Cari Blog Ini

Senin, 07 Juni 2021

KATA BAKU

 

KATA BAKU


Bersyukur untuk hari ini, Allah masih karuniakan kesehatan padaku hingga ku masih bertahan mengikuti kelas cerpen di WCS, usia boleh semakin tua namun semangat belajar tidak boleh luntur.

Materi Malam ini  senin, 7 Juni 2021 kita akan membahas tentang Kata Baku

Mungkin terlihat sepele, tetapi kadang kita lupa dengan kata baku dan beriringnya zaman. Mungkin kata baku semakin berkurang.

Pengertian Kata Baku

Kata baku adalah kata yang digunakan sesuai aturan atau kaidah berbahasa Indonesia yang sudah ditentukan sebelumnya.

Pengertian kata baku juga merupakan kata yang penggunaannya sudah sesuai ejaan dan aturan pedoman bahasa Indoneisa yang baik dan benar, yang bersumber kepada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

Selain itu, penggunaan kata baku dapat dilihat dari penggunaanya yang sudah sesuai EYD (Ejaan yang Disempurnakan). Penggunaaan kata baku ini biasanya digunakan untuk pengungkapan bahasa yang bersifat resmi, dalam bentuk surat maupun naskah pidato.

Pengertian Kata Tidak Baku

Kata tidak baku merupakan kebalikan dari kata baku, yang penggunaanya tidak sesuai aturan dan kaidah berbahasa Indonesia yang sudah ditentukan sebelumnya.

Ketidakbakuan sebuah bahasa tidak hanya ditentukan dengan penulisan yang tidak sesuai pedoman, tapi juga bisa terjadi karena salah penulisan, pengucapan yang salah, dan susunan kalimat yang tidak sesuai.

Kalimat tidak baku lebih sering digunakan dalam percakapan sehari-hari karena terkesan lebih santai dan tidak kaku. Kata tidak baku juga dapat digunakan saat berdiskusi membahas suatu hal bersama teman atau keluarga.

Ciri-ciri Kata Baku

1. Tidak dipengaruhi bahasa daerah tertentu.

2. Tidak dipengaruhi bahasa asing.

3. Bukan bahasa percakapan.

4. Pemakaian imbuhan pada kata bersifat eksplisit.

5. Pemakaian kata sesuai dengan konteks kalimat.

6. Kata baku bukan kata rancu

7. Kata baku tidak mengandung hiperkorek.

Ciri-ciri Kata Tidak Baku

1. Umumnya digunakan dalam bahasa sehari-hari.

2. Dipengaruhi bahasa daerah dan bahasa asing tertentu.

3. Dipengaruhi dengan perkembangan zaman.

4. Bentuknya dapat berubah-ubah.

5. Memiliki arti yang sama, meski terlihat beda dengan bahasa baku.

SESI TANYA JAWAB

Pertanyaan, 07 Juni 2021

1.      Senjapriany

Ka kalau dalam cerita kebanyakan bahasa tidak baku itu boleh enggak?

2.      Awal cantik manis baik hati tidak sombong.

Eksplisit maksudnya gmn bun? Dan hiporkorek tuh bagaimana? Lantas bun... ada kata yang dulunya tidak baku lalu jadi baku karena perkembangan zamankah?

3.      Apa boleh mengunakan kata baku dalam percakapan cerpen? || Rimba

 

JAWAB

1.      Biasanya dalam cerita, jika dalam dialog bisa menggunakan kata tidak baku.

Namun, jika untuk menceritakan narasi lebih baik menggunakan kata baku.

2.      Eksplisit itu artinya tidak bertele-tele, tegas dan tidak tersembunyi. Dia memiliki makna yang jelas.

Lalu, hiporkorek itu bersifat menyempurnakan tetapi malah sebaliknya.

Untuk masalah adanya kata tidak baku, lalu menjadi baku. Kedia jenis itu sifatnya tidak abadi karena bahasa merupakan ilmu yang dinamis. Oleh sebab itu, semakin berkembangnya zaman maka kata-kata baru pun bermunculan.

 

3.      Boleh, kenapa tidak.

Namun, di dalam percakapan biasanya tergantung dengan peran yang dijalankan.

 

Review dari Event.

Terima kasih bagi yang mengerjakan, untuk yang belum hal ini bisa dijadikan pembelajaran.

1.      Kesalahan dalam tata bahasa

§  Kata baku seharusnya : salat, berpikir, istigfar, dll. Buka kamus lagi ya.

§  Penulisan pun, banyak yang masih dirangkai.

§  Penulisan di/ ke masih ada yang kebalik. Dipisah kalau menunjukkan tempat/ waktu, di mana, ke mana, di rumah.

§  Penulisn (Namun, …). Diawali dengan huruf kapital dan diberi koma. Namun tidak bisa diletakkan di awal paragraf, tetapi boleh di awal kalimat. 

§  Namun, aku mencintainya. Aku ingin bersamanya. (X)

§  Dia tidak mencintaiku. Namun, aku mencintainya. (Benar)  manfaat namun menghubungkan dua kalimat. Kalau tidak ada kalimat di awal, apa yang mau dihubungkan?

§  Kalau memang tidak bisa menulis miring, yang mengirim dari wa sebaiknya dihilangkan (_). Gunakan cara lain, bisa pakai kurung [ … ] atau memanfaatkan kata serapan dan makna dalam bahasa Indonesia.

2.      Dialog terlalu banyak. Untuk ini, penggunaan dialog dan narasi digunakan berdasar kebutuhan.

Dialog: memperjelas suatu adegan, memperlambat tempo, menegaskan/ menguatkan peristiwa.

Narasi: mempercepat tempo, meringkas adegan pendukung cerita.

Untuk perbandingan, idelanya suatu cerita itu narasi 60-80% vs 2-40% dialog dari cerita. Ini tidak mutlak. Bergantung kebutuhan, situasi, dan kondisi.

3.      Tanda */ --- sebagai pembeda waktu digunakan secara bijak ya. Salah satunya untuk membedakan waktu dan adegan yang membutuhkan rentang waktu lama. Atau kalau mau flashback. Juga, dalam dalam paragraf itu setidaknya ada tiga-lima kalimat. Kalau hanya berkisar hitungan hari bisa digunakan kata lain: seminggu kemudian, dua hari sebelumnya, atau yang lain. Apalagi kalau jumlah kata terbatas semisal 300-500, terlalu banyak tanda ini justru akan mengganggu.

4.      Dalam cerita itu ada sebab dan akibat, inilah nanti yang akan membuat konflik. Semisal: ada cerita fantasi seorang putrid menjadi kupu-kupu.

Sebab: Ada mitos yang menyatakan kalau merawat bunga warna-wani dihalaman lengkap tujuh warna, kupu-kupu datang.

 

Masalah: Tokoh A tidak percaya.

Akibat: Ia tiba-tiba menjadi kupu-kupu sewaktu tidur.

 

5.      Berlatih kalimat efektif. Cerpen itu dibuat ceita yang menarik dengan mengambil sesuatu peistiwa yang wah dari kehidupan kita. Salah satu tujuannya, agar kita dapat mengambil pesan di dalamnya.

Jadi, semacam tulisan Assalamualaykum,tanya kabar, atau nama, dan juga pertanyaan yang tak ada hubungannya dengan cerita dihilangkan.

6.      Kebocoran PoV

PoV satu yang paling bisa dieksplore ya dari sisi penulisnya, mulai dari pikiran, kata hati, pun dengan sebutan nama.

Aku mau betemu mamaku.

Aku merasa tak enak ia datang membawa bunga.

Berbeda dengan PoV  tiga yang tidak bisa membaca pikiran tokoh lain. Kalau jadi PoV tiga yang seba tahu, cerita justu tidak berkembang dan terkesan ya sudah, tidak ada yang membuat teka-teki, mengalir gitu aja. Jadi feelnya kurang. Jadi, hati-hati ya.

Untuk yang lain dibahas untuk tugas atau event selanjutnya ya.

Jangan lelah untuk belajar. Terimakasih.

 

#Day3KelasWCS

Gunungkidul, 8 Juni 2021

Minggu, 06 Juni 2021

Memahami Sila Pertama Pancasila

 

Memahami Sila Pertama Pancasila


Teet teeet.. bel berbunyi tanda jam istirahat tiba, tepat pukul 11. 45 WIB adalah  jam istirahat kedua. Siswa-siswi berhamburan keluar kelas. Ada yang berlari menuju  ke halaman sekolah, ada yang lansung menuju tempat wudu untuk persiapan tunaikan salat duhur berjamaah. Berhubung mushola yang ada di sekolah hanya kecil dan hanya dapat menampung siswa atau guru yang berjamaah sekitar 30 orang, maka jadwal salat di mushola pun di laksanakan perkelas. Untuk selebihnya melaksanakan salat jamaah di masjid di sekitar sekolah kami yang jaraknya hanya sekitar 50 meter dari sekolah.

Di kelas enam terdapat 30 siswa satu diantarnya adalah siswa non muslim. Walau dia non muslim namun ia merupakan siswa aktif yang selalau mengingatkan teman-temannya untuk segera laksanakan salat berjamaah. Walau sudah menjadi kewajiban untuk siswa muslim selalu melaksanakan salat duhur berjamaah di sekolah namun masih saja ada anak yang menunda-nunda bahkan bermalas-malasan untuk salat duhurnya. Brian adalah salah satu siswa non muslim yang ada di kelas enam. Dialah yang selalu membantu ibu guru untuk mengajak teman-temannya yang belum aktif berjamaah. Brian juga menghormati teman lain, saat waktu salat Brian tidak mengajak temannya bermain. Tindakan Brian merupakan salah satu sikap pengamalan dari sila pertama pancasila.

Sila ke-1 Pancasila adalah Ketuhanan Yang Maha Esa artinya kita sebagai warga negara Indonesia yang berpedoman Pacasila harus percaya adanya Tuhan yang maha Esa yang kita yaqini. Sila ini mengandung butir-butir pengamalan beserta nilai-nilai dan maknanya yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk di lingkungan sekolah atau kelas. Sikap dan perilaku Brian adalah termasuk di dalamnya.

Semoga ada Brian-Brian yang lain yang mampu mengembangkan sikap hormat menghormati antara pemeluk agama lain. Bekerja sama dan mampu membina kerukunan hidup antara sesama umat beragama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Tugas kita sebagai guru dan orang tua agar mampu menanamkan sikap hormat menghormati pada anak-anak kita, peserta didik kita untuk bisa mengamalkan ajaran-ajaran  dalam Pancasila.


#HariKesaktianPancasila

#AiseiWritingChallenge

#Juni2021Challenge

Gunungkidul, 6 Juni 2021

Sabtu, 05 Juni 2021

Karakteristik Cerpen

 

#Day2 Kelas Cerpen

KARAKTERISTIK CERPEN


Senin, 31 Mei 2021 adalah materi kedua dari kelas cerpen, untuk malam ini yaitu tentang karakteristik cerpen.

Malam ini kita berkenalan dengan CERPEN

KARAKTERISTIK CERPEN

Di bawah ini dijabarkan beberapa unsur cerpen dan bentuknya:

Unsur-Unsur Cerpen           

1.      Unsur Intrinsik

Unsur intrinsik adalah unsur menjadi dasar bangunan sebuah cerpen. Antara lain:

1)         Tema

Pembahasan pertama yaitu tema. Apa sih teman itu? Apakah tema dengan judul itu sama? Mari kita bahas. Tema merupakan ide/gagasan pokok, makna mendasar, atau sebutlah sumber utama yang menjadi piranti sebuah cerpen. Tema merupakan hal yang utama untuk dipikirkan sebelum memulai menulis. Sedangkan judul menurut KBBI merupakan kepala karangan (cerita, drama, dan sebagainya) atau disebut juga tajuk. Judul memiliki cakupan yang lebih sempit dan spesifik.

            Dari pengertiannya sudah terlihat berbeda. Maka dari itu, sebelum memulai menulis kita harus paham dengan temanya. Agar kita mudah untuk menuangkan ide ke dalam tulisan. Kita bisa mengambil tema apa pun dan bebas menentukan sesuai inspirasi dari mana pun, seperti membaca, menonton, mengamati sekitar, dan lain sebagainya.

            Namun, bagi kalian yang baru memulai untuk menulis. Cobalah untuk mengambil tema dengan yang berkaitan erat dengan kehidupan sehari-hari, yang mudah ditemukan dan pembahasannya sangat mudah untuk kita kuasai, akan mudah pula jika hal itu pernah kita alami. Misalnya teman-teman sedang mengalami patah hati. Nah, teman-teman bisa menuliskan dengan tema patah hati.

2)         Penokohan

Tokoh atau penokohan adalah salah satu bagian yang wajib ada dalam sebuah cerpen. Namun, yang perlu diketahui adalah tokoh dan penokohan merupakan dua hal yang berbeda dalam sebuah penulisan cerpen.

Tokoh merupakan pelaku atau orang yang terlibat di dalam cerita tersebut. Sedangkan penokohan adalah penentuan watak atau sifat tokoh yang ada di dalam cerita. Watak yang diberikan dapat digambarkan dalam sebuah ucapan, pemikiran dan pandangan dalam melihat suatu masalah.

Ada 4 jenis tokoh yang digambarkan dalam cerpen, antara lain:

         Protagonis: Tokoh yang yang menjadi aktor atau pemeran utama dan mempunyai sifat yang baik.

         Antagonis: Tokoh ini juga menjadi pemeran utama yang menjadi lawan daripada tokoh

         protagonis. Tokoh antagonis memiliki watak yang negatif seperti: iri, dengki, sombong, angkuh, congkak dan lain-lain.

         Tritagonis: Tokoh ini adalah tokoh penengah dari protagonis dan antara antagonis. Tokoh ini biasanya memiliki sifat yang arif dan bijaksana.

         Figuran: Tokoh ini merupakan tokoh pendukung yang memberikan tambahan warna dalam cerita.

Sedangkan penokohan watak dari 4 tokoh diatas akan disampaikan dengan 2 metode, diantaranya:

         Analitik, yaitu sebuah metode penyampaian oleh penulis mengenai sifat atau watak tokoh dengan cara memaparkan secara langsung. Seperti : keras kepala, penakut, pemberani, pemalu dan lain sebagainya.

Contoh : Andi, bukan Budi. Orang berbadan tegap yang berdiri di seberang jalan. Rambutnya sudah memutih meski ia baru berumur 31 tahun. Ia lalu mengangkat tangannya. Tangan yang putih kecokelatan. Ia seperti terlihat menggigil. Ku coba untuk bertanya kepadanya.

         Dramatik, yaitu sebuah metode penyampaian sifat tokoh secara tersirat. Biasanya disampaikan melalui tingkah laku si tokoh dalam cerita.

Contoh : Ia dobrak pintu tersebut. Ia lalu menangis. Mengapa setiap orang tidak memedulikannya bahkan di hari ulang tahunnya, batinnya. Mak Reno, pembantu Santi, mencoba menenangkan Santi agar berhenti menangis.

“Sebenarnya kamu menghentikan tangisanmu, kamu kan bisa membahagiakan orang tuamu. Dengan kebaikan yang kamu perbuat pada setiap orang pasti orang tuamu akan peduli” ujar Mak Reno. Santi tetap menangis.

3)         Latar/setting

Setting cerita itu merupakan tempat, waktu, dan suasana yang menjadi momentum terjadinya sebuah cerita. Sebagai contoh, perhatikan narasi berikut:

Saat matahari terbenam di langit malam, Anna perlahan berbalik dan berjalan menuju rumahnya. Semua diam dan sepi. Melalui jendela, dia bisa melihat kakaknya Robi menonton pertandingan sepak bola di TV. Robi telah tinggal di rumah baru dari tahun pertamanya kuliah di kota. Kadang-kadang terasa sepi, tetapi Anna merasa agak senang tidak berada dalam bayang-bayang Robi selama SMA-nya.

Dari narasi tersebut, kita bisa menemukan latar tempat, waktu, dan suasana. Tidak begitu sulit untuk menuliskan setting dalam cerita. Kita hanya perlu tahu tentang penokohan yang akan kita tuliskan. Contoh, jika kita ingin menceritakan tentang seorang CEO yang tampan. Maka, kita bisa membuat setting tempat di perusahaan dan menceritakan dengan suasana seorang CEO yang dimaksud.

Sumber : notepam.com

 

4)         Alur

Yaitu inti dari cerpen. Alur itu sendiri merupakan suatu rangkaian kejadian atau peristiwa yang ada dalam sebuah cerpen. Jika kita sudah menentukan tema dan setting, maka selanjutnya membuat jalan cerita.

Alur tersebut dibagi menjadi 3, yaitu alur maju, alur mundur dan alur campuran.

a.       Alur maju = yaitu rangkaian peristiwa atau jalan ceritanya bergerak menuju ke depan terus

b.      Alur mundur = yaitu jalan ceritanya tidak tentu, atau bergerak mundur (flashback).

c.       Alur campuran, yaitu gabungan antara alur maju dan alur mundur. 

 

            => Bagian-bagian cerita menyusun plot

 

1)      Exposition adalah tahapan pengenalan karakter tokoh dan setting sebuah cerita. Dalam tahapan ini, karakter bisa diperkenalkan lewat dialog atau ungkapan pikiran.

2)      Rising Action merupakan bagian terpenting dari sebuah cerita fiksi. Pada tahapan ini akan muncul berbagai konflik sampai mencapai klimak tertentu. Dalam tahapan ini ada lima jenis konflik yang mungkin terjadi 1) konflik antara tokoh dengan tokoh lain, 2) tokoh dengan masyarakat, 3) tokoh dengan dirinya, 4) tokoh dengan alam sekitarnya, dan 5) tokoh dengan ketentuan sang pencipta (takdir).

3)      Climax merupakan poin tertinggi dalam sebuah cerita, dimana tokoh yang terlibat sampai pada puncak konflik permasalahannya.

4)      Falling Action merupakan bagian cerita yang mengikuti climax. Bagian ini merupakan titik balik terhadap penyelesaian konflik yang dialami tokoh. Oleh sebagian ahli bagian ini sering juga disebut anti-klimaks.

5)      Denouement atau resolusi merupakan bagian dari cerita yang terdiri atas rentetan kejadian yang mengiringi anti-klimaks dan merupakan kesimpulan cerita. Pada bagian ini semua konflik diselesaikan sehingga mengurangi ketegangan dan kekhawatiran pembaca terhadap masalah yang dihadapi oleh tokoh dalam cerita tersebut. Namun perlu diingat bahwa tidak semua cerita memiliki bagian ini.

6)      Sudut Pandang

Sudut pandang (point of view) adalah elemen yang tidak bisa ditinggalkan dalam membangun cerita pendek. Sudut pandang adalah cara pengarang menempatkan dirinya terhadap cerita, dari sudut mana pengarang memandang ceritanya. Sudut pandangan tokoh ini merupakan visi pengarang yang dijelmakan ke dalam pandangan tokoh-tokoh bercerita. Jadi sudut pandangan ini sangat erat dengan teknik bercerita.

7)      Gaya Bahasa

Setiap penulis memiliki gaya bahasa tersendiri. Jika teman-teman ingin gaya bahasa yang baik dan bagus, maka teman-teman harus mau rajin membaca. Dengan banyak membaca, maka kita akan terbiasa menulis dengan tulisan yang bagus.

Sudut pandang (point of view) adalah elemen yang tidak bisa ditinggalkan dalam membangun cerita pendek. Sudut pandang adalah cara pengarang menempatkan dirinya terhadap cerita, dari sudut mana pengarang memandang ceritanya. Sudut pandangan tokoh ini merupakan visi pengarang yang dijelmakan ke dalam pandangan tokoh-tokoh bercerita. Jadi sudut pandangan ini sangat erat dengan teknik bercerita.

8)      Nilai/Amanat

Adalah pesan atau pelajaran yang disampaikan cerita.

 

2.      Unsur  Ekstrinsik

1)      Latar belakang kehidupan penulis/pengarang cerpen.

Sebuah cerita sangat dipengaruhi oleh latar belakang dari sejarah penulisnya, bagaimana sang penulis menjalani hidup, dan lain – lain.

2)      Latar sosial/ situasi sosial pengarangnya

Latar belakang ini memiliki kaitan dengan tujuan cerpen itu dibuat. Misalnya, seorang pengarang membuat cerpen untuk mengenang sahabatnya yang telah meninggal, untuk didedikasikan pada seseorang, dan lain – lain.

3)      Nilai-nilai yang mempengaruhi karya, seperti budaya, agama, ekonomi, adat-istiadat dan sosial.

4)      Sedikit banyak, kondisi masyarakat pada waktu penulis menuliskan cerita mempengaruhi ceritanya. Seperti pada masa peperangan, maka penulis mengekspresikan perasaannya di waktu tersebut.

Sumber : gurupendidikan.co.id

 

Sesi tanya jawab

Nama || Pertanyaan.

1. Senja || Aku masih kurag paham sama yang namanya tokoh figuran, bisakah dijelaskan secara detail?

Dan satu lagi, apakah dalam sebuah cerpen tokoh figuran diharuskan ada atau nggak ada juga gpp?

Maksih ka sebelumnya🤓

2. KeRe || aku masih kesulitan buat penokohan ka. Apa setiap cerita, harus banget tokohnya punya karakter khas masing-masing? Apa ada aplikasi yang mempermudah buat kita buat kerangka cerita sama buat penokohan gitu?

# Saya jawab pertanyaan yang ada dulu ya.😊

Untuk @SENJAMON😎 1. Tokoh figuran adalah tokoh yang dilibatkan atau dimunculkan untuk mendukung jalan cerita TETAPI tidak memiliki kaitan dengan tokoh utama.

Misal kita mau membuat cerita mengenai “Ikatan Cinta” (Ini yang sekiranya lagi tekenal) 

Kita pakai judul: Andin Ngidam Naik Ojek

Tokoh utama: Aldebaran dan Andin

Antagonis: Elsa

Tritagonis: Mama Aldebaran

Nah, untuk figuran kita misal memakai tukang ojek.

Apakah setiap cerpen harus ada tokoh figuran? TIDAK bergantung pada kebutuhan.

2.Kalau semisal di Flush yang dari tugas kemarin, Tokoh utama si aku, tokoh figurannya satpam. Di sini juga tidak ada tokoh antagonis karena konfliknya ada di dalam diri si aku.

Jadi untuk pemilihan tokoh disesuaikan dengan kebutuhan cerita.

3.WCS75_Catur || Izin bertanya, Kak.

1. Berarti unsur intrinsik hanya tiga, ya, Kak? Tema, Tokoh dan latar.

Apakah unsur ini menjadi bagian dari materi sebelumnya mengenai struktur cerpen (Abstrak, Orientasi, Komplikasi, Evaluasi, Resolusi, Koda)?

Atau berbeda?

2. Tokoh

Berapa banyak maksimal tokoh dalam sebuah cerpen?

Jawab :

1.@CaturDewi-ISOKUYOIKI , struktur cerpen itu membicarakan mengenai alur atau bagaimana cerpen itu dibuat. seperti dimulai dari pembuka hingga penutup, yang di dalamnya harus ada unsur. Jadi semisal cerpen ibarat rumah, tokoh dan konflik di dalam rumah itu masuk ke unsur cerpen, sedangkan bagaimana kita masuk rumah, mau melewati kamar yang mana, itu sduah masuk dai struktur.

2. untuk jumlah tokoh, dalam satu paragraf sebaiknya kita menjelaskan satu tokoh. kalau dalam satu cerita berapa tokohnya, bergantung dari kebutuhan, kalau menceritakan kelas XII IPA 2, ya ndak perlu ditulis semua namanya sebaiknya tulis yang berkaitan saja. kalau maksimalnya berapa? setidaknya dalam satu cerpen 3-5 tokoh itu sudah banyak.

Demikian materi kelas cerpen, semoga bermanfaat.

#BelajarTakMengenalUsia

Gunugkidul, 5 Juni 2021

 

Kamis, 03 Juni 2021

Lebih Baik Menangis Menahan Rindu Untuk Sementara Waktu

 

#Tugas_Kedua

#Kelas_Cerpen

#WCS_70_Atik Suripto

Tema Madrasah

Lebih Baik Menangis Menahan Rindu Untuk Sementara Waktu



"Wahai anak muda, jika engkau tidak sanggup menahan lelahnya belajar, engkau harus menanggung pahitnya kebodohan."

Kulangkahkan kaki dengan pasti di iringi sang mentari satukan tekad demi sang pelangi, dengan balutan kasih sayang yang murni serta sebuah cita mulia untuk bisa berikan mahkota terindah untuk ayah bundaku kelak. Inilah keinginanku cita-citaku selepas aku lulus dari sekolah dasar aku bercita-cita untuk masuk ke sebuah pesantren. Ayah Bunda tak pernah memaksaku, mereka selalu memberikan kebebasan terhadapku dalam menentukan dimana aku harus sekolah. Mereka hanya memberikan gambaran bagaimana jika sekolah di negeri dan sekolah di pesantren. Semua ada kekurangan dan kelebihannya. Bundaku mengatakan bahwa jika belajar di pesantren maka kita akan dapat ilmu dunia dan juga ilmu akhirat. Aku sangat tertarik dengan pesantren.

Pendaftaran di laksanakan sebelum ada pengumuman kelulusan bagi kelas enam Sekolah Dasar. Aku ikuti seleksi masuk pesantren jauh-jauh sebelumnya sebelum pendaftaran sekolah negeri di buka pendaftaran pesantren sudah mulai di buka. Bismilahirrahmanirahiim, dengan tekad semangat untuk cita-citaku akupun ikuti seleksi tersebut. Alhamdulilah akupun lolos seleksi dan di terima di sekolah berbasis pesantren di kotaku.

“ Bund terimakasih atas doanya, aku di terima di sekolah itu”, kataku pada Bunda.

“Iya nak sama-sama, alhamdulilah harapanmu bisa masuk di sekolah itu terkabul, mulai besok kau akan jauh dari Bunda, dan akan belajar mengurusi semua kebutuhanmu sendiri”, jawab Bunda sambil kulihat mata bunda berkaca-kaca.

Tiba saatnya hari dimana aku berangkat pergi ke asrama, segala persiapan sudah rapikan dengan baik. Apa saja keperluanku di asrama aku persiapkan bersama bunda, dia selalu sabar dan berikan bekal nasihat tanpa henti. Aku tau bunda masih belum tega melepasku, namun mengingat keinginanku yang begitu kuat maka bunda pun mengiklaskan kepergianku tuk mencari ilmu.

Bersyukur sekali aku memiliki Bunda yang selalu sabar dan pengertian terhadapku. Aku yang tomboi manja  kini kan belajar untuk melepas semua hal yang selama ini aku rasakan. Sebelumnya apapun kebutuhanku selalu Bunda yang siapkan. Kini mulai saat ini aku harus bertanggung jawab semua atas diriku. Aku harus bisa mengurus diriku sendiri.

Hari pertama aku sampai di asrama dengan di antar Ayah Bunda dan juga adikku. Barang-barang bawaan Bunda antar sampai ke kamar asramaku yang disana sudah tertera namaku. Satu dipan lemari kecil tertulis siap dikamar itu. Ada sepuluh dipan dengan model atas bawah tertata rapi disana. Akupun dengan di bantu Bunda membereskan barang-barang bawaanku dengan memasukkan ke dalam lemari kecil dan juga aku rapikan tempat tidurku.

Waktu berjalan begitu cepat hingga jam menunjukkan pukul 16.00 WIB dan tiba saatya ayah bunda untuk kembali pulang. Hatiku terasa berat untuk melepas mereka. Senja itu aku berlinang air mata, satu sisi aku bahagia bisa masuk sekolah ini namun di sisi lain aku berat untuk jauh bersama keluargaku. Peluk hangat Ayah Bunda, kecup mesra mereka, lambaian tangan mereka menjadi saksi untukku meraih mimpi. Ayah Bunda iklaskan semua mohon doa restu kalian. Biarlah sementara aku menangis karena rindu dari pada kelak aku menangis tak tau bagaimana aku harus berbakti pada kalian.

Gunugkidul, 4 Juni 2021

KEGIATAN KARANG PAMITRAN TINGKAT DAERAH TAHUN 2026

  KEGIATAN KARANG PAMITRAN TINGKAT DAERAH TAHUN 2026 Sabtu, 12 September 2026, kegiatan karang pamitran tingkat ...