mendekat ! ucap Pak Warno.
Wanita itu pun tertawa, “apa kamu bilang aku tidak boleh mendekat ? kamu sudah
siap panenmu yang tiga tahun terakhir
ini melimpah akan kembali seperti dulu dengan hasil yang pas-pasan. Kamu lupa
dengan kata-kataku. Kenapa kamu bilang apa yang kamu alami malam-malam kita
selama ini”.Ucap wanita itu. “Hentikan
hentikan semua !”. Pak Warno dengan nada
tinggi mengucapkan agar wanita itu pergi dan jangan kembali lagi. Seketika wanita itu berubah menjadi ular dan
meninggalkan kamar itu, hawa dingin yang menyelinap pun segera hilang.
Pak Warno kemudian sadar akan hal yang di alaminya. Menyesal, takut
dan entah perasaan apa lagi yang membelenggu hatinya. Ia segera menjumpai
istrinya ia menangis dan meminta maaf atas keteledorannya. Istrinya pun hanya
bisa menangis dan berusaha memaafkan suaminya. “ Mak maafkan aku ya, aku tertarik
dengan hasil panen melimpah , tidak tau jika ternyata aku harus balas dengan
hal itu. Aku hanya berpikir bagaimana hasil panen kita melimpah,namun ternyata
aku ambil jalan yang salah. Aku mengikuti keinginan ular itu dengan setengah
sadar mak, maafkan aku ya “.
“Bapak aku maafkan pak, namun yang terpenting bapak harus memohon
ampun pada Allah Tuhan yang maha pengampun dan yang kuasa atas dirikita”, ucap Bu
Darmi. Jangan hanya karena kepuasaan sesaat kita keluar dari jalanNya. Setiap jiwa
sudah mendapatkan rijkinya masing-masing pak, semua sudah di atur olehNya. Jadi
kita tidak perlu kwatir dengan rijki kita. Bapak harus lebih dekat dengan Allah
dan selalu meminta hanya padanNya jangan yang lain”. Jika memng rijki kita masih jauh ya yang
penting kita berusaha dan sabar pak.
“ Iya mak aku hilaf aku hanya ingin mendapatkan yang lebih dengan
cepat, ternyata imbalan yang di minta ular itu sangat keterlaluan. Semoga aku
terlepas dari kejaran ular itu ya mak. Aku ingin kembali normal “. Semoga Allah
mengampuniku. Aamiin serentak bu Darmi dan pak Warno mngucapkannya.
Tanpa terasa telah tiga tahun kejadian yang menimpa pak Warno dan
bu Darmi dengan panen yang melimpah. Tidak tau apa yang akan terjadi ke depan yang
jelas pak warno sudah bertaubat dan bu Darmi telah memaafkan Pak Warno. Harapan
mereka, Allah mengampuni kesalahan Pak
Warno dan Allah akan selalu memberi rahmat,rijki dan apa yang di butuhkan oleh
keluarga pak Warno dan bu Darmi.
Panen berikutnya ternyata keluarga Bu Darmi mengalami penurunan
entah apa sebabnya,namun mereka tetap sabar dan terus berusaha serta berkeyakinan
Allah akan selalu memberi rijki pada ummatnya dengan jalanNya. Kwajiban kita ihtiyar
selanjutnya serahkan pada Allah SWT apapun hasilnya kita harus bisa terima
dengan iklas.
Salam literasi,Nubarmisteri September 2020
Gunungkidul.21 September 2020
Wahhhh mantab Buuuu, cerit Bu Darmi n Pak Warno
BalasHapusHihi iya bu ismi
HapusWaoww..mbk atik cerita misteri mengalir lancar bak air...jos
BalasHapusSerem jg mb.. Ulat hijau nya..hii
HapusDeg degan says bacanya.Sayss pernah dengar adajuga anak gadis yang kerap didatangi ular.
BalasHapusIya bund.
HapusMisteri banget Bu....
BalasHapusIya bu ana..sakam litetasi...
HapusSangat seru ceritanya.
BalasHapus