Cari Blog Ini

Jumat, 05 November 2021

Yuk Kelola Jejak Digital dengan Baik

 

Yuk Kelola Jejak Digital dengan Baik


Pertemuan ke 2 Pelatihan Guru Motivator Literasi Digital Rabu, 3 November 2021 ini akan dilakukan melalui WA grup akan mendapatkan materi dari narasumber hebat Bapak Dedi Dwitagama. Beliau adalah guru Matematika di SMKN 50 JAKARTA TIMUR, selain itu beliau adalah Guru Motivator, pembicara ke berbagai kegiatan seminar dari sabang sampai merauke.


Sesuai permintaan Nara sumber grup  akan tetap dibuka untuk lamgsung berinteraksi dengan para peserta. Kegiatan di buka dengan berdoa membaca basmalah

Sebelum memulai kegiatan Pak Dedi meminta peserta ada yang menjadi relawan untuk menjawab pertanyaan apakah peserta sekolah dari Tk sampai perguruan tinggi bisa menceritakan adakah guru atau dosen yang di kenang dan kenapa mengenangnya sebagai orang yang luar biasa .

Dari peserta GMLD ada yang berkenan menjawab yaitu ibu Eka  yang menceritakan guru Matematika SMP yang bernama bapak Sabar. Beliau sosok guru asik yang menyenangkan.

Kemudian ada peserta lagi yang menceritakan dosennya. Beliau seorang dosen yang multitalenta, setiap materi yang disampaikan dapat diterima oleh semua mahasiswa dengan paham, antusias. Gayanya energik, membuat kami belajar semangat tanpa ngantuk. Masih banyak peserta yang menjawab dan menceritakan guu-guru mereka dengan sesuatu yang membuat mereka berkesan.

Dari sekian peserta yang menjawab Pak Dedi meminta untuk mencari nama guru dan dosen yang mereka kagumi. Apakah ada foto yang tertera dalam pencarian di mesin google atau tidak.


Nama guru favorit anda sejak mulai dari seorang profesor dan nama guru SMA, SMP, SD tapi kenapa ketika di kopling foto mereka tidak ada. Nama mereka tidak ada di internet padahal mereka adalah orang-orang hebat. Tenyata tidak banyak jejak digital mereka bahkan ada yang tidak ada sama sekali di internet. Ini membuktikan bahwa guru atau dosen tersebut tidak mengelola dengan baik jejak digitalnya.

 Lalu bagaimana dengan anda ngajar di SD, SMP atau dosen perguruan tinggi kalau anda tidak serius mengelola jejak digital anda sendiri, Maka nama profesor guru-guru yang sudah kita browsing itu akan hilang ditelan waktu digantikan oleh guru baru yang kemudian hilang lagi karena semua tidak serius mengelola jejak digital dengan baik. Ketika seseorang mencari sesuatu sekarang ini ada mesin andalan oleh orang di seluruh dunia Google mesin pencari, seberapa hebat anda mohon maaf anda belum terhubung atau belum terlacak oleh Google.

Walau anda di sekolah di sukai oleh ratusan atau ribuan murid ketika anda bertanya atau memperhatikan di sekolah anda yang ketika lulus 3 tahun yang lalu. Apa yang terjadi? Mereka lupa hampir semua nama guru, itupun tadak sampai 5 tahun atau  yang tidak terlacak.

Jika alasanya jaman dulu belum ada internet  dan sebagainya anda berargumen yang salah. Coba cari Ki Hajar Dewantoro, Cut Nyadien, Laskar Pelangi, Manuel Kasiepo, dan sebagainya yang mungkin hidup di era internet belum ada. cari juga Sidarta Gautama, Dalai Lama, Mother Theresa, Nabi Muhammad, dan sebagainya yang berasal dari era internet belum ditemukan.

Apakah mereka mengelola jejak digitalnya sendiri ? ... tidak, bahkan mereka tak tahu apa itu internet, apa itu digital. Legendanya diarsipkan oleh orang lain, kita pun bisa seperti itu.

Maka di sini ada dua cara untuk merekam jejak digital dengan baik, pertama dilakukan sediri dan kedua dilakukan oleh orang lain karena pengaruhnya yang sangat besar terhadap perkembangan kehidupan. Mereka meninggalkan jejaknya dengan karya. Terus karya apa yang mudah dan cepat untk melejitkan nama kita.

Setiap manusia bersifat unik. Jika keunikan itu direkam dalam dunia digital, bukan tidak mungkin jejak tersebut akan mengantarkan kita kepada nasib baik sebagai orang yang unggul, selanjutnya melejit. Tapi bagaimana itu akan melejit jika kita tidak membuat jejak digital. Jadi peersoalanya bukan karyanya tapi perbuatan melejitkan keunikan diri anda yang mungkin kita anggap biasa-biasa saja tetapi ketika itu kita Kelola dengan baik maka itu akan menjadi sesuatu yang melejitkan nama kita dan dalam jangka waktu yang sangat lama. Caranya  kita bisa meninggalkan konten di instragram, di blog  di website di facebook di youtube atau apa saja media digital lainya.

Jejak digital itu berupa apa saja bisa berupa karya  lukis, tulisan, foto  bisa saja foto kemeja atau cerita keluarga anda kebun anda, seragam anda atau apa saja kegiatan yang kita lakukan. Karena saat ini dunia tidak terbatas.  Ceritakan dengan bahasa yang baik dan bisa di ambil kebaikan di dalamnya agar orang lain bisa mengambil kebaikan di dalamnya dan kemudian mendokumentasikan kebaikan itu dan tertertancap menjadi jejak digital. Tetapi jika kita tidak mendokumentasikan kebaikan kita jejak  digital yang kita bikin sendiri. Bagaimana kita mau di kenal. Kita tulis semau kita karena itu blog-blog kita, facebook kita atau pun twiter dan intragram kita. Tulis agar bisa menginspirasi orang lain. Kabarkan apapun kegiatan yang kita lakukan untuk memberitahukan kepada dunia, apa yang kita lakukan. Karena saat ada orang yang mengabarkan keburukan tentang kita maka yang di temukan adalah jejak digital keburukan kita.  

Bukan persoalannya ketersediaan jaringan alat bukan, walaupun di daerah kita  digital belum di anggap penting tapi sekarang pekerjaan apa yang tidak menggunakan digital ? kuncinya adalah pada niat memanfaatkan digital itu untuk kepentingan pekerjaan, memudahkan pekerjaan, meningkatkan kwalitas pekerjaan dan menebarkan kebaikan . Setelah itu digital menjadi suatu hal yang sulit kalau kesadaran itu semua sudah muncul pada diri seseorang.

Seberapa pun sederhananya kita, kalau kita meninggalkan jejak konten positif atau kebaikan di media digital maka akan ada sesuatu yang dikenang dari kita. Selain itu, Ketika kita sudah tiada, kebaikan yang kita tinggalkan akan mengalir terus sebagai amal jariah. Oleh karena itu, tiada alasan lagi untuk kita bisa tinggalkan jejak  digital dan  kelola jejak digital kita dengan baik.

Salam sehat, tetap semangat dan teruslah tinggalkan jejak digital kebaikan kita. Salam literasi.

 

#GMLD

Gunungkidul, 6 November 2021

Kamis, 04 November 2021

Bahagia Menjadi Guru

 

Bahagia Menjadi Guru

 

Dok. Pribadi sebelum pandemi

Menjadi seorang guru adalah sebuah pilihan. Ku nikmati hari-hariku menjadi seorang guru dengan penuh suka cita. Saat mentari pagi yang mulai beranjak dari peraduan. Aku telah bersiap untuk melaksanakan tugasku. Aku bersyukur dapat menyaksikan indah ciptaan-Nya. Mentari yang menebar manfaat bagi semesta. Aku memang tak bersinar seperti mentari, tetapi aku ingin sepertinya. Kehadirannya selalu ditunggu dan selalu memberi manfaat.

Aku seorang guru biasa, namun aku ingin buat murit-muritku luar biasa. Diawali dengan menjadi guru honorer di salah satu sekolah swasta telah membuatku banyak mendapatkan pengalaman. Ada keasikan dan kepuasan tersendiri saat belajar bersama-murid-muridku. Bahagia dapat kurasakan saat melihat muridku mampu menerima apa yang aku ajarkan, menjawab pertanyaan yang mereka lontarkan, bahagia bisa bersamai mereka belajar, bisa berbagi cerita dengan mereka. Kebahagian yang tak terhingga bisa mendampingi muritku untuk mengikuti lomba dan mampu mencapai juara satu  tingkat kabupaten.

Ada kebahagiaan  lain yang tak dapat diukur denagn apapun. Seperti siang itu di jam ke-4 aku mengajarkan tentang asikntya belajar Al-Quran. Materi tentang surat Al-Maun di kelas lima. Seperti biasa sebelum aku jelaskan isi kandungan surat aku membaca dan di tirukan semua muritku kemudian satu-persatu mereka membaca. Setelah semua muritku membaca akupun mulai menjelaskan isi kandungan surat. Sebelum mengetahui isi kandungan surat anak-anak harus tahu terlebih dahulu arti atau terjemahan dari ayat satu sampai ayat terakhir.

“Coba siapa yang berani membaca Surat Al-Maun beserta artinya maju ke depan kelas ?” tanyaku pada murit-muritku.

“Saya, Bu Guru,” salah satu siswa langsung berani untuk membaca ke depan kelas.

“Sip … ayo, Umar kamu baca pelan-pelan agar teman kamu yang belum hafal bisa lebih memahaminya,” ucapku.

“Baik, Bu.” Dengan penuh semangat Umar membacakan Surat Al-Maun beserta artinya dengan lancar.

“Bagus, ayo yang lain, ada yang mau membacanya lagi?” tanyaku.

Tak ada tanda-tanda muritku yang lain akan mebacanya.

“Baiklah jika sudah tak ada lagi yang mau membaca. Ibu akan jelaskan ya!” ucapku.

“Iya, Bu.” dengan kompak murid-muridku menjawabnya.

Ayat demi ayat aku jelaskan. Sampai pada isi kandungan surat. Akupun berikan kesimpulan.

“Dalam surat Al-Maun Allah jelas menyebutkan bahwa Allah melaknat orang yang menghardik anak yatim, menelantarkan orang miskin dan juga menunaikan sholat dengan lalai dan riya atau tidak disertai dengan niat karena Allah. Dari peringatan ini tentu kita sebagai hamba Allah yang selalu mengharapkan ridho dan ampunan Allah, akan selalu senantiasa menjauhi diri dari hal tersebut,” jelasku.

Setelah aku jelaskan akupun ajukan pertanyaan pada seluruh muridku Jika belum jelas aku beri kesempatan untuk bertanya.

“Bagaimana anak-anaku, sudah jelas belum penjelasan dari Ibu?”  tanyaku.

“Sudah,Bu.” jawab salah satu muridku.

“Saya, Bu,” timpal murid yang lain.

“Silahkan. Dika.Apa yang ingin kau tanyakan, Nak.”  Aku persilahkan Dika unuk bertanya.

“Begini, Bu. Apa yang di maksud Riya’? tanya Dika.

Segera aku jawab pertanyaan Dika.

“Riya adalah sifat yang sangat di benci Allah SWT. Perbuatan ini digambarkan sebagai seseorang yang melakukan suatu amalan yang bertujuan pamer. Di mana agar bisa dilihat oleh manusia lainnya” jelasku.

“Sudah jelas belum, Dika? Jadi hati-hati dengan perbuatan kita. Dalam setiap perbuatan dan amalan kita niat hanya karena Allah bukan untuk mengharapkan pujian,” tanbahku.

“Iya, Bu.Jelas.” Jawab semua murid-muridku.

Sebelum aku tutup pelajaran hari itu akupun memberikan kesimpulan serta tugas yang harus di kerjakan murit-muritku. Aku senang melihat muritku bisa memahami apa yang aku sampaikan. Bel berdering pertanda jam pelajarnku telah usai. Akupun menutup pelajarn denagn doa dan salam.

Saat aku berjalan keluar kelas, tiba-tiba Sinta mengikutiku dan bertanya padaku.

“Ibu, bagaimana jika kita mengamalkan isi kandungan ayat dengan menyisakan uang jajan kami untuk di berikan pada Triyani. Dia kan ayahnya sudah meninggal Bu, adik-adiknya juga masih kecil,” pinta Sinta.

“MasyaAllah, Nak. Sungguh mulia hatimu,”ucapku.

Akupun menyetujui dan mengapresiasi usul dari Sinta. Aku minta dia yang mengkoordinasi teman-temannya untuk menyisihkan sedikit uang jajan mereka dan setelah terkumpul akan di bawa ke rumah Triyani.

Kebahagiaan yang berlebih saat apa yang aku sampaikan bukan hanya di mengerti dan dipahami murid-muridku namun dapat di praktekkan dalam kehidupan sehari-hari.


#KamisMenulis

#SahabatLagerunal

Gunungkidul, 4 November 2021

 

Selasa, 02 November 2021

Maafkan Aku Runni

 

Maafkan Aku Runni



“Anita, Anita…. Tunggu,” dengan terengah-engah Runni mengejar Anita yang sudah siap untuk mengikuti  pelajaran Olah raga.

“Ayo Run, Pak Joko sudah menyiapkan teman-teman untuk olah raga di lapangan,” ajak Anita.

“Huuf hampir aku terlambat, Nit,” ucap Runni.

“Iya kenapa sih kamu berangkat kesiangan? Tanya Anita.

“Aku membantu Ibu, Nit. Ibu sedang repot, adik ku sedang sakit,” jelas Runni.

“Ya sudah ayuk kita menyusul teman-teman yang sudah siap di lapangan,” ajak Anita.

Mereka segera berlari menuju lapangan. Di sana sudah terlihat teman-teman yang lain telah berbaris rapi. Pak Joko selaku guru olah raga pun sudah siap memberikan penjelasan.

“Maaf, Pak. kami terlambat,” ucap Anita.

“Iya silahkan masuk barisan! perintah Pak joko.

Setelah Anita dan Runni sudah berada dalam barisan. Pak Joko mulai memberi pengarahan pelaksanaan olah raga hari ini. Semua siswa memperhatikan dengan baik. Pak joko menyampaikan teknik permainan bola volly. Setelah penjelasan dan pengarahan siswa segera mempraktikkan untuk melakukan servis bawah. Semua siswa mencoba malakukan servis bawah.

Tiga jam pelajaran olah raga telah dilaksanakan. Tiba saatnya mereka untuk istirahat. Para siswa kembali ke kelas untuk mengambil baju. Biasanya siswa putri yang lebih dahulu sampai di kelas. Runni dan Anita pun tiba di kelas. Di sana sudah terlihat Dewi yang terlihat buru-buru memasukkan sesuatu dalam sakunya. Anita tak menghiraukan Dewi, hanya sekedar menyapa karena Dewi segera meninggalkan kelas.

“Nit, kita jajan ya. Aku hari ini tidak bawa bekal makan,” ucap Runni.

“Aku bawa, Run. Kita makan sama-sama ya,” ajak Anita.

“Tidak usah, Nit. Aku ada uang kok.  Tadi pagi Ibu beri aku uang untuk bayar buku dan ada sisa untuk uang jajanku,” jelas Runni.

“Bener kamu ga mau ikut makan bersamaku? tanya Anita.

“Iya, Nit. Kamu makan aja,” ucap Runni. Tangannya tak henti mencari sesuatu di dalam saku seragamnya. Namun tak di temukan uang yang Runni taruh di saku seragamnya.

“Kenapa, Run? tanya  Anita.

“Kok uangku ga ada ya, Nit. Perasaan tadi setelah aku terima dari ibu langsung aku masukkan ke saku seragamku,” jelas Runni.

“Coba inget-inget dulu mungkin kamu lupa simpenya,” kata Anita.

Sementara Runni belum menemukan uangnya. Anita membantu mencari di sekitar tempat duduk Runni. Mungkin saja tadi terjatuh saat Runni ganti baju olah raga. Sampai beberapa saat Anita dan Runni tak menemukan uangnya. Anita pun mengajak makan bekal yang ia bawa. Runni tak bisa menolak.

“Run, nanti kita tanya saja sama-teman-teman, mungkin ada yang tahu dan menemukan uang kamu,” pinta Anita.

“Tapi,… suara Runni terhenti karena kedatangan Dewi dan teman yang lain.

Bel berbunyi tanda jam istirahat telah usai. Semua siswa segera masuk ke dalam kelas. Bu Guru memasuki kelas dengan senyum dan sapanya yang khas yang membuat para siswa semangat mengikuti pelajaran walau setelah olah raga.

Sebelum Bu Guru menyampaikan pelajaran, beliau menanyakan tentang pembayaran buku lks yang seharusnya hari ini semua siswa sudah melunasinya.

“Ibu harap kalian hari ini bisa melunasi pembayaran buku lks ya,” pinta Bu Guru.

“Maaf bu, tadi saya mau membayar bukunya, tapi… uangnya hilang,” kata Runni.

“Lhu tadi naruhnya di mana, Run? tanya bu guru.

“Tadi saya taruh di saku seragam saya, Bu. Tapi saya cari tidak ada,” jelas Runni.

“Baiklah kita tanya ke teman-teman,” ucap Bu Guru.

Suasana tiba-tiba  hening, semua siswa terdiam.Padahal Bu Ida belum beri pertanyaan.

“Anak-anakku, kuharap kalian nanti bisa jawab dengan jujur ya! pinta Bu Guru.

“Iya, Bu.” kompak seluruh siswa menjawabnya.

“Begini anak-anakku, Runni teman kita hari ini kehilangan uang, apakah kalian ada yang tau? tanya Bu Guru.

“Saya tidak tau Bu, jawab Rizal.

“Saya juga tidak tahu, Bu,” timpal Nino. Diikuti siswa yang lain mengatakan mereka tidak tahu. Sementara di meja nomor dua dari belakang, terlihat Dewi seperti sedang memikirkan sesuatu. Bu Ida tahu hal itu. Namun sengaja Bu Guru tak mengintrogasi Dewi.

“Baiklah anak-anakku, jika kalian tidak tahu dan nanti kalian menemukan segera hubungi Runni atau Bu Guru. Kasihan Runni mau membayar buku,” ungkap Bu Guru.

“Runni, Ibu maklumi ya, kamu belum bisa bayar buku lksnya. Semoga uangmu bisa ditemukan.” Smbung Bu Guru.

“Aamiin … iya Bu,” jawab Runni dan teman-teman.

Runni merasa bersalah dengan ibunya karena belum bisa bayar buku, apa kata ibunya nanti jika tahu uangnya hilang. Padahal ibu sedang banyak pengeluaran semenjak adik sakit. Runni seperti tak fokus dengan pelajarannya, dan Dewi tahu itu.

Dewi tanpa sengaja melihat uang itu di bawah meja, tanpa sepengetahuan temanya Dewi pun tergerak untuk mengambilnya. Dewi butuh uang itu. Beberapa hari yang lalu Dewi sudah di beri uang untuk membayar buku namun uangnya malah buat jajan. Dewi takut mengatakan ke ibunya. Namun melihat Runni sangat bimbang Dewi pun tak tega.Dewi merasakan bagimana rasanya jika teman yang lain sudah bayar namun kita belum. Tapi bagaimana ngomong sama Runni. Lalu ika Dewi ngomong tentu teman-teman nanti mengejek Dewi.

Dalam kebimbangan itu Dewi berniat untuk menemui Bu Guru Ida. Dewi berharap Bu Ida mau mengerti dan memaafkan Dewi.

Jam pulang pun tiba, saat teman-teman pulang Dewi masih ada di sekolah. Dewi memberanikan diri untuk menemui Bu Ida.

“Selamat siang, Ibu. Boleh saya minta waktu Ibu sebentar,” ucap Dewi.

“Eh Dewi, ada apa? Iya ibu bersedia. Silahkan masuk,”jawab Bu Ida.

Dewi pun masuk ke ruang Bu Ida. Dengan terbata-bata Dewi menyampaikan apa yang mengganjal di benaknya.  Bu Ida pun kaget denagn penjelasan Dewi, namun dengan sabar dan bijaksana.

 “Maaf ya, Bu. dan nanti saya akan berusaha membayar buku dengan uang saya sendiri, nanti saya akan mengumpulkan dari uang saku saya,”ucap Dewi.

“Saya hargai kejujuranmu Dewi, Ibu minta jangan kamu ulangi lagi perbuatan itu. Kasihan teman kita yang kehilangan, coba hal itu terjadi pada kita, pasti ga enak kan,” jelas Bu ida.

“Iya, Bu. Saya janji tak akan mengulangi lagi,” ucap Dewi.

“Baiklah, Dewi, besok kamu minta maaf ke Runni. Sekarang kita pulang ya,” ajak Bu Ida.

“Iya, Bu,” terimakasih, ya Bu! ucap Dewi.

Dewi pun keluar dari ruang guru dengan perasaan lega. Dewi tak akan mengulangi lagi dan akan selalu jujur agar tak merugikan dirinya dan orang lain.

Keesokan harinya, Bu dewi mengumumkan untuk semua siswa telah menyelesaikan pembayaranya. Runni begitu kaget karena dia merasa belum membayarnya.

Dewi pun menemui Runni untuk minta maaf. Runni bingung karena tiba-tiba Dewi meminta maaf. Dengan perasaan bersalah Dewi meminta maaf dan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi serta di sampaikan pada Runni pula bukunya akan di bayarkan menunggu uang yang akan di kumpulkan Dewi.

“Maafkan aku Runni, aku tak maksud untuk membuatmu bimbang,” pinta Dewi.

“Aku maafkan kamu Dewi,’ tapi aku  kemarin sempat di marahi Ibuku. Pasti ibu senang mendengarnya bahwa aku telah membayar buku itu,” mata dewi berkaca-kaca ingat bagaimana ibunya memarahi Runni.

Mereka saling berpelukan.saling memaafkan. Bu Ida senang pada akhirnya Dewi mengakui kesalahanya dan Runni memaafkan kesalahan Dewi. Senyum mereka membawa kedamaian. 


#30daysreadingastorywithyourkids

#onedayonestory

Gunungkidul, 2 November 2021

Senin, 01 November 2021

Bagaimana Membangun Digital Space yang Aman untuk Anak

 

Bagaimana Membangun Digital Space yang Aman untuk Anak?


Beberapa hari yang lalu dalam grup WA menulis aku temui link untuk pendaftaran Guru Motivator Literasi Digital. Aku sangat tertarik dengan link ini. Akupun segera mendaftarkan diri. Saat ini kita di haruskan tau dan harus paham tentang dunia digital. Apalagi kita sebagai seorang guru harus bisa membawa anak didik kita pada dunia digital agar mereka mampu menghadapi era yang sangat erat kaitannya dengan digital dalam mengakses segala lini kehidupan.

Di hari pertama mengikuti kelas Guru Motivator Literasi Digital (GMLD) ini Om Jay sebagai pemateri menyampaikan  4 tujuan dari GMLD

Ada 4 hal dalam literasi digital yang harus kita kuasai, sehingga kita bisa menyampaikannya kepada peserta didik kita, yaitu :

ü  kecakapan digital

ü  budaya digital

ü  etika digital

ü   dan keamanan digital

Apa itu kecakapan digital?

Materi pertama ini masuk dalam wilayah materi keamanan digital untuk anak, khususnya peserta didik kita dan anak-anak kita di rumah, kecakapan digital, buadaya digital, etika digital dan kemanan digital, dapat anda baca di gambar.

Kecakapan Digital yaitu kemampuan individu dalam mengetahui, memahami dan menggunakan perangkatkeras dan piranti lunak TIK serta sistem operasi digital dalam kehidupan sehari-hari.

Membangun Digital Space Yang Aman Untuk Anak

Bagaimana kita membangunnya?

Caranya adalah :

Pertama kita mengajak anak untuk memahami perkembangan dunia digital yang terus berkembang

Kedua kita  harus memahami psikologi anak dan perkembangannya dalam dunia digital

Ketiga, Kita harus menyadarkan anak tentang apa saja resiko kejahatan pada anak dan

Keempat bagaimana cara aman dan nyaman berinternet bersama keluarga tercinta

Saat pandemi  covid, kedekatan anak pada gedjet tampaknya lebih dekat daripada ke ayah bundanya. Gimana cara memberikan kesadarannya pada anak-anak kita ?

Anak-anak kita adalah anak-anak kelompok yang rentan terhadap berbagai kejahatan digital. Tidak semua orang baik ada dalam dunia digital kita. Salah satunya adalah jangan biarkan anak-anak kita mengumbar data pribadi di media digital atau media sosial.

Hal itu merupakan tugas kita sebagai guru dan orang tua.

Biar aman apa langkah kita pada anak untuk lebih nyaman.

Ketidaktahuan dan ketidakmampuan menggunakan media digital dengan baik dan benar, membuat mereka menjadi korban kejahatan media digital. Bahkan banyak juga orang dewasa yang menjadi korbannya. Kita harus mulai belajar di media digital dan usahakan sudah membuka website https://literasidigital.id

Saat ini, telah terekspos konten pornografi yang muncul tidak dengan sengaja saat anak mengakses media sosial. Orag tua dan guru harus mampu menjadi pemandu buat anak dan peserta didiknya.

Berikut  link video ini, yang dapat membantu kita untuk bisa mengingatkan kita untuk berhati-hati dalam menggunakaninternet https://literasidigital.id/video-literasi-digital/

Banyak orang saat ini tidak memahami bahkan tidak peduli akan bahaya yang dapat mengancam anak-anak kita. Itulah mengapa PGRI membuka kelas GMLD, walaupun kominfo juga telah melaksanakan berbagai webinar literasi digita secara masif di setiap kota dan kabupaten setiap hari di internet

Kominfo melakukan, dan kita bantu supaya makin banyak yang faham betapa penting MELEK Literasi Digital.

Kita terkadang dengan mudah saling berbagi informasi termasuk data yang sifatnya pribadi kepada orang yang baru dikenal. Akibatnya data privasi dapat disalahgunakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Apalagi bila mereka masih anak-anak. Data privasi kita dengan mudah diperjual belikan oleh mereka yang tidak bertanggung jawab di media digital.

Dari hasil survey Google bersama Trust dan Safety research pada bula Februari 2021, ada 51 % orang tua di Indonesia merasa khawatir tentang keamanan digital anak. Bahkan ada 42 % orangtua mengkhawatirkan 3 hal yaitu keamanan informasi anak, anak-anak menerima konten yang tidak pantas, dan anak-anak menerima perhatian dari orang yang tidak dikenalnya. Kalau tidak waspada, anak kita bisa hancur masa depannya.

Itulah mengapa kita harus membangun tempat yang aman dan nyaman untuk anak-anak kita dalam bermedia digital.

Resiko kejahatan di ruang digital pada anak yang sering terjadi adalah :

ü  kecanduan games,

ü   cyberbully,

ü   pelanggaran privasi,

ü  kejahatan seksual dan lain-lain yang bisa kita baca di media sosial.

Orang tua harus peka dengan tingkah laku anaknya yang gemar bermain game di gadget. Jangan sampai, anak mengalami kecanduan yang berdampak terhadap kesehatan psikologisnya.

Sub Spesialis Kesehatan Jiwa Anak dan Remaja, Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Provinsi Jawa Barat, dr. Lina Budiyanti mengatakan ada 11 gejala bagi anak yang mengalami kecanduan gadget dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM) V. Beberapa di antaranya bisa dikenali dari perilaku sehari-hari.

"Anak main game untuk melarikan diri dari ketidaknyamanan. Kemudian yang kedua jam pemakaian game sudah tidak proporsional," ujar Lina saat ditemui di Cisarua, Selasa (15/10/2019).

Hal yang lebih menyeramkan adalah Grooming, kasus pelecehan seksual pada anak dengan modus iming iming PDKT, dan Kasus grooming pada anak mulai banyak ditemukan sejak tahun 2019 dan terus bertambah setiap tahunnya. Kita sebagai orang tua dan juga guru harus mulai waspada dan belajar tentang literasi digital.

Berikut Web Rujukan Digital Parenting

• literasidigital.id (kumpulan buku, video, infografis tentang literasi digital

yang dapat di unduh secara gratis)

• Smartschoolonline.id (program edukasi terkait pemanfaatan internet yang

sehat)

• Sahabatkeluarga.kemendikbud.go.id (artikel, modu, video terkait isu

parenting)

• fosi.org (beragam panduan dan tools pengembangan digital parenting

• beinternetawesome.withgoogle.com

Ketika membaca materi "Keamanan Anak di Dunia Digital" salah satunya telah terekspos konten pornografi yang muncul tidak sengaja saat mengakses media sosial.

Bagaimana kita harus bersikap atau bertindak ketika sedang mengajak murid-murid memutar lagu-lagu wajib di youtube dengan memakai infokus tiba-tiba konten pornografi muncul? 

Kita tetap rileks dan jangan panik, sampaikan kepada mereka bahwa dunia digital begitu terbuka, kita harus waspada jangan sampai terpapar pornografi. Inilah pentingnya kita sebagai orang tua dan guru untuk menjadi pemandu bagi anak-anaka kita.

Aman Berinternet Bersama Anak,

ü  Jaga Komunikasi dengan anak

ü  Bekali diri dan terus belajar

ü  Gunakan fitur dan aplikasi untuk menjaga

keamaanan anak di internet

ü  Buat aturan bersama dan terapkan

Konsekuensinya

ü  Menjadi teman, ikuti anak di media sosial dan jangan berlebihan

ü  Jelajahi, berbagi dan bermain bersama anak

ü  Jadilah teladan digital yang baik

 

Sebaiknya kita mulai,

1.      Smart, tidak menyebarkan informasi sensitif seperti

nomor telepon, passport/KTP, password, dan alamat

Rumah

2.      Alert, jangan mudah percaya dengan hal yang tidak

masuk akal, jauhi phising dengan tidak meng-klik link

sembarangan

3.      Strong, gunakan password yang sulit agar tidak mudah

diretas baik untuk akun maupun gawai, biasakan

menggunakan two step authentication

4.      Kind, sadari aktivitas online yang kita lakukan, untuk

mencegah terbentuknya rekam jejak yang membuat

kita rawan jadi target kejahatan digital.

5.      .Brave, mengenali dan mencegah bentuk-bentuk

kejahatan di ruang digital

 

Membangun Digital Space yang Aman Untuk Anak harus dimulai dari kita sebagai orang tua. Ibarat membangun rumah, maka pondasinya harus kuat dan kita harus mulai menanam pohon pendidikan.


Pohon pendidikan itu berakar moral dan agama, berbatang Ilmu pengetahuan, berdaun tali silahturahim dan berbuah kebahagiaan. hal itu harus dimulai dari pendidikan dalam keluarga kita.

Saat anak tidak bisa berinteraksi secara aktif dan mereka lebih banyak diam maka kita harus bisa mulai memberikan kebiasaan baru buat mereka. Sedikit demi sedikit ketergantungan mereka kepada games kita kurangi. Ajak mereka beraktivitas secara Offline seperti dulu. Oleh karena itu guru harus membuat pembelajaran yang menantang dan menarik, sehingga apa yang mereka rasakan benar-benar bermanfaat dan membuat mereka berinteraksi dengan gurunya. Ini tantangannya sebagai guru tangguh berhati cahaya.

Membangun Digital Space yang Aman Untuk Anak dimulai dari kita sebagai orang dewasa. ajak mereka untuk memahami literasi digital secara utuh.

 

Gunungkidul, 1 November 2021


Ramadan Sebagai Sarana Mensucikan Nafsu

Ramadan  Sebagai Sarana Mensucikan Nafsu Allahuakbar Allahuakbar gema takbir berkumandang. Sebulan telah berlalu tibalah kita di...