Tulis yang Kita Lakukan, Lakukan yang Kita Tulis
Cari Blog Ini
Kamis, 07 Oktober 2021
Vaksin
Minggu, 03 Oktober 2021
Disiplin dengan Terbiasa Salat
Disiplin dengan Terbiasa Salat
Teeeet teeeet
teeeeet, bel tanda masuk kelas berbunyi. Para siswa yang asik bermain di
halaman sekolah berlarian masuk ke kelas masing-masing. Tak terkecuali aku, Rian,
dan Cisby.Kami siswa kelas 3 yang selalu bersama dalam kegiatan apapun. Setelah
sampai kelas kami sempat berbincang tentang pelajaran dan tugasnya.
“Al, hari ini
ada pelajaran PAI, ya,” tanya Cisby.
“Ada, Cis. Kita
ada tugas lhu,” jelasku.
“Masa sih, ga
ada Al, kita cuma diminta untuk mengisi ceklis pada lembar kegiatan ibadah,” ucap
Cysbi.
Belum selesai kami
bercakap, Ibu Guru sudah masuk ke dalam kelas dan menyapa para siswa. Semangat kami
muncul ketika sudah melihat Bu guru cantik dan murah senyum ini. Setelah salam,
menanyakan kabar dan mengabsen semua siswa. Bu Guru menanyakan tugas yang di
berikan pada kami.
Satu persatu
kami menunjukkan tugas kami, ada beberapa dari kami yang tidak mengeluarkan
tugas mereka, tidak juga Rian teman kami.
“Terimakasih
anak-anakku kalian sudah mengerjakan tugas, dan Ibu harap apa yang kalian tulis
di lembar tugas ini bisa rutin kalian kerjakan ya, tidak hanya sebatas untuk
mengerjakan tugas dari Ibu, tapi kalian amalkan terus setiap hari.”
Panjang lebar
Bu Guru menjelaskan pada kami. Bu Guru mengecek satu persatu tugas kami, sampai pada tempat duduk Rian, Bu Guru
berhenti lama. Di atas meja Rian, tak di jumpai selembar kertaspun.
“Lhu, Nak. Kok
tugasnya belum dikeluarkan,”? tanya bu guru.
“eee eeee, “
agak gugup Rian menjawab.
“Ayo keluarkan,
coba Ibu cek,”pinta Bu Guru.
“Maaf bu saya
tidak mengisi lembar kerja itu karena saya belum bisa bacaan salatnya, dan saya
belum melaksanakan salat,” ucap Rian.
“O… jadi itu
alasan kamu tidak mengerjakan tugas ya,” tanya Bu guru lagi.
“Iya, Bu,”
jawab Rian.
“Seperti yang
minggu lalu Ibu sampaikan, kalian bisa mengerjakan salat tanpa harus hafal
semua bacaanya, tapi yang terpenting kalian bisa baca Surat Al-Fatihah dulu ya,
pelan-pelan sambil menghafal bacaan yang lainya kalian tetap melakukan salat.
Yang terpenting kalian sudah terbiasa melakukan salat tepat pada waktunya,” jelas
Bu Guru
“Tapi, Bu. Kata
Aldi salat harus benar bacaannya dan hafal semua,” sangkal Rian.
“Benar, dalam
salat bacaan yang kita baca harus hafal dan tepat serta di pahami maknanya agar
salat kita khusuk, tapi jangan jadikan alasan belum hafal bacaannya lalu
meninggalkan salat,” jelas Bu Guru.
Semua siswa
memperhatikan penjelasan Bu Guru dengan baik.
“Jika menungu
kita hafal semua bacaannya baru salat maka kita tak akan salat, karena setiap gerakan
salat berbeda bunyi bacaannya. Jadi pelan-pelan kalian menghafalnya ya, yang
penting niat untuk mempelajari, menghafal dan mengamalkannya,” lanjut Bu Guru.
“Iya Bu Guru,”
jawab anak-anak begitu kompak.
“Jadi sekarang
tak ada alasan lagi untuk tidak salat ya, karena dalam salat itu banyak
mengandung pelajaran, diantaranya melatih kita untuk disiplin dan menghargai
waktu. Dengan kita rajin salat tepat waktu maka kita akan terbiasa melakukan
tanggung jawab kita dengan baik dan jika salatnya baik maka baik pula amalan
lainya. Kalian mengerti?
Aku dan
teman-teman pun semakin paham dengan penjelasaan Bu Guru tentang salat dan
maknanya. Sejak saat itu aku selalu melaksanakan salat walaupun bacaan salatku
belum hafal semua. Aku tidak malu bertanya pada temanku yang sudah hafal. Setiap
hari aku tahu kekurangan bacaan salatku, setiap hari pula aku rajin mempelajarinya.
Sedikit- sedikit akhirnya aku sekarang bisa menghafal bacaan dalam salat.
Terimakasih Bu
guru atas bimbingan salatnya. kegiatan salat duhur berjamaah di sekolah saat
jam istirahat menjadikan kami lebih disiplin dan menghargai waktu. Setelah
terbiasa salat tanpa diminta pun aku, Rian dan Cisby selalu menunaikannya. Kami
sadar bahwa salat merupakan tanggung jawab kami sebagai seorang muslim.
#30daysreadingastorywithyourkids
#onedayonestory
Gunungkidul, 3 Oktober 2021
Kamis, 30 September 2021
Kegiatan KKG GPAI Kabupaten Gunungkidul
KEGIATAN KKG GPAI KABUPATEN GUNUNGKIDUL
Kegiatan Kelompok Kerja Guru Pendidikan Agama Islam yang di
selenggarakan tiga bulan sekali, agenda rutin KKG GPAI ini diselenggarakan di Resto
Rakyat Remen Temen Ledoksari Wonosarai. Kegiatan koordinasi antara pengurus KKG PAI SD Kabupaten
Gunungkidul ini membahas tentang koordinasi kegiatan dengan MEDA dan pembinaan dari Kasi PAIS serta informasi
Aplikasi GPAI.
Acara dibuka dengan membaca basmalah dan dilanjutkan dengan
sambutan ketua KKG Bapak Supriayanto,S.Pd.I. Dalam
sambutanya beliau mengucapkan terimakasih atas kesediaan bapak ibu pengurus KKG
dan juga korcam yang telah meluangkan waktu dan hadir dalam kegiatan rutin tiga
bulanan ini. Dalam kesempatan ini di
harapkan para pengurus KKG dan korcam untuk tetap semangat dalam melaksanakan
tugasnya walau beberapa agenda sempat tertunda karena adanya wabah corona. Semoga kedepan menjadikan lebih baik dan lebih maju.
Acara kedua yaitu pembinaan dari Kasi Pais Kabupaten Gunungkidul
oleh Bapak Faqih Somadi. Beliau menyampaikan bahwa sesungguhnya rizki yang kita peroleh
bukan hanya sekedar rizki secara finansial, namun rizki kita bisa berupa teman,
sahabat yang mampu mengajak kita pada kebaikan dan bisa membantu kita dalam
keadaan apapun. Untuk itu kita wajib bersyukur dengan apa yang telah kita dapati.
Yaitu dalam hal ini kita dikumpulkan dengan
forum ini adalah hal yang begitu indah. Kita dapat berbagi, bercerita pengalamam
dalam mengajar dan dapat bertukar ilmu, menjenguk saat teman kita sakit dan banayk hal yang kita dapati bergabung dalam kelompok ini.
Selanjutnya Bapak Faqih mennyampaikan 4 tabungan surga yaitu :
1.
Iklas
bersodaqoh atau tak memunculkan.
Banyak kita jumpai dalam kehidupan kita sehari-hari yaitu bahwa “tangan kanan memberi, tapi tangan
kiri selfi”
Artinya sama halnya kita memberi namun bisa jadi riya’. Untuk
menjaga hal itu maka saat kita memberi sebaiknya tak dipamerkan melalui sosial
media.
2.
Menyembunyikan
musibah
Hidup tak selamanya sesuai yang kita harapkan kebahgian kesedihan
kadang datang menghampiri kita. Saat kita musibah tak perlu kita perlihatkan
pada orang lain agar mendapatkan simpatnya. CUkup kita terima dan kirta
serahkan pada Allah SWT. Memohon agar di bebaskan dengan musibah dan kesedihan.
Kita mohon ampun kepada Allah SWT.
3.
Mempererat
silaturahmi
Dengan kita bersilatuhami maka kita bisa saja menyenangkan orang lain
misal saat kita jenguk teman kita yang sakit, kita hibur dia kita ajak
bercanda tersenyum bersama itu dapat membuat senang orang yang sedang sakit.
4.
Mengucapkan
laaa haula wala kuata illa billa
Saat kita berusaha ihtiyar untuk mencapai apa yang kita inginkan
alangkah baiknya untuk selalu memohon
bimbingan dari Allah SWT. Kita berdoa
dan selanjutnya kita tawakal kepada Allah. Serahkan apa yang telah kita
ihtiyarkan niscaya apapun hasilnya kita tidak akan kecewa jika berhasil maka
kita tidak terlalu senang dan jika tidak berhasil maka kita tak perlu sedih
berlebihan. Kita yakin bahwa semua yang terjadi adalah hal terbaik yang Allah
berikan kepada kita.
Bapak Faqih juga menghimbau agar para guru bisa mulai menghafal undang-undang
ataupun SK Dirjen terkait dengan tugas kita sebagai guru. Beliau juga mengajak
pada kita agar hafal materi yang telah kita ajarkan. Sebagai guru untuk
kompetensi yang harus dikuasai adalah 4 yaitu, pedagogik, kepribadian,profesional
dan sosial ini menurut UU tahun 2005 sedangkan untk UU tahun 2011 di
tambahkan dua kompetensi yaitu leadership dan religius.
Untuk acara ketiga yaitu informasi dinas dari Bapak Sutadi.
Progres pendataan Emis semester ganjil 2021/2021 mengalami
penurunan peringkat nasional turun menjadi peringkat 14 yang sebelumnya
menduduki pringkat kesepuluh.sedangkan untuk DIY Gunungkidul mendapatkan
peringkat 3 yang selisih dengan kabupaten Sleman sebagai peringkat 2 sangat banyak.Untuk itu di
harapkan GPAI segera updating data Emis. Bulan oktober ini di harapkan semua
GPAI baik ASN ataupun Non ASN sudah mengerjakan. Batas waktu pengisian sampi
tanggal 31 Oktober 2021.
Jika di masing-masing kecamatan terdapat guru yang belum masuk
siaga, di harapkan sinkron ke dapodik kemudian mengirimkan NIK agar bisa
di proses ke SIAGA. Karena jika sudah masuk di SIAGA maka yang bersangkutan dapat
mengrtahui segala info mengenai PPKB, Pretest dan lain-lain. S1 semua jurusan yang
mengajar PAI bisa masuk ke SIAGA namun untuk PPG belum bisa karena belum
linier.
Bagi guru PAI yang berijazah Bahasa Arab itu tidak masuk karena Bahasa Arab masuknya ke Bahsa Asing.
Jadi tidak linier jika mengajar PAI.
Terkait pencairan TPG unuk mengikuti yang TPG agama non Islam yang
di cairkan perbulan agar tidak jadi kesenjangan maka untuk PAI juga kedepan
akan demikian yaitu cair setiap bulan sekali.
Mohon di perhatikan untuk pengumpulan berkas di harapkan melalui korcam
masing-masing jika saja korcam tidak bisa maka di harapkan saat mengumpulkan
berkas ada pemberitahuan sebelumnya apa alasan tidak bisa mengumpulkan.
Info untuk guru NIP Kemenag wajib menggunakan absensi online. Tunjanagn
akan disesuakan dengan absensi online jika ada keterlambatan dalam presensi maka
akan dipotong. Perhitungan pemotongan tergantung berapa menit keterlambatanya
Demikian hasil dari koordinasi KKG GPAI kabupaten Gunungkidul
semoga bermanfaat dan dapat segera di tindak lanjuti tentang tugas-tugas yang
harus diselesaia terkait pendataan Emis.
NB : Dari Pak Supriyanto menambahkan
terkait dengan soal PAS, KKG kabupaten akan menunjuk tim pembuat Soal. Jadi soal PAS disediakan oleh KKG Kabupaten.
Yang kedua untk pembayaran Buku LKS monggo segera dibayarkan karena
sudah memasuki bulan Oktober.
Tepat pukul 15.00 WIB acara selesai dan kegiatan di tutup dengan
membaca hamdalah bersama-sama.
Gunungkidul, 30 September 2021
Rabu, 29 September 2021
Suka Duka Pembelajaran di Masa Corona
SUKA DUKA PEMBELAJARAN DI MASA CORONA
Pada bulan Maret 2020 tepatnya pada tanggal 16 Maret 2020 merupakan awal sejarah bagi dunia
Pendidikan di Indonesia. Paendemi Covid-19 melanda keseluruh negeri, pemerintah mewajibkan semua
siswa dari jenjang TK/PAUD,SD/MI,SMP/MTS,SMA/MASMK dan PT untuk
WFH, demikian guru harus work from home dengan menerapkan pembelajaran
jarak jauh atau lebih di kenal dengan belajar daring ( dalam jaringan).
Sejak keluarnya peraturan pemerintah tersebut mau tidak mau guru
harus berusaha agar mampu melaksanakan pembelajaran secara online, namun tetap
bisa dirasa menyenangkan oleh siswa. Bagaimanapun kondisi Indonesia saat
ini pembelajaran harus tetap berjalan. Pembelajaran
secara daring harus diterapkan agar peserta didik tidak kehilangan haknya untuk
mendapatkan pengajaran dan pendidikan
yang layak sebagimana yang di amanatkan pada pasal-pasal dalam UUD 1945. Di
masa Pandemi ini guru di tuntut untuk lebih cerdas, aktif, kreatif dan inovatif
dalam menjalankan tugasnya.
Banyak guru mengalami kesulitan yang sama dalam menyampaikan
pembelajaran daring tersebut. Di karenakan pembelajaran selama ini masih di lakukan secara klasikal tatap muka
dimana guru belum dapat mengoptimalkan berbagai media pembelajaran yang ada
terutama media online dalam jaringan. Tidak hanya guru siswa pun juga merasa
tergopoh-gopoh untuk beradaptasi dengan
pembelajaran online ini karena pembelajaran yang di alami saat ini
merupakan hal baru dan di rasa cepat bagi mereka.
Begitu pula dengan orang tua di rumah yang harus mendampingi putra
putri mereka untuk belajar online ini, mereka merasa punya tugas baru
untuk mengawasi, mendampingi belajar putra putri mereka dan membantu untuk
menyelesaikan tugas-tugas yang di berikan guru terutama anak-anak di jenjang
TK/PAUD SD/MI mereka belum bisa mandiri dan masih sangat tergantung dengan
orang tua. Banyak para orang tua yang mengeluhkan hal tersebut. Orang tua yang
tidak memiliki latar belakang pendidik di paksa harus menjadi pendidik atau
guru dengan secara tiba-tiba.
Selain harus mendampingi anak belajar bagi orang tua yang bekerja
maka harus benar-benar bisa membagi waktu dengan baik, mereka dituntut untuk
menyelesaikan tugasnya dan juga harus bisa dampingi anak belajar. Hal
ini menjadikan orang tua yang kurang siap dengan keadaan ini akan merasa stress. Belum lagi jika satu
rumah hanya memiliki satu Hp yang harus
di gunakan beberapa anak mereka. Juga karena kendala jaringan atau sinyal
kurang kuat membuat anak-anak merasa kurang fokus dengan pembelajaran. Di
kota-kota besar mungkin tidak masalah namun untuk di daerah tertentu atau di pegunungan maka akan sangat
menghambat pembelajaran jarak jauh.
Anak-anak merasa lebih nyaman belajar bersama gurunya di
sekolah. Jika di sekolah mereka bisa
menghilangkan penat saat belajar dengan bermain bersama-teman-teman mereka,
namun dirumah mereka hanya belajar sendiri yang membuat anak-anak kangen
suasana sekolah dan jenuh dalam belajar. Di sini di tuntut peran guru
dan orang tua agar pembelajaran di rumah tidak lagi membosankan.
Kendala atau hambatan yang di rasakan guru, orang tua ataupun siswa
sebenarnya ada hikmah yang dapat kita ambil. Dimasa pandemi ini kita harus bisa
mengambil peluang yang ada jangan jadikan covid-19 sebagai sebuah musibah yang
menyeramkan menakutkan bahkan sampai membuat kita putus asa. Justru dengan
adanya wabah ditengah kesulitan yang ada, kreativitas harus keluar agar kita dapat bertahan dan
menang menghadapi wabah tersebut. Dari pandemi ini kita bisa ambil sisi
positifnya, banyak hal baru yang bisa kita pelajari dan kita peroleh.
Sebagai orang tua kita bisa banyak waktu bersamai anak-anak kita di
rumah. Semua aktivitas di rumah
manjadikan keluarga kita semakin harmonis, kita benar-benar bisa dampingi anak
belajar dan berperan langsung untuk pendidikan mereka. Kita bisa mengetahui perkembangan anak-anak dan kekurangan-kekurangan mereka. Dengan
demikian maka sebagai orang tua kita baru merasakan betapa jasa guru itu begitu
besar. Ternyata tugas guru sangatlah berat. Mendidik satu dua anak saja orang
tua begitu susah apalagi guru-guru yang harus mendidik berpuluh puluh siswa.
Sebagai guru kita harus belajar meningkatkan kompetensinya, harus
bisa mengajar dengan menggali berbagai ilmu untuk menunjang pembelajaran
jarak jauh agar bisa berjalan sesuai yang di harapkan pemerintah dan juga semua
pihak. Webinar-webinar dapat kita ikuti untuk menambah wawasan dan ilmu dalam
pelaksanaan pembelajaran jarak jauh.
Guru harus kreatif dalam memodifikasi metode pebelajaran yang di
gunakan agar pembelajaran jarak jauh bisa menyenangkan. Kita di tuntut untuk
mampu membuat pembelajaran dengan menggunakan berbagai metode. Apapun
metodenya yang terpenting semua siswa
bisa menerima dan bisa masuk ke hati siswa.
Kita juga bisa memanfaatkan TIK yang tersedia, serta kita harus tetap
tenang dalam menghadapi siswa dengan segala keterbatasanya. Sejatinya guru dan
siswa harus bisa berinteraksi sebagaimana orang tua dengan anaknya. Sering
berdialog adalah hal yang terpenting baik dengan orang tua ataupun dengan siswa
kita. Terakhir kita bisa tarik kesimpulan dan kita review apa yang telah kita
lakukan. Selanjutnya kita bisa tutup
pelajaran dengan kalimat-kalimat hikmah dan kebaikan.
Dari pembelajaran yang telah dilaksanakan di era pandemi ini hal
yang paling disukai oleh siswa dan guru
adalah adanya pembelajaran yang lain dari biasanya, baik siswa atau guru kini
bisa mengenal berbagai aplikasi pembelajaran. Pembelajaran melalui video-vidio
youtube yang membuat siswa tidak bosan. Aplikasi-aplikasi yang membuat siswa
dan guru tertantang sehingga membuat semangat dalam mengikuti pembelajarn
daring. Guru yang semula hanya pasif kini harus aktif menggali hal baru untuk
menunjang pembelajaran. Selain itu dalam pembelajaran jarak jauh ini kita
merasakan duka. Saat pelaksanaan pembelajaran berlangsung tiba-tiba terhambat
oleh jaringan sehingga terpaksa siswa keluar dalam kegiatan zoom dan harus
menyimak lagi pembelajaran yang sudah di laksanakan.
Adanya hambatan dan tantangan yang ada dibutuhkan kolaborasi
yang baik antara guru, siswa dan juga orang tua agar pelaksanaan PJJ dapat
berjalan dengan baik dan lancar.
Harapan semoga pandemi covid-19 segera berlalu dan meninggalkan
bumi kita, sehingga pembelajaran bisa di laksanakan seperti dulu. Ilmu baru
yang di dapat selama pandemi bisa dijadikan hal baru untuk meningkatkan
kualitas pembelajarn yang lebih baik dan menyenangkan.
Gunungkidul, 30 Sepetember 2021
Minggu, 26 September 2021
Berlatih Berkurban
Berlatih Berkurban
Bulan Dulhijah telah tiba, Ibu guru mengingatkan siswanya untuk
melaksanakan amalan-amalan yang baik dilaksanakan di bulan Dulhijah. Amalam
yang di anjurkan untuk di laksanakan di bulan Dulhijah adalah menyembeleh hewan
kurban seperti yang di contohkan oleh Nabi Ibrahim As. Allah telah memberi
nikmat yang banyak, kita sebagai seorang muslim maka di perintahkan untuk salat
dan berkurban.
Ibu guru juga mengingatkan untuk setiap siswa berlatih berpuasa di
tanggal 9 Dulhijah. Sebelum ibu guru melanjutkan pelajaran, Bu guru menanyakan
pada siswa apakah hari ini anak-anak berpuasa sunah.
“Selamat pagi anak-anak, bagaimana keadaan kalian hari ini?” sapa
Ibu Guru.
“Pagi Bu, kami semua sehat,” jawab para siswa.
“Bagaimana hari ini, apakah kalian berpuasa sunah?" Tanya Ibu Guru.
“Puasa, Bu,” jawab Amir.
“Puasa, Bu,” siswa lain menimpal.
“Saya tidak, Bu,” jawab Rian.
“Tidak apa-apa, Rian. Puasa sunah 9 Dulhijah ini dianjurkan untuk
orang yang agama Islam . Jadi kamu tak
perlu melaksanakan puasa ini.” Jelas Bu Guru.
“Baik,Bu,” jawab Rian.
Bu Guru melanjutkan pelajaran hingga tak terasa jam istirahat tiba.
Siswa-siswa berhamburan keluar kelas. Ada yang bermain ada yang pergi ke kantin
ada juga yang pergi ke perpustakaan. Begitu pula Rian dan Amir. Dua orang
sahabat ini selalu kemana-mana berdua. Walaupun berbeda agama namun mereka
tetap rukun sejak kelas 1 berteman tak pernah di jumpai saling bertengkar.
“Rian kamu ga jajan ke kantin?" tanya Amir.
“Tidak, Mir. Kamu kan puasa. Aku takut mengganggu,” jawab Rian.
“Tidak apa-apa, Rian. Kamu jajan saja,” perintah Amir.
“Tidak,Mir. Aku kan tetap bersamamu di sini. Kita baca buku cerita
saja yuk,” ajak Rian.
“Maaf ya, An. Gara-gara aku puasa kamu ga jajan hari ini,” ucap
Amir.
“Iiih apaan sih, Mir. Bukan gara-gara kamu, tapi aku memang ga mau
jajan,” jelas Rian.
“Iya deh, makasih ya, An. Kamu selalu bersamaku, bahkan saat aku
berpuasa kamu rela tak jajan,” ucap Amir.
“Iya ga pa-pa,” senyum Rian mengembang.
Amir dan Rian pun tersenyum bersama dan melanjutkan untuk membaca
buku cerpen di perpustakaan sambil menunggu bel masuk berbunnyi.
Selain melatih siswa berpuasa Bu Guru juga mengajak para siswa
untuk latihan mengeluarkan infaq di setiap hari jumat. Uang yang terkumpul
selama setahun di gunakan untuk membeli hewan kurban. Bukan hanya siswa, guru
pun demikian para guru setiap bulan mengumpulkan dana dan di belikan hewan
kurban juga untuk di sembelih di hari raya idul Adha.
Para siswa sangat senang sekali dalam acara penyembelihan hewan
kurban mereka antusias untuk membantu pelaksanaanya. Dengan di beri tugas untuk
ikut memotong hewan kurban, mereka sangat senang sekali. Mereka di pandu dengan guru masing-masing.
Tentu tidak semua ikut membantu hanya siswa di kelas atas saja yang sudah di
anggap mampu, untuk yang kelas rendah mereka bertakbir dan juga melihat proses
penyembelihan hewan kurban.
“Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar… lha ilaha ilallah hu
Allahu akbar Allahu akbar walilah hilham.”
Bersahut-sahutan takbir berkumandang. Menambah semangat siswa dan
juga semua warga sekolah untuk menyelesaikan proses penyembelihan hewan kurban.
“Anak-anak hati-hati memotong dagingnya ya, pisaunya tajam.” Kata
Pak Rifa’i.
“Iya, Pak,” sambut anak-anak.
Di sela-sela
mereka bekerja menyelesaikan tugas untuk memotong hewan daging, tiba-tiba salah
satu siswa bertanya pada Pak Rifa'i.
"Pak,
Apakah Rian akan di beri bagian juga?" tanya Nino.
"Iya, No.
Semua siswa di SD ini akan mendapatkan jatah daging kurban ini, tanpa
terkecuali," jawab Pak Rifa'i.
"Harusnya
ga usah Pak kan dia tak beragama Islam mengapa harus diberi," protes Nino.
"Nino,
agama kita ak mengajarkan seperti itu. Bukannya memberi itu suatu kebaikan.
Apalagi ini moment yang tepat untuk kita bisa berbagi, dan berbagi itu tak di
batasi hanya satu agama saja, No," jelas Pak Rifa'i.
"Waah enak
dong, Pak. Mereka dapat jatah juga, padahal kaan ...," Nino tak melanjutkan
kata-katanya.
"Sssssssst...
Nino tak boleh begitu ya, kita harus bisa berbagi, kita hanya dilarang untuk
toleransi dalam hal akidah saja selebihnya kita harus bisa bertoleransi dengan
agama apapun dalam hal lain," himbau Pak Rifai'.
"Iya,
PAk," jawab Nino.
Nino pun akhirnya paham dengan apa yang disampaikan Pak Rifa'i.
Mereka melanjutkan tugas mereka dengan baik.
Pak Rifa’i bertugas menimbang jumlah daging yang akan dibagikan kepada siswa. Sementara guru yang lain juga ikut memotong memberi contoh ke para
siswa. Para ibu guru sibuk menyiapkan plastik dan segala peralatan yang di
gunakan untuk daging yang akan di bagikan siswa. Ada besek dan juga daun untuk
membungkus daging kurban. Daun yang digunakan tak perlu membeli namun para
siswa membantu membawa dari rumah.
Siswa di SD kami tidak semua beragama Islam. Ada beberapa siswa
yang beragama lain mereka tetap di beri bagian daging kurban. Setelah semua
siswa yang bertugas dan juga Bapak Ibu guru selesai dalam menyiapkan pembagian
hewan kurban. Maka bungkusan daging yang sudah di bagi perkelas segera di bawa
ke kelas masing-masing. Para siswa pun bergegas untuk mengangkat daging-daging
tersebut.
Rian dan juga teman-teman yang tidak beragama Islam pun juga di
minta masuk sekolah untuk langsung bisa
menerima daging kurban. Di mulai dari siswa kelas satu dan dilanjutkan kelas
dua dan seterusnya sampai kelas enam, akhirnya selesai sudah pembagian hewan
kurban. Ada perasaan lega dan bahagia bisa berlatih berkurban dan juga langsung
berperan dalam pelaksanaan penyembelehan hewan kurban di sekolah.
“Terimaksih anak-anakku, atas partisipasi kalian penyembelehan dan
pembagian hewan kurban di SD kita berjalan dengan lancar.” Kata Ibu Kepala
Sekolah saat menutup kegiatan di siang itu.
“Sama-sama, Bu. Kami sangat senang bisa ikut membantu pelaksanaan
penyembelehan dan pembagian hewan kurban tahun ini,” jawab Amir.
Acara ditutup dengan berdoa dan para siswa pun pulang ke rumah
masing-masing dengan suka cita. Amir dan Rian pun pulang dan berencana untuk
membuat sate dari daging yang mereka dapatkan dari sekolah.
#30daysreadingastorywithyourkids
#onedayonestory
Gunungkidul, 26 Sepetember 2021
Kamis, 23 September 2021
Mega, Lintang, Buana
Mega, Lintang, Buana
Di sudut kota
Kupandang awan bermahkota
Mega mendung terlihat tertata
Sungguh elok ciptaan-Nya
Jingga senja tak nampak olehnya
Padahal sudah waktunya
Tuk tunjukkan keindahanya
Dua insan saling menyapa
Jarak jauh tak mengapa
Menahan lara dan nestapa
Berharap tuk segera jumpa
Malam menyapa hadirkan kerlip lintang
Terbayang sosok yang tersayang
Langitkan doa pada Ilahi Rabbi
Agar selalu dilindungi
Jiwa tenang menghampiri
Tak lagi bersedih hati
Yakin sapa mentari pagi
Hangatkan insan penghuni buana
Bersyukur tuk semua
Atas anugrah Tuhan yang kuasa
Niscaya kan bertambah nikmat-Nya
#KamisMenulis
#SahabatLagerunal
Gunungkidul, 23 September 2021
Rabu, 22 September 2021
Rindu Hadirmu
Rindu Hadirmu
Hujan selalu berhasil memaksaku untuk mengingatmu. Rintiknya mampu mengantarkanku pada masa dimana saat itu kita harus berpisah. Aku tau kau pergi untuk kembali. Rasa yang membuat kita yakin akan pertemuan nanti.
Dua bulan berlalu dari hari itu, di setiap detik waktu hanya ada
namamu yang terukir indah di relung hatiku.Ya kamu hanya kamu. Aku tak tau
kenapa nama itu sudah terpatri disana, mungkin karena kamu, aku bisa merasakan
arti dari sebuah perjuangan, pengorbanan dan arti cinta kasih. Kau mampu buatku
bertahan di saat gelombang datang menghadang. Bangkit dari keterpurukan yang
akhirnya bisa menatap hari esok dengan kehangatan sang mentari.
Kini aku sendiri berkalut dalam sepi, tiada tantangan, tiada canda
tawa, tiada saat kau memintaku membuat sesuatu yang harus ku kirimkan untukmu.
Aku rindu itu, rindu semua tentangmu. Pagi ini tiba-tiba ku tergerak tuk
menyapamu tulis sebait kata untuk tuangkan rasa.
Kasih….
Terukir Indah
Sesaat bersamamu
Hariku berseri arumi
Tiba Saat kau berlalu pergi
Terasa sepi menyayat hati
Ku ingin kau kembali menemani
Aku tak bisa sendiri
Kuingin kau di sini
Lengkapi hari-hari
Tuk wujutkan mimpi
bersama kita sambut Mentari
Kasih
Maukah kau berjanji
Tak kan tinggalkan ku lagi
Agar hati tenang kembali
Riuh rindu berujung temu
Berlabuh pada titik cumbanarasa
Menyatu hatiku hatimu dalam balutan rindu
Hari ini esok selamanya
Sakit yang mengimpit terkalahkan oleh doa. Lagu sebagai pengobat
rindu, tak pernah terkekang oleh waktu. Rindu menyatu dalam balutan kasih.
Tiada yang mampu menghentikannya. Hanya kau dan aku satu selamanya.
Belajarlah seperti hujan, meski terjatuh berulang kali namun tidak
pernah berhenti memberikan ketentraman dan kesuburan pada bumi walau kita tahu
terjatuh itu sangat sakit. Sebab setelah hujan selalu ada seseorang yang datang
sebagai pelangi, dan memelukmu. Aku ingin orang itu selamanya. Orang itu adalah
kamu yang sudah terukir jauh di relung hatiku.
Hujan dan kamu adalah rindu. Kita kan menikmatinya dalam
senja-senja beranjak pulang. Dalam rasa sayang
yang tak akan pernah hilang. Bahkan saat hujan telah berhenti.
Jika hujan adalah kesedihan, matahari adalah kebahagiaan maka kita
butuh keduanya untuk bisa melihat pelangi.
Gunungkidul, 23 Sepetember 2021
Ramadan Sebagai Sarana Mensucikan Nafsu
Ramadan Sebagai Sarana Mensucikan Nafsu Allahuakbar Allahuakbar gema takbir berkumandang. Sebulan telah berlalu tibalah kita di...
-
Sayur Cinta Untuk yang Terkasih Sebagai seorang istri tentunya harus bisa memasak untuk suami dan keluarga. Jika seorang istri tak bisa ...
-
Bunga Bunga indah Harum mewangi Kehadiranmu selalu dinanti Sebagai penyejuk hati Menemani sang mentari Melati, anggr...
-
Terima, sadari , perbaiki Mendengar suaranya benci apalagi sampai melihat wajahnya. Bagaimana tidak aku menganggap d...


