Cari Blog Ini

Senin, 25 Maret 2024

Tips Tulisan yang di Lirik Pembaca

Tips Tulisan yang di Lirik Pembaca


Saat ini menulis merupakan sebuah kebutuhan bagi setiap orang. Baik saat kita sekolah atau sampai pada dunia kerja. Kita di tuntut untuk bisa menulis. Baik itu brerupa rencana kerja kita, evaluasi, tindak lanjut dan sebagianya. Sebelum kkita menulis kita harus tahu terlebih dahulu jenis tulisan.

Jenis Tulisan
Tulisan ada dua macam yaitu fiksi dan non fiksi. Apa itu fiksi? Dan apa itu non fiksi.
Tulisan fiksi adalah teks yang dibuat berdasarkan imajinasi penulisnya berupa khayalan, sehingga apa yang dituliskan oleh pengarang merupakan karya tulis yang bersifat imajinatif.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), fiksi artinya cerita rekaan (roman, novel, dan sebagainya) dan tidak berdasarkan kenyataan. Fiksi juga dapat diartikan sebagai pernyataan yang hanya berdasarkan khayalan atau pikiran.

Sementara Teks nonfiksi adalah jenis teks yang ditulis berdasarkan pada kejadian nyata. Teks nonfiksi memiliki tujuan untuk menyampaikan pengetahuan, memaparkan argumen, atau menjelaskan suatu topik tertentu.

https://news.detik.com/berita/d-6819628/perbedaan-teks-fiksi-dan-nonfiksi-pengertian-tujuan-dan-ciri-ciri.

 Setelah mengetahui perbedaan fiksi dan nonfiksi tentu kitab isa mengetahui jenis-jenis karya fiksi dan non fiksi.

Contoh karya fiksi Cerpen, puisi, novel,naskah drama dan juga fabel. Sedangkan contoh karya nonfiksi yaitu karya ilmiah, artikel,  Esai, Ensiklopedia, Buku panduan,  Surat.

Nha bagaimana kita bisa memulai menulis?
Yang perlu kita perhatikan adalah  rumus jurnalistik dasar yaitu 5 W plus 1 H. yaitu : What(apa), Who (siapa), when (kapan), where (dimana), Wha( mengapa) + How (bagaimana)

Lakukan Perencanaan
Rencanakan dan pilihlah kita mau menulis apa, mulailah menulis dengan yang kita kuasai dan kita senangi. Paling sederhana adalah misalnya kita menulis tentang yang kita alami. 
Hal-hal yang perlu diperthatikan agar dapat menulis dengan baik
1. Harus mampu mengalahkan diri-sendiri
2. Harus mampu mengatasi ketidakpercayaan diri
3. Harus menyiapkan waktu untuk menulis
4. Harus mampu memanfaatkan ide yang ada
Agar tulisan yang kita tulis bisa dinikmati pembaca  maka kita  share/ bagikan ke public melalui media online seperti blog, fb dan wa grup atau media cetak lainya. Kalau bisa minta teman kita memberikan komentar agar kitab isa memperbaiki tulisan kita.

Tulisan Yang Menarik bagi pembaca

1. Cari topik yang berangkat dari pengalaman diri sendiri
2. Gunakan gaya Bahasa yang mudah di mengerti
3. Jangan membuat pembaca terlalu bosan 
alur cerita yang jelas dan memiliki tujuan, bukannya yang berputar-putar sampai membosankan. Hindari pula tulisan yang membuat pembaca kesal karena tidak adanya inti cerita yang diharapkan.
4. Buatlah tulisan seperti kamu sedang bercerita dengan seseorang 
5. Hindari gaya penulisan yang menggurui 
Klik untuk baca:
 https://www.idntimes.com/life/inspiration/nur-mar-a-siregar/tips-membuat-tulisan-kamu-lebih-hidup-c1c2.
Bisa kunjungi blog

https://81-atik-blogspot.com

http://www.kompasiana.com/sumarjiyati

Memulai adalah sesuatu yang terbaik. Jangan menunggu sempurna, karena tulisan terbaik adalah tulisan yang selesai. Boleh jadi tulisan kita anggap receh namun ternyata sangat berharga untuk orang lain. Mulailah untuk menulis!
Terimaksih

Gunungkidul, 25 Maret 2024

Kamis, 21 Maret 2024

Balantara Rindu


Lorong Waktu
Oleh: Sumarjiyati

Lorong waktu membawamu pergi
Pergi entah kemana
Lama waktu begitu menyiksa
Menyiksa dari setiap titian jalan yang kulalui

Tak sedikitkah kau merasakan
Merasa betapa rindu ini sangat berat
Berat untuk kita jalani dan terima
Terima dengan tanpa beban

Lalu kenapa kita masih bertahan
Bertahan pada titik yang sama
Sama rasa gejolak jiwa meronta
Meronta hingga diri lupa akan tiba saatnya

Menanti datangnya keajaiban
Keajaiban yang membuat semua terpana
Terpana betapa indahnya rindu yang berujung temu
Temu dalam pohon rindang nan menyejukkan

Gunungkidul, 20 Maret 2024

Dalam Untaian Doa
Oleh: Sumarjiyati

Malam kelam semakin dingin
Kubisikan kata rindu lewat angin
Agar sedikit sesakku berangsur lega
Sosok bayangmu makin menggoda

Menari-nari dalam pelupuk mata
Akupun enggan bicara
Karena kutahu akan bertambh luka
Sakit kurasa semakin menganga

Meski pipiku terlanjur basah
Jiwaku pun berdebat resah
Jemarimu selalu kunanti tuk menyeka
Hadirmu yang selalu kuperjuangkan dalam untaian doa

Gunungkidul, 21 Maret 2024

Rindu Ini Begitu Liar
Oleh : Sumarjiyati

Rindu ini makin dalam
Bagai belantara tak bertepi
Entah sampai kapan akan kembali
Makin hari makin melukai

Rindu ini begitu liar
Tak tau jalan keluar
Detik waktu begitu sangar
Kenapa engkau enggan memudar

Rindu terbentang jarak dan waktu
Berontak hati menjerit pilu
Pada akhirnya lunglai dan lesu
Tundukku pada sang bayu

Catatan lentera terpateri dalam kalbu
Terhalang langit mendung membeku
Menghias jalan rangga nadiku
Rinduku akan kubawa sampi ajal menjemputku

Gunungkidul, 21 Maret 2024

Senin, 18 Maret 2024

Menyongsong Bukber SDN Mulusan

Rapat Guru
Senin, 18 Maret 2024

Pembukaan
Penyampain Program CGP
Sambutan sekaligus arahan Kepala Sekolah
Lain-lain
Penutup
Acara dibuka dengan membaca basmalah
Penyampaian Program guru penggerak (Bp Abdilah Prajaka)
Bapak Jaka menyampaikan program terkait dengan pengelolaan sampah. Bapak jaka menyediakan(Hibah)  tempat sampah botol. Kedepan samaph tersebut bisa dimanfaatkan untuk bahan daur ulang( bisa di buat ecobrik). 
Bapak Jaka juga meminta  doa restu agar diklat CGP yang masih berjalan bisa di laksanakan dan di ikuti saat ini. Semoga lancer dan dapat lolos CGP Angkatan 9. 
Sambutan Bapak kepala Sekolah Bapak Efa Mardidatun, S.Pd.SD. Berhubung bulan Ramadhan beliau menyampaikan sedikit tauziah atau sedikit nasehat sebagai pembuka. Bapak Efa mengingatkan untuk selalu berhati-hati menjaga lisan dan hati. Puasa adalah sarana kita untuk bersabar. Untuk itu mari kita bersabar dalam menghadapi segala ujian hidup. Bapak Efa juga mengingatkan untuk kita selalu berlindung kepada Allah dari godaan syetan. Kita baca dan cermati Q.S surat An-Nas. Dalam surat An-Nas  kita diminta untuk selalu berlindung kepada Alalh Tuhannya manusia. 

Bapak Efa mengingatkan juga agar sebagai guru kita harus berusaha untuk memperhatikan terkait Nasib. Silahkan untuk kesempatan baik saat ini dalam PAK integrasi guru berkesempatan untuk mengusulkan kenaikan pangkat. 

Selanjutnya pembahasan mengenai pesantren kilat dan buka bersama. 
Pelaksanaan pesantren kilat  hari selasa dan rabu tanggal 2-3 April 2024.
Peserta buka bersama kelas 3-6 (78), komite 13, guru 11 magersari, jumlah peserta seluruhnya 102. Mengenai jadwal dan agenda kegiatan menyusul di susun oleh guru Pendidikan SDN Mulusan Paliyan Gunungkidul.
Dalam acara lain-lain di bahas mengenai menu buka bersama tahun 1445H/2024 M.

Demikian hasil rapat guru siang hari ini semoga apa yang menjadi program sekolah dalam hal ini pesantren kilat dapat berjalan dengan lancar dan bisa memberikan manfaat.
Terimakasih, salam sehat salam literasi tetrap semangat untuk menjalankan ibadah puasa. 

Gunungkidul, 18 Maret 2024

Sabtu, 10 Februari 2024

Juli dan Bahunya

Tuhan Kirimkan Seseorang di Saat Hati Kehilangan 

Rifa seorang gadis desa yang cantik dan ramah. Anak dari seorang yang disegani di kampungnya. Aktif di kegiatan karang taruna dan juga organisasi lainya. Setelah lulus kuliah jurusan keguruan ia mengabdikan dirinya di sekolah dasar di kampungnya. Memang gaji tak seberapa namun karena cintanya terhadap dunia anak-anak dan juga keinginan orang tuanya agar Rifa tetap tinggal di desa bersamai orang tuanya maka Rifa pun menikmati harinya. 

Orang-orang di kampunnya memandang Rifa sebagai gadis yang anggun, cerdas, ramah dan juga suka membantu. Rifa membuat orang-orang di kampungnya kagum. Muda tua anak-anak kecil semua suka padanya. Orang tua Rifa berharap kelak Rifa memiliki seorang suami yang mapan dan mampu membahagiakan Rifa.
Saat santai di sore hari  di teras rumahnya bersama   Ayah dan Ibunya Rifa bercerita tentang kegiatanya seharian yang berhasil membawa peserta didiknya maju lomba ke tingkat kabupaten. Ayah ibunya sangat bangga pada Rifa. Mereka mengingatkan pada Rifa agar memikirkan tentang masa depanya dimana nanti berkeluarga dan segala persiapannya.

“Selamat Rifa kamu telah berhasil membawa anak didikmu menang dalam event lomba itu, karena memang kamu telah persiapkan dengan baik jauh-jauh hari sebelumnya.” Ucap ayah Rifa begitu bangga terhadap anak gadisnya.
“ Iya Ayah, terimakasih.” Balas Rifa dengan senyum mengembang pada wajahnya.
“ Ayah ibu berharap kamu juga memikirkan masa depanmu untuk hal rumah tangga, Nak .” Kamu satu-satunya anak perempuan ayah. Ayah harap kamu tak megecewakan ayah.” Harap ayah Rifa. 
“Iya Ayah, Rifa berusaha ya, doakan Rifa selalu.” Rifa begitu yakin akan seseorang yang ia harapkan.

Perbicangan berlanjut sampai senja hampir tak lagi kelihatan. Pisang goreng hangat yang di sajikan Ibu Rifa tak terasa tinggal 2 potong saja. Mereka segera beranjak untuk persiapkan diri tunaikan salat maghrib.
Gadis seusia Rifa sudah saatnya untuk berumah tangga. Jujur saja Rifa sangat berhati-hati untuk memilih seseorang untuk di jadikannya seorang teman dekat. Pengalaman saat SMAnya membuat ia tak lagi ingin merasakan kecewa. Juga karena Rifa sudah mengukir sebuah nama di hatinya yang sangat ia harapkan. Hanya saja semesta belum  pertemukan setelah sekian lama terpisah karena kehilangan kontak saat kelulusan masa biru putih.

Memang orang mengatakan itu cinta monyet namun bagi Rifa masa itulah  ia bisa merasakan sebuah rasa yang buatnya tak mudah tuk dilupakan. Pernah sekali ia berusah menerima yang lain di bangku SMA namun kekecewaanlah yang ia dapatkan.
“Sudahlah Fa, kamu jangan banyak berharap dan menunggu orang yang  sama sekali  ga  jelas keberadaanya.” Bujuk Mirna sahabat terdekat Rifa.
“Ga Mir, aku sangat yakin aku bisa bertemu dengannya,” bantah Rifa.
“Hemmmmm mau sampai kapan Rifa? Sampai kapan? Sampai rambut kamu memutih dan kamu biarkan Bagas jadi milik orang lain. 
Bagas adalah ketua karang taruna yang ingin jadi kekasih Rifa, namun Rifa tak bisa menerimanya. Bukan karena Bagas tak ganteng atau pun pintar. Bukan itu yang menjadi ukuran Rifa menerima seorang cowok. Bagi Rifa Bagas telah di anggapnya sebagai seorang Kakak yang selalu bisa membantu setiap masalah yang Rifa hadapi. 
***
Hari berlalu bulan pun berganti, Rifa tetap menikmati kesendiriannya. Walau orang-orang melihat Rifa selala ceria dalam jalani kehidupannya, namun di balik itu Rifa sering menangis pilu satu sisi ia inginkan segera dapat membahagiaakan orang tuanya dengan segera menikah namun di sisi lain dia kekeh tetap menunggu seseorang yang ia harapkan. Rifa selalu berusaha perbaiki diri agar ia juga di satukan orang yang terbaik untuk dirinya. Keyakinan Rifa mengalahkan segalanya tak satupun pria yang datang kepadanya ia terima. Dalam hatinya tak tega namun apa hendak di kata jika ia terima tentu hanya akan membuat luka.
Rifa menarik nafas panjang dan membuangnya pelan. Seraya melihat pemandangan hijau yang ada di samping rumahnya. Dari sana ia juga dapat menikmati senja yang selalu membuatnya betah berlama-lama duduk di dekat candela kamarnya. Baginya dengan bisa melihat pemandangan indah dari sana ia bisa menemukan bayangan seseorang yang sudah bersemayam dalam hatinya. 
Derrrt, deeert tiba-tiba ponsel yang berada di meja kecil kamarnya bergetar. Rifa pun segera meraihnya. Ada panggilan masuk tanpa nama disana.
[ haloo, selamat sore, dengan Mb Rifa disini?]
[halo selamat sore, iya saya sendiri, ada apa ya]
[Saya Erwan Mbak dari kepolisan]
[Deeg hati Rifa bergetar. Ada apa ya, Pak]
[ Maaf Mb Rifa, Ayah anda mengalami kecelakaan dan sekarang ada di rumah sakit]
Tanpa berpikir panjang Rifa pun segera berlalu pergi ke rumah sakit, ia menangis hatinya di liputi sejuta tanya. Bagaimana keadaan Ayah Ibunya. Beberapa menit setelah keberangkatan orang tuanya Rifa sempat menerima call dari Ibunya untuk berpesan selama Ayah Ibu pergi ketempat nenek di luar kota jangan lupa Rifa untuk jaga diri baik-baik tak boleh lupa makan dan istrahat juga tak boleh lupa untuk mengunci rumah saat Rifa  akan istirahat.
Dalam perjalanan tak henti-hentinya Rifa berdoa memohon pada Tuhan agar Ayah dan Ibunya selamat. 

Sampailah Rifa di sebuah rumah sakit di pusat ibu kota Kabupaten. Segera ia menuju ruang IGD. Menemui Suster yang ada disana dan menanyakan kurban kecelakan yang baru saja terjadi. Seorang Suster mengantarkan Rifa ke suatu kamar dimana Ayah dan Ibunya terbaring disana. 
“Mbak, Mbak tenang ya, Mbak, yang sabar” ucap suster cantik yang mengantar Rifa pada ayah ibunya.
“Iya suster cepat antar saya ke Ayah saya,” Rifa tak sabar ingin segera melihat keadaan Ayahnya.
Perasaan Rifa Sudah tak menentu, air mata berderai tak henti-hentinya.
Di kamar ruang IGD itu Rifa jumpai Ibunya yang terbaring lemah dengan alat oksigen juga peralatan lain menempel pada tubuhnya, Ibu Rifa belum sadarkan diri. 
“Ibuuuu”, teriak Rifa. Seketika Rifa memeluk ibunya yang terbaring lemah tak kuasa ia menahan segala rasa yang sedari tadi berkecamuk dalam dadanya.
Suster berusaha menenangkan Rifa. Namun seperti Rifa tak bisa kendalikan emosinya. Suster membiarkan Rifa menangis. Setelah beberapa saat Suster baru mengatakan keadaan yang di alami ibunya. Betapa sesak yang Rifa rasakan, belum selesai Suster menjelaskan kondisi Ibunya, Rifa segera menanyakan keadaan Ayahnya. 
“Ayah dimana Suster? dengan mata masih sembab karena air mata yang keluar terlalu banyak. Rifa bangkit dari dduduknya.
“Ayah  Mbak…. “, suara Suster terhenti membuat Rifa makin penasaran apa yang akan di katakana Suster.
‘Ayaah kenapa Suster, Ayah dimana? Pertanyaan Rifa bertubi-tubi hingga membuat Suster tak bisa menjawabnya.
“Ayah Mbak telah meninggal,” Dengan berat Suster mengatakan pada Rifa kenyataan yang sebenarnya.
“Ayaaaaah … .” Teriakan Rifa membuat semua orang yang ada di ruang IGD kaget dan semua mata tertuju padanya. Rifa tak kuasa menahan semua rasa, dunia seperti berhenti berputar pandangan Rifa gelap, sesak didada makin terasa. Rifa tak sadarkan diri.
Remang-remang Rifa mulai membuka matanya, dan ia tersadar. Rifa berada di pangkuan sahabatnya Mirna. Mirna mendengar kabar orang tua Rifa kecelakaan dari tetangganya dimana rumahnya dekat dengan tempat terjadinya kecelakan yang menimpa orang tua Rifa. 
“Sabar ya, Fa, kamu harus kuat.” Hibur Mirna sahabat Rifa.
Rifa tak kuasa menahan tangisnya untuk yang kesekian kalinya. Ia memeluk Mirna erat dan menangis sejadi-jadinya. Mirna sudah di anggap seperti saudara sendiri. Dua saudara laki-laki Rifa yang berada di kota lain membuat Rifa merasa Mirnalah sebagai sahabat terdekatnya yang selalu bisa membantu dan menemani Rifa saat senang maupun susah. Mirnalah orang yang pertama yang akan tau keadaan Rifa.
“Sudah lah Fa, ayo bangkit dan kita doakan Ayah ya , ini sudah jalan yang di takdirkan Tuhan untuk Ayah dan kita berdoa semoga ibu segera sadar serta sehat seperti dulu,” jika kau hanya menangis terus siapa yang akan mendoakan ayah dan ibu.” Nasehat Mirna yang selalu mampu buat Rifa lebih tenang. 
“Terimkasih ya, Mir, kamu selalu menemaniku, iya benar Mir aku harus kuat.” Rifa beranjak dan kembali berjalan menuju ruang dimana Ayah Rifa berada.
“Kuatkan dirimu ya, Fa.” Kakak kamu sudah aku kabari tentang kejadian ini, dia sedang berkemas dan akan segera pulang.”
“Iya Mir, terimaksih,” jawab Rifa.
Mirna tak mau biarkan sahabatnya berjalan dengan lemah. Dengan penuh perhatian ia gandeng Rifa. Mirna mampu menguatkan Rifa setelah kabar duka yang ia terima.
Rifa lihat tubuh Ayah telah terbaring kaku disana. Mirna hanya mmapu memandangi tubuh  Ayah dengan deraian air mata. Jika saja Mirna taka da disana entah bagaimana keadaan Rifa, tak ada yang menguatkan. Ingatan Rifa Kembali ketika Rifa berbincang pada saat senja di temani pisang goreng buatan ibu. Ayah dan Ibu ingin Rifa segera menikah. 
“Maafin Rifa Ayaah, Rifa belum bisa bahagiaakan Ayah, “ sesal Rifa. Tak kuasa Rifa menahan sesak didada. 
“Sabar ya, Fa. Iklaskan Ayah.
Rifa berjanji akan menemukan sosok yang selama ia nanti, ia akan tunjukkan pada Ayah bahwa pilihannya memang benar-benar bisa bahagiakan Rifa.
Setelah keadaan membaik, Mirna di temani  sanak saudara Rifa yang datang ke rumah sakit segera menyelesaikan admintrasi dan mengurus kepulangan jenazah Ayahnya untuk segera di adakan pemakaman jenazah sore itu juga. Sementara Ibu Rifa harus tetap di rawat di rumah sakit. Betapa hancur perasaan Rifa. Namun Rifa tak bisa salahkan takdir. Rifa harus kuat, tak bisa bayangkan bagaimana Rifa untuk jalani kehidupannya tanpa seorang Ayah. Kehidupan harus tetap berjalan. Allah tak akan berikan beban dimana hambanya tak sanggup menerimnya. Rifa pasrah pada sang pemilik jiwa sebaik-baik penolong.
***
Tiga bulan berlalu dari kecelakaan yang merenggut nyawa Ayah Rifa. Sedangkan Ibu Rifa dapat sembuh namun dengan keadaan yang beda. Ibu tak lagi bisa berjalan karena kaki sebelah kanan harus di amputasi. Rifa hanya hidup bersama Ibunya setelah Rifa mengerjakn tugas-tugasnya sebagi guru ia hanya fokus untuk merawat dan menemani Ibunya.Ia tak aktif lagi seperti dulu. Ia lebih banyak menyendiri. 

Suatu ketika saat Rifa belanja kepasar dan tanpa sengaja ia berpapasan dengan seseorang yang selama ini menghantui pikirannya. Entah berapa tahun mereka tak bertemu namun Rifa maupun Aldi masih saling mengenal wajah mereka.
“Rifa, ini Rifa ya,” sapa Aldi.
“Iya, saya Rifa.” Apa kabar Al? Jawab dan juga pertanyaan Rifa pada Aldi.
Entah apa yang buat Rifa seperti menemukan sosok cahaya yang mampu terangi hatinya yang berkabut.
Berpincangan berlanjut setelah mereka menanyakan kabar masing-masing dan keduanya saling menyimpan nomor handphone.
Hubungan mereka berjalan dengan baik dan Rifa benar-benar di buatnya semangat. Rifa menegetahui hal sebenarnya tentang perasaan Aldi yang ternyata juga masih menyimpan rasa yang dulu ada. Seperti Allah telah mengatur semuanya hingga akhirnya Aldi memberanikan diri untuk melamar Rifa. Rifa menerimanya dengan sejuta rasa.
Mirna sahabat Rifa ikut berbahagia. Selang berapa hari Mirna pun di lamar Bagas ketua karang taruna yang ada di kampungya. Mirna dan Bagas pasangan yang serasi. Rifa sangat bahagia akhirnya Bagas bisa menemukan seseorang yang begitu tulus mencintainya. Kebahagiaan itu sempurna tatkala seseorang yang menjadi pilihan Bagas adalah sahabatnya sendiri. Lengkap sudah kebahgiaan Rifa karena memang keduanya sudah Rifa anggap sebagai saudara Rifa. 
Saat langit mulai tujukkan warna jingganya. Rifa di temani Aldi datang ke pusaran Ayahnya. Rifa seperti ingin sampaikan bahwa esok Rifa akan menjadi milik Aldi seutuhnya.
“ Ayah, Rifa datang Ayah, aku membawa Aldi, orang yang Rifa tunggu selama ini Yah. Ayah tenang dan bahagia disana ya, Yah.” Tak terasa butiran hangat menetes di pipi Rifa. Aldi yang mengetahui hal itu segera beri kekuatan untuk Rifa. Aldi hapus air mata Rifa.
“Sudah Fa jangan nangis kasihan ayah  disana, dia tak ingin melihatmu menangis, ia bahagia jika melihatmu tersenyum, ayolah tersenyum.” Sembari memegang tangan Rifa dan menatap dengan penuh sayang.
“Pak, ijinkan aku untuk menjaga dan mebahagiaakan putri Bapak, aku janji tak akan biarkan air matanya menetes lagi, aku akan bahagiakan ia Pak. Maafkan aku yang datang terlambat untuk menjaganya.” Ucap Aldi di atas pusaran Ayah Rifa.
Hari yang telah di tentukan pun tiba saatnya Rifa dan Aldi di persatukan dengan ikatan suci. Rifa memasuki bahtera rumah tangga dengan orang pilihanya. Kini ada bahu yang siap menopang Rifa saat Rifa lemah tak berdaya. Tak kan berakhir dengan sia-sia kesabaran dan ketulusan . Pasti akan membawa pada kisah indah yang sempurna. Allah akan memberikan apa yang kita minta pada saat yang tepat. Bersabarlah dari setiap hal yang menimpa diri. Semua akan indah pada waktunya.

#ProyekCerpenNubala

KEGIATAN KARANG PAMITRAN TINGKAT DAERAH TAHUN 2026

  KEGIATAN KARANG PAMITRAN TINGKAT DAERAH TAHUN 2026 Sabtu, 12 September 2026, kegiatan karang pamitran tingkat ...